Tugas IBD
0
komentar
Arif Hendra Gunawan
-
Upacara Bekakak
Sebagai pusat kerajaan-kerajaan
besar terdahulu, pulau Jawa khususnya kota Yogyakarta / Jogja memiliki kesenian
khas dan kebudayaan yang tinggi, bahkan merupakan pusat serta sumber kesenian
di Indonesia. Salah satu budaya yang sekarang masih ada dan diperingati setian
tahunnya adalah upacara Bekakak. Pada bulan Safar Masyarakat Desa
Ambarketawang, Gamping, Sleman, Yogyakarta, melaksanakan berbagai ritual atau
upacara adat. Ritual tersebut biasa dikenal dengan nama Saparan Bekakak. Nama
Saparan diambil dari nama bulan Safar yang biasa dilafalkan oleh masyarakat
Jawa menjadi bulan Sapar. Nama Bekakak sendiri karena dalam peelengkapan
upacara ini terdapat sepasang pengantin bekakak.
Upacara adat ini sudah berlangsung sejak masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono I, tepatnya antara tahun 1755 hingga 1792. Ritual ini digelar sebagai bentuk permohonan keselamatan warga Gamping. Tradisi yang sudah berumur hampir seusia Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ini bermula dari kisah sepasang pengantin yang meninggal di Gunung Gamping. Bekakak berati korban penyembelihan manusia atau hewan. hanya saja, bekakak yang disembelih zaman sekarang hanya tepung ketan yang dibentuk seperti pengantin laki-laki dan perempuan yang sedang duduk bersilah. Sebelum diarak untuk disembelih, pada malam sebelumnya diadakan upacara midodareni layaknya pengantin sejati. Menurut kepercayaan masyarakat, pada malam menjelang perkimpoian, para bidadari turun ke bumi untuk memberi restu. Orang-orang begadang suntuk demi menyambut kedatangan para bidadari tersebut. Upacara ini dilakukan untuk menghormati awah Kyai dan Nyai Wirasuta yang menjadi abdi dalem Penangsang HB I, bertugas membawa payung kebesaran Pakubuwono I. Oleh masyarakat sekitar, mereka dianggap sebagai cikal bakal penduduk Gamping. Upacara dimulai dengan kirab sepasang boneka pengantin Bekakak yang terbuat dari ketan dan cairan gula merah.
Nantinya, pengantin bekakak akan diarak menuju Gunung Gamping dan Gunung Kiling. Sebelum arak-arakan dimulai, akan terlebih dahulu digelar pementasan fragmen "Prasetyaning Sang Abdi" yang menceritakan tentang kisah Ki Wirosuto. Setelah pementasan fragmen selesai, baru arak-arakan dimulai diikuti tiga buah joli yang berisi sesajen. Keunikan lain akan muncul saat upacara ini berlangsung. Di tengah-tengah ritual, biasanya akan muncul sekelompok anak yang berperan sebagai anak genderuwo. Anak-anak ini berjumlah 50-an anak dan didampingi sepasang genderuwo. Mereka bertugas mengawal pengantin bekakak.
Upacara adat ini sudah berlangsung sejak masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono I, tepatnya antara tahun 1755 hingga 1792. Ritual ini digelar sebagai bentuk permohonan keselamatan warga Gamping. Tradisi yang sudah berumur hampir seusia Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ini bermula dari kisah sepasang pengantin yang meninggal di Gunung Gamping. Bekakak berati korban penyembelihan manusia atau hewan. hanya saja, bekakak yang disembelih zaman sekarang hanya tepung ketan yang dibentuk seperti pengantin laki-laki dan perempuan yang sedang duduk bersilah. Sebelum diarak untuk disembelih, pada malam sebelumnya diadakan upacara midodareni layaknya pengantin sejati. Menurut kepercayaan masyarakat, pada malam menjelang perkimpoian, para bidadari turun ke bumi untuk memberi restu. Orang-orang begadang suntuk demi menyambut kedatangan para bidadari tersebut. Upacara ini dilakukan untuk menghormati awah Kyai dan Nyai Wirasuta yang menjadi abdi dalem Penangsang HB I, bertugas membawa payung kebesaran Pakubuwono I. Oleh masyarakat sekitar, mereka dianggap sebagai cikal bakal penduduk Gamping. Upacara dimulai dengan kirab sepasang boneka pengantin Bekakak yang terbuat dari ketan dan cairan gula merah.
Nantinya, pengantin bekakak akan diarak menuju Gunung Gamping dan Gunung Kiling. Sebelum arak-arakan dimulai, akan terlebih dahulu digelar pementasan fragmen "Prasetyaning Sang Abdi" yang menceritakan tentang kisah Ki Wirosuto. Setelah pementasan fragmen selesai, baru arak-arakan dimulai diikuti tiga buah joli yang berisi sesajen. Keunikan lain akan muncul saat upacara ini berlangsung. Di tengah-tengah ritual, biasanya akan muncul sekelompok anak yang berperan sebagai anak genderuwo. Anak-anak ini berjumlah 50-an anak dan didampingi sepasang genderuwo. Mereka bertugas mengawal pengantin bekakak.



Upacara
Gerebeg
Gerebeg atau grebeg mempunyai arti "suara angin".
Garebeg merupakan salah satu adat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang untuk
pertama kalinya diselenggarakan oleh Sultan Hamengku Buwana I. Upacara kerajaan
ini melibatkan seluruh Kraton, segenap aparat kerajaan serta melibatkan seluruh
lapisan masyarakat. Secara formal, garebeg bersifat keagamaan yang dikaitkan
dengan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW serta kedua hari raya Islam (Idul Fitri
dan Idhul Adha).
Garebeg secara politik juga
menjabarkan gelar Sultan yang bersifat kemuslimatan (Ngabdurrahman Sayidin
Panotogomo Kalifatullah). Selama satu tahun terdapat tiga kali upacara
garebeg yaitu Garebeg Mulud, Garebeg Besar, dan Garebeg Sawal yang
diselenggarakan di kompleks Kraton dan lingkungan sekitarnya, seperti di
Alun-alun Utara.
Garebeg Mulud diselenggarakan untuk
memperingati hari kelahiran (maulid) Nabi Muhammad SAW yang jatuh tepat
pada tanggal 12 Rabiulawal. Bulan Rabiulawal disebut juga bulan Mulud dalam
kalender Jawa-Islam. Itulah sebabnya garebeg yang diselenggarakan untuk
memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, disebut Garebeg Mulud.
Sebenarnya tanggal 12 Rabiulawal mempunyai dua arti penting dalam riwayat hidup
Sang Nabi, karena diyakini oleh umat Islam bahwa Nabi Muhammad SAW lahir dan
wafat pada tanggal dan bulan yang sama.
Tradisi memperingati hari lahir Sang
Nabi ini baru tumbuh setelah agama Islam berkembang luas ke negara-negara lain
di luar jazirah Arab. Hari lahir Nabi Muhammad SAW bukanlah hari raya resmi
Islam, sebab Islam hanya mengenal dua hari raya, yaitu Idul Fitri dan Idul
Adha. Perayaan hari lahir Nabi Muhammad SAW sebagai upacara kerajaan ini
dipelopori oleh Kesultanan Demak, dari zaman ke zaman dilestarikan oleh para
raja Jawa yang kemudian dikenal sangat populer sebagai Garebeg Mulud.
Sebelum Garebeg Mulud
diselenggarakan, terdapat beberapa kegiatan adat yang dilaksanakan dalam
lingkungan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, yaitu:
- Upacara Gladi Resik untuk kesiapan prajurit Kraton oleh Bupati Nayoko Kawedanan Ageng Prajurit,
- Upacara Numplak Wajik sebagai tanda permulaan pembuatan gunungan,
- Upacara Miyosipun Hajad Dalem sebagai puncak upacara dengan mengiring keluarnya Hajad Dalem yang berujud gunungan dari dalam Kraton ke Masjid Besar oleh Kyai Pengulu Kraton.
- Upacara Gladi Resik untuk kesiapan prajurit Kraton oleh Bupati Nayoko Kawedanan Ageng Prajurit,
- Upacara Numplak Wajik sebagai tanda permulaan pembuatan gunungan,
- Upacara Miyosipun Hajad Dalem sebagai puncak upacara dengan mengiring keluarnya Hajad Dalem yang berujud gunungan dari dalam Kraton ke Masjid Besar oleh Kyai Pengulu Kraton.
Selain Garebeg Mulud, Kraton
Ngayogyakarta Hadiningrat juga menyelenggarakan Garebeg Mulud Dal yang terjadi
setiap satu windu sekali, dan dilaksanakan secara istimewa dengan penuh
kemegahan, serta lebih banyak mengungkapkan unsur-unsur kebudayaan lama
identitas raja, kerajaan Jawa.
Dalam Garebeg Mulud Dal, Sultan
hadir di Masjid Besar di tengah publik dengan memperlihatkan tradisi Kejawen
yang penuh dengan unsur-unsur kebudayaan Jawa Kuno, berbagai macam pusaka
Kraton yang sangat keramat sebagai pernyataan tradisional bahwa sultan dan
Kasultanan Yogyakarta adalah ahli waris sah dari para raja dan kerajaan Jawa
terdahulu. Juga menyatakan sikap tradisional sultan sebagai wakil dari suku
bangsanya dalam memuliakan para leluhur.
Kehadiran Sultan di Masjid Besar
ditujukan juga untuk melakukan kegiatan religius Islam yakni menendang tumpukan
batu-bata yang ditempatkan di pintu terbuka di pagar tembok bagian selatan
Masjid Besar. Hal ini merupakan tindakan simbolik yang melambangkan rakyat pada
zaman Kasultanan Demak secara resmi telah meninggalkan agama HinduĂŻ¿½Budha
untuk memeluk agama Islam. Upacara ini dilakukan hanya setiap delapan tahun
sekali atau sekali dalam sewindu.
Gunungan Mulud Dal disebut sebagai
Gunungan Kutug atau Gunungan Bromo. Di bagian puncak, diberi lubang untuk
menampakkan sebuah anglo berisi bara yang membakar segumpal besar kemenyan,
sehingga secara terus menerus mengepulkan asap tebal jika dihembus angin.
Pajangannya berupa beraneka macam kue berwarna-warni hampir sama dengan
pajangan Gunungan Lanang, bervariasi dengan Gunungan Wadon. Di bagian bawah,
beralaskan kain banung tulak dan diletakkan tegak di atas sebuah nampan
raksasa berkerangka kayu berukuran 2 x 1,5 m.

Upacara Cembengan
Cembengan sendiri berasal
dari kata Ching Bing (Cheng Beng) yaitu ritual khas tionghoa untuk mendoakan
roh nenek moyang. Istilah ini dikenalkan oleh para kuli yang bekerja pada
pabrik gula milik pemerintah Hindia Belanda. Kuli adalah kata yang berasal dari
bahasa mandarin yang mempunyai arti pekerja kasar, dimana waktu itu banyak
didatangkan pekerja-pekerja kasar dari Negeri Cina untuk bekerja di berbagai
perkebunan milik Belanda. Para pekerja itulah yang pertama kali mebawa tradisi
Ching Bing, sebagai ritual diawal musim giling tebu. Perayaan Cembengan dengan
nuansa jawa mulai dikenal ketika kaum ningrat masuk ke bisnis gula, salah
satunya adalah Mangkunegara ke IV yang banyak mempunyai Pabrik Gula di
sekitar Jawa Tengah di era tahun 1800an.
Wayangan di dalam
stasiun giling pabrik gula
Pada perayaan Cembengan
di Pabrik Gula Mojo, juga di awali dengan ziarah dan mendoakan para leluhur
yaitu Mbah Paleh dan mbah
Krandah yang
merupakanpengikut Kyai Adipati
Djayengrana dari daerah Jawa Timur. Ritual
doa yang menggunakan simbolisasi aneka sesaji dan prosesi mantenan tebu
dilanjutkan dengan kemeriahan pesta rakyat di halaman Pabrik Gula Mojo.
Aneka wahana permainan
anak khas pasar malam digelar diantara pipa-pipa yang menyuplai air ke dalam
pabrik. Permainan seperti "Ombak Banyu, Kereta Kelinci, Tong Setan, Rumah
Hantu dan Kereta Mini, ramai dikunjungi oleh anak-anak kecil. Ruas jalan di
depan pabrik dipenuhi oleh stand pedagang yang menjual aneka barang seperti
mainan anak, baju, barang kerajinan, serta berbagai macam makanan dan minuman.
Di depan kantor pabrik gula, digelar seremoni pembukaan yang dibuka dengan Tari
Gambyong, hiburan Campursari dan Dagelan Kethoprak. Sementara itu di area dalam
pabrik gula yang dipakai sebagai stasiun giling tebu, digelar wayang kulit
dengan Lakon Sri Mulih. Lakon Sri Mulih adalah cerita diluar pakem asli
Mahabarata yang dipentaskan khusus untuk upacara mohon keselamatan atau
syukuran. Kisah ini menceritakan tentang kedatangan Dewi Sri, sebagai icon
simbol kesuburan dan hasil panen yang melimpah yang mengalah ancaman dari berbagai
malapetaka.
Aneka permainan di
pasar malam perayaan Cembengan
Perayaan Cembengan
mempunyai makna dasar sebagai bentuk permohonan akan kelancaraan saat
dimulainya proses penggilingan tebu dan ucapan syukur atas melimpahnya panen
tebu yang membawa dampak pada kesejahteraan masyarakat. Pesta rakyat yang
digelar di sekitar pabrik Gula selama perayaan Cembengan, adalah upaya untuk
lebih mempererat hubungan antara Pabrik Gula dengan Masyarakat yang tinggal
disekitarnya. Walaupun tidak semua warga sekitar mencari nafkah di pabrik gula
atau perkebunannya, dengan pesta rakyat tersebut diharapkan bahwa berkah dari
adanya pabrik gula bisa dirasakan oleh masyarakat secara lebih luas. Bisa
dikatakan bahwa pesta rakyat cembengan sebagai program kehumasan yang sangat
cerdas, yang lahir dari leluhur-leluhur terdahulu. Tidak cuma hiburan, ada
aktivitas ekonomi yang berdampak signifikan dalam perayaan Cembengan ini. Para
pengusaha gula dari masa-masa terdahulu, telah memberikan warisan sebuah
pelajaran penting dimana kehadiran sebuah pabrik gula haruslah tidak hanya
berbuah manis bagi pemilik dan karyawannya, tetapi manisnya bisa dirasakan oleh
masyarakat umum disekitarnya. Salam
Kratonpedia.
Upacara adat Cing Cing Goling
Di Indonesia banyak ritual budaya yang
ditujukan untuk wujud rasa syukur terhadap apa yang sudah diberikan Tuhan pada
hamba-Nya dan ritual budaya itu pun lahir dari nilai-nilai, tradisi, dan maupun
norma dari masyaratnya sendiri. Salah satu ritual budaya ini yang sampai kini
masih di laksanakan dan di perhatakan adalah ritual upacara Cing-Cing Goling
yang ada di Dusun Gedangan, Desa Gedangrejo, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten
Gunungkidul atau 8 km di sebelah timur dari Kota Wonosari.
Konon awal mula upacara Cing-cing Goling yang
merupakan ungkapan rasa syukur atas hasil panen dari masyarakat setempat dan
para pelarian dari Kerajaan Majapahit, ketika Kerajaan Majapahit berada di
ambang keruntuhan pada abad ke-15. Kala itu Kerajaan Majapahit diperintah oleh
Raja Brawijaya V. Para pelarian yang dipimpin oleh Wisang Sanjaya dan Yudopati
ini, menempuh perjalanan dari Jawa Timur hingga tiba di daerah yang kini
dikenal dengan nama Dusun Gedangan, Desa Gedangrejo, Kecamatan Karangmojo,
Kabupaten Gunungkidul.
Di daerah inilah Wisang Sanjaya, Yudopati,
dan pelarian lainnya mencoba membaur dengan penduduk sekitar yang tinggal lebih
dulu. Warga setempat pun menerima mereka karena sikap mereka yang dikenal
ringan tangan dan mudah bergaul. Apalagi masyarakat setempat menganggap para
pelarian ini telah berjasa besar dalam membantu mengamankan daerah Gedangan
dari serbuan para penjahat yang kala itu sering datang dan mengincar hasil
panen para penduduk.Disisi lain, para pelarian dari Kerajaan Majapahit ini pun
berusaha memajukan pertanian dengan cara membuat bendungan di Kali Dawe.
Bergotong royong bersama masyarakat setempat, para pelarian ini membuat
bendungan dan diberi nama bendungan Kali Dawe atau Bendungan Kedung Dawang agar
sawah di sekitar daerah Gedangan tidak kekurangan pasokan air.Usaha ini pun
membuahkan hasil, sawah-sawah milik para penduduk Gedangan tidak pernah
mengalami kekeringan.Setelah Bendungan Dawe selesai dibuat dan berfungsi untuk
mengairi sawah serta tiba masa panen, para pelarian dan masyarakat setempat pun
menggelar upacara selamatan sebagai perwujudan rasa syukur atas panen yang
mereka peroleh sekaligus memohon berkah untuk panen di masa yang akan datang.
Upacara selamatan inilah yang kini dikenal dengan nama Upacara Cing-cing
Goling.
Upacara Cing-cing Goling sejatinya
sebuah upacara adat sebagai ritual penghormatan terhadap roh leluhur ataupun
roh pelindung masyarakat di Dusun Gedangan, Desa Gedangrejo, Kecamatan
Karangmojo. Ritual ini selalu dilaksanakan di saat setelah panen ke-2, yakni
sekitar bulan Mei, Juni, dan Juli serta dilaksanakan berdasar hari dalam
pasaran Jawa, yaitu hari Senin Wage atau Kamis Kliwon.
Ritual ini berlangsung di Bendungan
Dawe. Di tengah-tengah upacara tersebut selalu disajikan pertunjukan tari yang
bernama Tari Cing-cing Goling.Tradisi budaya ini pada dasarnya perpaduan antara
unsur Hindu yang dibawa oleh pelarian Kerajaan Majapahit dan unsur kejawen dari
masyarakat lokal yang mendiami wilayah yang kini dikenal dengan nama Dusun
Gedangan.
Dengan perpaduan antar dua
kebudayaan ini terjalin harmonisasi kebudayaan yang sarat dengan filosofi
perwujudan rasa syukur dengan wujud perayaan selamatan bersama lewat Upacara
Cing-cing Goling.
Prosesi ritual budaya ini hampir
sama dengan prosesi ritual budaya perwujudan rasa syukur di beberapa daerah di
Jawa, seperti terdapat berbagai sesaji, dan yang unik adalah adanya pementasan
berbagai kesenian adat berupa cerita rakyat dalam bentuk fragmen yang berkisah
tentang cerita pelarian orang-orang dari Kerajaan Majapahit yang salah satu
alur ceritanya adalah menginjak-injak tanaman pertanian yang terdapat di
sekitar bendungan. Hal ini dipercaya oleh masyarakat setempat, bahwa tanaman
yang diinjak-injak saat berlangsung Upacara Cing-cing Goling itu akan bertambah
subur, serta pementasan Tari Cing-cing Goling. Dan ditutup dengan pembacaan doa
oleh pemangku adat untuk keselamatan seluruh penduduk dan kesejahteraan para
petani, ratusan ayam, lauk pauk, dan nasi dibagikan kepada para pengunjung dan
masyarakat sekitar yang tinggal di dekat Bendungan Dawe.Satu hal yang unik
adalah dalam hal sesaji ayam, yakni kemasannya berbentuk œtas yang terbuat dari
janur untuk wadah ayamnya. Kemasan dari janur sebenarnya sudah langka untuk
kita temukan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat di Gunungkidul

Upacara Nyadran Agung
Nyadran berasal dari kata sodrun
yang artinya dada atau hati yang mengandung makna bahwa masyarakat membersihkan
hati mereka menjelang datangnya bulan Ramadhan. Makna lain dari yadran, yaitu sadran
yang berasal dari kata sudra. Sehingga nyadran berarti menjadi sudra atau
berkumpul dengan orang-orang awam. Ini mencerminkan nilai-nilai bahwa pada
hakekatnya manusia adalah sama.
Nyadran Agung merupakan salah satu
tradisi masyarakat Kulon Progo untuk menyambut datangnya bulan Ramdhan. Ritual
ini dilaksanakan pada bulan sya`ban menurut penanggalan Islam bertepatan dengan
bulan rowan dalam penanggalan Jawa. Masyarakat berkumpul di alun-alun sebagai
ruang publik dengan membawa makanan, hal ini bertujuan untuk mempererat relasi
mereka serta sebagai bentuk kearifan lokal dalam melawan budaya individualis
yang berkembang di masyarakat yang cenderung mengikuti perkembangan modernitas.
Kemudian dilanjutkan dengan membaca tahlil dan doa bersama sebelum menikmati
makanan yang mereka bawa dan masing-masing keluarga akan berziarah ke makam
leluhur mereka.
Nyadran adalah kesempatan untuk
melakukan refleksi asal-usul kehidupan manusia ; untuk apa manusia diciptakan,
apa yang telah dilakukan dalam kehidupannya, dan kemana mereka akan kembali.
Makna yang terakhir ini terasa lebih mengena ketika mereka pergi ke makam
leluhur. Di makam tersebut diharapkan manusia menyadari bahwa kehidupannya
tidak bakal abadi di dunia.
Tradisi ini merupakan perpaduan
antara nilai-nilai Islam dengan kepercayaan lokal masyarakat Jawa. Jika menilik
sejarah perkembangan Islam di tanah Jawa, Islam tidak serta-merta menghapus
kepercayaan masyarakat yang telah berkembang. Namun, justru memasukkan
nilai-nilai keislaman pada tradisi lokal masyarakat Jawa. Jadilah perpaduan
yang unik antara kepercayaan lokal dengan nilai-nilai yang dibawa oleh Islam
sebagai keyakinan baru dalam masyarakat Jawa..
Nyadran Agung dilaksanakan setahun
sekali di Rumah Dinas Bupati Kulon Progo dan Alun-Alun Wates. Para peserta
Nyadran Agung berdoa sambil mengelilingi gunungan dengan berbagai ubo rampe
sebagai pelengkap. Gunungan diarak menuju rumah dinas Bupati Kulon Progo. Para
pejabat pemerintah dari tingkat kabupaten hingga desa menunggu di rumah dinas
bupati. Selajutnya, mereka akan membaca tahlil bersama yang diawali oleh
sambutan dari pihak Pemerintah Kabupaten Kulon Progo dan diakhiri pembagian
gunungan ke masyarakat yang berada di alun-alun.
Sponsor
About Me
- Arif Hendra Gunawan
Blog Archive
Popular Posts
-
Upacara Bekakak Sebagai pusat kerajaan-kerajaan besar terdahulu, pulau Jawa khususnya kota Yogyakarta / Jogja memiliki kesenian khas ...
-
1.) Pengertian Motivasi Menurut Para Ahli Motivasi adalah suatu dorongan kehendak yang menyebabkan seseorang melakukan suatu perbuata...
-
Sebutkan dan jelaskan macam-macam sistem ekonomi ! Sistem ekonomi sebagai solusi dari permasalahan ekonomi yang terjadi dapat dibedakan m...
-
Sebutkan dan jelaskan macam-macam sistem ekonomi ! Sistem ekonomi sebagai solusi dari permasalahan ekonomi yang terjadi dapat dibedakan m...
-
Sebutkan dan jelaskan macam-macam sistem ekonomi ! Sistem ekonomi sebagai solusi dari permasalahan ekonomi yang terjadi dapat dibedakan m...
-
1.) Pengertian Motivasi Menurut Para Ahli Motivasi adalah suatu dorongan kehendak yang menyebabkan seseorang melakukan suatu perbuata...
-
RESENSI NOVEL DAN FILM TUGAS ILMU BUDAYA DASAR Resensi: Madre Hidup Tansen (Vino G. Bastian) tiba-tiba berubah. Tiba-tiba Tans...
-
PENGERTIAN BANK A. Pengertian dan klasifikasi bank . Bank adalah sebuah lembaga perantara keuangan yang memiliki wewenang dan fun...
-
Etika Dan Profesionalisme TSI Etika (Etimologi) , etika itu berasal dari bahasa Yunani yakni “Ethos”, yang berarti watak kesusilaan at...
-
1. Pendapat Tentang Peranan Bahasa Indonesia dalam Konsep Ilmiah Sebagai Alat Untuk Menyerap dan Mengungkapkan Hasil Pemikiran Sebe...
Followers
Sponsors
Search Article Here
Popular Posts
-
Upacara Bekakak Sebagai pusat kerajaan-kerajaan besar terdahulu, pulau Jawa khususnya kota Yogyakarta / Jogja memiliki kesenian khas ...
-
1.) Pengertian Motivasi Menurut Para Ahli Motivasi adalah suatu dorongan kehendak yang menyebabkan seseorang melakukan suatu perbuata...
-
Sebutkan dan jelaskan macam-macam sistem ekonomi ! Sistem ekonomi sebagai solusi dari permasalahan ekonomi yang terjadi dapat dibedakan m...
-
Sebutkan dan jelaskan macam-macam sistem ekonomi ! Sistem ekonomi sebagai solusi dari permasalahan ekonomi yang terjadi dapat dibedakan m...
-
Sebutkan dan jelaskan macam-macam sistem ekonomi ! Sistem ekonomi sebagai solusi dari permasalahan ekonomi yang terjadi dapat dibedakan m...
-
1.) Pengertian Motivasi Menurut Para Ahli Motivasi adalah suatu dorongan kehendak yang menyebabkan seseorang melakukan suatu perbuata...
-
RESENSI NOVEL DAN FILM TUGAS ILMU BUDAYA DASAR Resensi: Madre Hidup Tansen (Vino G. Bastian) tiba-tiba berubah. Tiba-tiba Tans...
-
PENGERTIAN BANK A. Pengertian dan klasifikasi bank . Bank adalah sebuah lembaga perantara keuangan yang memiliki wewenang dan fun...
-
Etika Dan Profesionalisme TSI Etika (Etimologi) , etika itu berasal dari bahasa Yunani yakni “Ethos”, yang berarti watak kesusilaan at...
-
1. Pendapat Tentang Peranan Bahasa Indonesia dalam Konsep Ilmiah Sebagai Alat Untuk Menyerap dan Mengungkapkan Hasil Pemikiran Sebe...
Popular Posts
-
Upacara Bekakak Sebagai pusat kerajaan-kerajaan besar terdahulu, pulau Jawa khususnya kota Yogyakarta / Jogja memiliki kesenian khas ...
-
1.) Pengertian Motivasi Menurut Para Ahli Motivasi adalah suatu dorongan kehendak yang menyebabkan seseorang melakukan suatu perbuata...
-
Sebutkan dan jelaskan macam-macam sistem ekonomi ! Sistem ekonomi sebagai solusi dari permasalahan ekonomi yang terjadi dapat dibedakan m...
-
Sebutkan dan jelaskan macam-macam sistem ekonomi ! Sistem ekonomi sebagai solusi dari permasalahan ekonomi yang terjadi dapat dibedakan m...
-
Sebutkan dan jelaskan macam-macam sistem ekonomi ! Sistem ekonomi sebagai solusi dari permasalahan ekonomi yang terjadi dapat dibedakan m...
-
1.) Pengertian Motivasi Menurut Para Ahli Motivasi adalah suatu dorongan kehendak yang menyebabkan seseorang melakukan suatu perbuata...
-
RESENSI NOVEL DAN FILM TUGAS ILMU BUDAYA DASAR Resensi: Madre Hidup Tansen (Vino G. Bastian) tiba-tiba berubah. Tiba-tiba Tans...
-
PENGERTIAN BANK A. Pengertian dan klasifikasi bank . Bank adalah sebuah lembaga perantara keuangan yang memiliki wewenang dan fun...
-
Etika Dan Profesionalisme TSI Etika (Etimologi) , etika itu berasal dari bahasa Yunani yakni “Ethos”, yang berarti watak kesusilaan at...
-
1. Pendapat Tentang Peranan Bahasa Indonesia dalam Konsep Ilmiah Sebagai Alat Untuk Menyerap dan Mengungkapkan Hasil Pemikiran Sebe...
Popular Posts
-
Upacara Bekakak Sebagai pusat kerajaan-kerajaan besar terdahulu, pulau Jawa khususnya kota Yogyakarta / Jogja memiliki kesenian khas ...
-
1.) Pengertian Motivasi Menurut Para Ahli Motivasi adalah suatu dorongan kehendak yang menyebabkan seseorang melakukan suatu perbuata...
-
Sebutkan dan jelaskan macam-macam sistem ekonomi ! Sistem ekonomi sebagai solusi dari permasalahan ekonomi yang terjadi dapat dibedakan m...
-
Sebutkan dan jelaskan macam-macam sistem ekonomi ! Sistem ekonomi sebagai solusi dari permasalahan ekonomi yang terjadi dapat dibedakan m...
-
Sebutkan dan jelaskan macam-macam sistem ekonomi ! Sistem ekonomi sebagai solusi dari permasalahan ekonomi yang terjadi dapat dibedakan m...
-
1.) Pengertian Motivasi Menurut Para Ahli Motivasi adalah suatu dorongan kehendak yang menyebabkan seseorang melakukan suatu perbuata...
-
RESENSI NOVEL DAN FILM TUGAS ILMU BUDAYA DASAR Resensi: Madre Hidup Tansen (Vino G. Bastian) tiba-tiba berubah. Tiba-tiba Tans...
-
PENGERTIAN BANK A. Pengertian dan klasifikasi bank . Bank adalah sebuah lembaga perantara keuangan yang memiliki wewenang dan fun...
-
Etika Dan Profesionalisme TSI Etika (Etimologi) , etika itu berasal dari bahasa Yunani yakni “Ethos”, yang berarti watak kesusilaan at...
-
1. Pendapat Tentang Peranan Bahasa Indonesia dalam Konsep Ilmiah Sebagai Alat Untuk Menyerap dan Mengungkapkan Hasil Pemikiran Sebe...


