UNIVERSITY GUNADARMA CAMPUS J

JENIS-JENIS ORGANISASI BERDASARKAN KOMERSIAL DAN SOSIAL 2

JENIS-JENIS ORGANISASI BERDASARKAN KOMERSIAL DAN SOSIAL

JENIS ORGANISASI BERDASARKAN TUJUANNYA

Pada post sebelumnya, telah disebutkan bahwa Organisasi memiliki suatu tujuan dan identitas tersendiri yang mencerminkan dalam bidang apa suatu organisasi tersebut berjalan, dan juga mencerminkan tujuan dari organisasi itu sendiri. Pada ulasan kali ini, akan dibahas mengenai macam-macam organisasi yang ada dilihat dari tujuan organisasi itu sendiri, antara lain yaitu organisasi niaga, organisasi sosial, serta organisasi regional & internasional.


A.    ORGANISASI KOMERSIAL
Organisasi Komersial :Organisasi yang berkembang di dunia ini sudah sangat berkembang pesat, dari tahun ketahun banyak terlahir organisasi-organisasi baru dan tidak pandang usia dari remaja sampai usia lanjut dari organisasi itu sendiri pun bnyak sekali tujuan-tujuan dari pembuatan organisai itu entah untuk mencari keuntungan (komersil) ataupun untuk social. Tetapi banyak diantara mereka yang merupakan pendiri dari organisasi itu hanya mengetahui tujuan nya saja tanpa mengerahui ciri-ciri organisasi itu dan teori dari organisasi.Terhubung dengan itu makalah ini dibuat untuk pembaca agar dapat mengenal lebih dari pengertian organisasi serta masyarakat juga dapat membuat organisasi itu sendiri dan dapat mengelola nya dengan baik. Inti organisasi belajar adalah kemampuan organisasi untuk memanfaatkan kapasitas mental dari semua anggotanya guna menciptakan sejenis proses yang akan menyempurnakan organisasi
Organisasi Niaga (Komersial)
Organisasi dibentuk dengan tujuan untuk menghasilkan keuntungan.  organisasi niaga dibentuk untuk mendapatkan profit dan meningkatkan kemakmuran organisasi tersebut beserta orang-orang yang terlibat di dalamnya. Pemilik dan operator dari sebuah organisasi niagamendapatkan imbalan sesuai dengan waktu, usaha, atau kapital yang mereka berikan. Namun tidak semua organisasi niaga mengejar keuntungan seperti ini, misalnya organisasi niaga koperatif yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan semua anggotanya atau institusi pemerintah yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan rakyat.

B.    ORGANISASI SOSIAL
Pengertian organisasi sosial menurut Amitai Etzioni[1]organisasi adalah unit sosial (pengelompokan manusia) yang sengaja dibentuk dan dibentuk kembali dengan penuh pertimbangan dalam rangka mencapai tujuan tertentu. Etzioni menjelaskan umumnya organisasi ditandai ciri sebagai berikut : (1) pembagian kerja, kekuasaan, dan tanggung jawab komunikasil; (2) ada satu atau beberapa pusat kekuasaan yang berfungsi mengawasi usaha-usaha organisasi serta mengarahkan organisasi dalam mencapai tujuan; (3) ada pergantian tenaga (kaderisasi) bila ada individu yang tak mampu menjalankan tugas-tugas organisasi.
Pengertian lainnya : organisasi adalah suatu sistem sosial yang bersifat langgeng, formal, memiliki identitas kolektif yang tegas, daftar anggotanya terinci, dan mempunyai sifat hirarkis.
Gagasan penting kedua dalam organisasi adalah adanya tujuan atau maksud melakukan koordinasi. Selanjutnya, proses pelaksanaan tugas dapat berjalan efektif bila dilakukan terpadu/ terintegrasi yang dilaksa-nakan oleh anggota-anggotanya.
Jenis – jenis Organisasi Sosial

a.Organisasi Normatif
Adalah pihak elite menjalankan organisasi/ mengawasi anggota lebih dominan menggunakan kekuasaan normatif (persuasif). Bentuk partisipasi anggota adalah dengan komitmen moral.

b. Organisasi Utilitarian
Adalah pihak elite mengawasi anggota dominan menggunakan kekuasaan utilitarian. Partisipasi anggota berdasarkan komitmen perhitungan yaitu pemikiran hubungan bisnis, sangat perhitungkan untung rugi.

c. Organisasi Koersi
Adalah pihak elite menggunakan kekuasaan koersi dalam mengawasi anggotanya. Koersi adalah segala jenis paksaan, ancaman, dan intimidasi yang digunakan untuk mempengaruhi perilaku orang lain.
Organisasi sosial adalah perkumpulan sosial  yang dibentuk olehmasyarakat,  baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadanhukum, yang berfungsi sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam pembangunan bangsa dan negara. Sebagai makhluk yang selalu hidup bersama-sama, manusia membentuk organisasi sosial untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu yang  tidak dapat mereka capai sendiri.
Ada dua istilah yang digunakan, yaitu ”social institution” dan ”lembaga  kemasyarakatan”.   Antropolog mengislahkan  “social intitution” (penekanan sistem nilainya) Sosiolog mengistilahkan lembaga kemasyarakatan atau  lembaga sosial (menekankan sistem norma yang memiliki bentuk dan yang abstrak). Awalnya lembaga sosial terbentuk dari norma-norma yang dianggap penting dalam hidup bermasyarakatan. Terbentuknya lembaga sosial berawal dari individu yang saling membutuhkan ,  kemudian timbul aturan-aturan yang disebut dengan norma kemasyarakatan. Lembaga sosial sering juga dikatakan sebagai sebagai Pranata sosial. Lembaga sosial merupakan tata cara yg telah diciptakan untuk mengatur hubungan antar manusia dalam sebuah wadah yang disebut dengan Asosiasi. Asosiasi memiliki seperangkat aturan, tata tertib, anggota dan tujuan yang jelas, sehingga berwujud kongkrit.
Bentuk Bentuk Kerjasama

Joint Venture :
Adalah bergabungnya suatu perusahaan dengan perusahaan lain untuk menjalankan aktivasi ekonomi bersama. Pihak pihak itu setuju untuk berkelompok dengan menyumbang keadilan pemilikan dan kemudian saham dalam penerimaan biaya dan control perusahaan.
Holding :
Perusahaan induk atau Holding Company adalah perusahaan utama yang membawahi beberapa perusahaan yang tergabung ke dalam satu grup perusahaan. Melalui pengelompokan perusahaan kedalam induk perusahaan yang bertujuan untuk meningkatkan atau menciptakan nilai pasar perusahaan (market value creation).

Kartel :
Sering terbentuk oleh para peserta tender yang bertujuan untuk memanipulasi pemenang tender, yang menguntungkan salah satu anggota kartel tersebut. Praktik yang juga digolongkan sebagai korupsi ini dapat dilakukan dengan atau tanpa adanya keterlibatan pejabat Negara didalamnya. Sementara kolusi biasanya merupakan bentuk kesepakatan dari peserta tender untuk menetapkan giliran pemenang tender atau kesepakatan pembayaran kompensasi kepada pihak yang kalah tender karena memasukkan penawaran yang lebih tinggi.

Trust :
Trust atau kepercayaan adalah suatu kepercayaan dari atasan untuk bawahan atau sebaliknya. Hubungan tersebut merupakan hal yang sangat penting agar kerjasama dapat tercipta dengan efektif. Bentuk trust yang muncul sangat jelas terjasi ketika atasan dan bawahan saling mengenal Knowledge Based Trust atau pengetahuan berdasarkan kepercayaan, namun baik di awal hubungan mereka ketika mereka masih menjadi stranger atau orang asing.
Konflik dalam Organisasi

Konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya.
Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatuinteraksi. perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Dengan dibawasertanya ciri-ciri individual dalam interaksi sosial, konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat dan tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.
Konflik bertentangan dengan integrasi. Konflik dan Integrasi berjalan sebagai sebuah siklus di masyarakat. Konflik yang terkontrol akan menghasilkan integrasi. sebaliknya, integrasi yang tidak sempurna dapat menciptakan konflik.
Penanganan Konflik :
Metode yang sering digunakan untuk menangani konflik adalah pertama dengan mengurangi konflik; kedua dengan menyelesaikan konflik. Untuk metode pengurangan konflik salah satu cara yang sering efektif adalah dengan mendinginkan persoalan terlebih dahulu (cooling thing down). Meskipun demikian cara semacam ini sebenarnya belum menyentuh persoalan yang sebenarnya. Cara lain adalah dengan membuat “musuh bersama”, sehingga para anggota di dalam kelompok tersebut bersatu untuk menghadapi “musuh” tersebut. Cara semacam ini sebenarnya juga hanya mengalihkan perhatian para anggota kelompok yang sedang mengalami konflik.
Cara kedua dengan metode penyelesaian konflik. Cara yang ditempuh adalah dengan mendominasi atau menekan, berkompromi dan penyelesaian masalah secara integratif.

A. Dominasi (Penekanan)
Dominasi dan penekanan mempunyai persamaan makna, yaitu keduanya menekan konflik, dan bukan memecahkannya, dengan memaksanya “tenggelam” ke bawah permukaan dan mereka menciptakan situasi yang menang dan yang kalah. Pihak yang kalah biasanya terpaksa memberikan jalan kepada yang lebih tinggi kekuasaannya, menjadi kecewa dan dendam. Penekanan dan dominasi bisa dinyatakan dalam bentuk pemaksaan sampai dengan pengambilan keputusan dengan suara terbanyak (voting).

B. Kompromi
Melalui kompromi mencoba menyelesaikan konflik dengan menemukan dasar yang di tengah dari dua pihak yang berkonflik ( win-win solution ). Cara ini lebih memperkecil kemungkinan untuk munculnya permusuhan yang terpendam dari dua belah pihak yang berkonflik, karena tidak ada yang merasa menang maupun kalah. Meskipun demikian, dipandang dari pertimbangan organisasi pemecahan ini bukanlah cara yang terbaik, karena tidak membuat penyelesaian yang terbaik pula bagi organisasi, hanya untuk menyenangkan kedua belah pihak yang saling bertentangan atau berkonflik.

C. Penyelesaian Secara Integratife

Dengan menyelesaikan konflik secara integratif, konflik antar kelompok diubah menjadi situasi pemecahan persoalan bersama yang bisa dipecahkan dengan bantuan tehnik-tehnik pemecahan masalah (problem solving). Pihak-pihak yang bertentangan bersama-sama mencoba memecahkan masalahnya,dan bukan hanya mencoba menekan konflik atau berkompromi. Meskipun hal ini merupakan cara yang terbaik bagi organisasi, dalam prakteknya sering sulit tercapai secara memuaskan karena kurang adanya kemauan yang sunguh-sungguh dan jujur untuk memecahkan persoalan yang menimbulkan persoalan.

Read more

Tugas Softskill Teori Organisasi Umum

ORGANISASI

Organisasi secara etimologi berasal dari bahasa latin organizare, kemudian (inggris) organize yang berarti membentuk suatu kebulatan dari bagian-bagian yang berkaitan satu sama lainnya.

Pengertian organisasi menurut :

-Dimok
organisasi adalah perpaduan secara sistematika dari bagian-bagian yang saling bergantung atau berkaitan untuk membentuk satu kesatuan yang bulat melalui kewenangan, koordinasi dan pengawasan dalam rangka usaha untuk mencapai tjuan yang telah ditentukan”.

-Steven P. Robbin
Pengertian dari organisasi adalah salah satu unit sosial yang dikoordinasikan secara sengaja terdiri daridua orang atau lebih yan berfungsi dan berwenang untuk mengerjakan usaha mancapai tujuan yang yang telah ditentukan. organisasi juga diartikan sebagai kolektivitas orang-orang yang bekerja sama secara sadar dan sengaja untuk mencapai tujuan tertentu (1985:7)

-Gibson
Mendefinisikan organisasi sebagai kesatuan yang memungkinkan masyarakat untuk mencapai tujuan tertentu yang tida dapat dicapai individu secara perorangan.sementara drucker dalam nugroho (2002:241) mengungkapkan bahwa akan terbentuk masyarakat modern yaitu masyarakat organisasi.

-Sondang siagian
Cenderung menelaah orgnisasi dari sudut pandang yang berbeda yaitu organisasi ditelaah dengan pendekatan structural dan organisasi ditelaah dari sudut pandang keprilakuan. pendekatan yang sifatnya struktural menyoroti organisasi sebagai tempat atau wadah, hal ini berarti:
  1. organisasi dipandang merupakan penggambaran jaringan hubungan kerja yang bersifat formal serta tergambar pad “kotak-kotak”, kedudukan dan jabatan yang diduduki oleh orang-orang.
  2. organisasi dipandang sebagai rangkaian hierarki kedudukan yang menggambarkan secara jelas garis kewenangan dan tanggung jawab.
  3. organisasi dipandang sebagai alat pencapaian tujuan yang telah ditentukan sebelumnya dan strukturnya bersifat permanen tanpa menutup kemungkinan terjadinya reorganisasi apabila hal itu dipandang perlu baik demi percepatan laju usah pencapaian tujuan maupun dalam usaha peningkatan efisiensi, efektivitas dan produktivitas kerja.


Ciri-Ciri Organisasi

Organisasi harus memiliki tiga unsur dasar, yaitu :
a. Orang-orang atau sekumpulan orang
b. Kerjasama
c. Tujuan yang ingin dicapai

Dengan demikian organisasi merupakan sarana untuk melakukan kerjasama antara orang-orang dalam rangka mencapai tujuan bersama, dengan mendayagunakan sumber daya yang dimiliki.
Seperti telah diuraikan di atas bahwa organisasi memiliki tiga unsur dasar, dan secara lebih rinci organisasi memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

a. Adanya suatu kelompok orang yang dapat dikenal dan saling mengenal,
b. Adanya kegiatan yang berbeda-beda, tetapi satu sama lain saling berkaitan (interdependent part) yang merupakan kesatuan kegiatan,
c. Tiap-tiap orang memberikan sumbangan atau kontribusinya berupa; pemikiran, tenaga, dan lain-lain,
d. Adanya kewenangan, koordinasi dan pengawasan,
e. Adanya tujuan yang ingin dicapai.

Ilmu organisasi merupakan ilmu yang penting dimiliki, karena dalam kehidupan kita tidak lepas dari organisasi. Di mulai dari lingkungan yang sederhana dari keluarga, hingga struktur yang rumit seperti organisasi pemerintahan.

a.       ciri-ciri organisasi, yaitu :
1.    Adanya komponen ( atasan dan bawahan) .
2.    Adanya kerja sama (cooperative yang berstruktur dari sekelompok orang).
3.    Adanya tujuan .
4.    Adanya sasaran .
5.    Adanya keterikatan format dan tata tertib yang harus ditaati .
6.    Adanya pendelegasian wewenang dan koordinasi tugas-tugas.

b.      Ciri-ciri Organisasi Modern
1. Organisasi bertambah besar
2. Pengolahan data semakin cepat
3. Penggunaan staf lebih intensif
4. Kecendrungan spesialisasi
5. Adanya prinsip-prinsip atau azas-azas organisasi
6. Unsur-unsur organisasi lebih lengkap

UNSUR-UNSUR ORGANISASI
1. Manusia (Man).
2. Kerjasama.
3. Tujuan Bersama.
4. Peralatan (Equipment).
5. Lingkungan.
6. Kekayaan alam.
7. Kerangka/Konstruksi mental
Secara garis besar organisasi mempunyai tiga unsur yaitu :
1. Manusia.
2. Kerjasama.
3. Tujuan bersama-sama.

Dari ketiga unsur tersebut saling terkait dan mempunyai satu kesatuan. dari berbagai macam teori organisasi yang di kemukakan oleh para ahli tidak ada satu pun yang memiliki kebenaran mutlak. dan antara teori organisasi yang satu dengan yang lain saling melengkapi.
Setiap bentuk organisasi akan mempunyai unsur-unsur tertentu, yang antara lain sebagai berikut:
1. Sebagai wadah atau tempat untuk bekerja sama.
2. Proses kerja sama sedikitnya antara dua orang
3. Jelas tugas dan kedudukannya masing-masing
4. Ada tujuan tertentu

Secara ringkas unsur-unsur organisasi yang paling dasar adalah 
1. Harus ada wadah atau tempatnya untuk bekerja sama.
2. Harus ada orang-orang yang bekerja sama.
3. Kedudukan dan tugas masing-masing orang harus jelas.
4. Harus ada tujuan bersama yang mau dicapai.




Unsur dasar yang membentuk suatu organisasi terdiri dari :

-Anggota organisasi

Yaitu, Orang-orang yang melaksanakan pekerjaan organisasi, membentuk organisasi serta terlibat dalam beberapa kegiatan primer. Orang-orang ini terlibat juga dalam kegiatan pemikiran-pemikiran yang meliputi konsep-konsep, penggunaan bahasa, pemecahan masalah, dan pembentukan gagasan. Mereka juga terlibat dalam kegiatan-kegiatan perasaan yang mencakup emosi, keinginan, dan aspek-aspek perilaku manusia lainnya yang bukan aspek intelektual. Mereka juga terlibat dalam kegiatan self-moving (mencakup kegiatan fisik). Dan mereka terlibat juga dalam kegiatan elektrokimia yang mencakup brain synaps (daerah kontak otak tempat impuls saraf ditransmisikan hanya ke satu arah).

-Pekerjaan dalam organisasi
Pekerjaan ini terdiri dari tugas-tugas formal dan tugas-tugas informal. Tugas-tuguas ini menghasilkan produk dan memberikan pelyanan organisasi. Pekerjaan ini ditandai oleh tiga dimensi universl :

1. Isi
2. Keperluan
3. Konteks

-Praktik-praktik pengelolaan

Tujuan primer pegawai manejerial adalah menyelesaikan pekerjaan melalui usaha orang lainnya. Manejer membuat keputusan mengenai bagaimana orang-orang lainnya, biasanya bawahan mereka, menggunakan sumber daya yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan mereka. Sebagian manejer membawahi para pekerja yang beroperasi dan sebagian lainnya membawahi manejer-manejer lainnya.

-Stuktur Organisasi

Merujuk kepada hubungan-hubungan antara tugas-tugas yang dilaksanakan oleh anggota-anggota organisasi. Struktur organisasi di entukan oleh tiga variable kunci :

1. Kompleksitas
2. Formalisasi
3. Sentralisasi


-Pedoman Organisasi

Adalah serangkaian pernyataan yang mempengaruhi, mengendalikan dan memberi arahan bagi anggota organisasi dalam mengambil keputusan dan tindakan. Pedoman organisasi tersiri atas : pernyataan-pernyataan seperti cita-cita, misi, tujuan, strategi, kebijakan, prosedur dan aturan.
Merujuk kepada hubungan-hubungan antara tugas-tugas yang dilaksanakan oleh anggota-anggota organisasi. Struktur organisasi di entukan oleh tiga variable kunci :


-Macam- Macam Bentuk Bagan Dalam Struktur Organisasi


Dalam suatu Organisasi pasti lah ada juga sebuh Stuktur nya jika dalam organisasi tidak ada strukturnya maka suatu perusahaan itu pasti akan bobrok dan hancur dalam penyusunan jabatannya masing-masing dan berikut adalah contoh dari gambar Bagan yang biasa perusahaan-perusahaan pakai pada umumnya yaitu:

A. Bagan Horizontal
 mengapa bagan tersebut di katakan horizontal karena pada bagan tersebut jika semakin banyak jabatan-jabatan yang di buat dalam perusahaan tersebut maka bagan ini akan semakin luas menyamping








Bagan Struktur Organisasi Berbentuk Horizontal

B. Bagan Vertikal
  Bagan vertikal adalah kebalikan dari bagan Horizontal. Bagan Vertikal pada umumnya bagan ini jika dalam perusahaan banyak sekali jabatan atau kepala-kepala bagian dari masing-masing divisi maka bagan ini akan semakin panjang ke bawah.


Bagan Struktur Organisasi Berbentuk Vertikal

C. Bagan Lingkaran
Kenapa bagan ini berbentuk lingkaran karna mungkin dalam suatu perusahaan memang sangat memiliki perbedaan tersendiri dalam menyusun bagian-bagian dari perusahaan itu tersebut oleh karena itu banyak sekali model bagan yang terbentuk. pada model bagan ini jika setiap penambahan anggota maka bagan ini akan bertambah diameternya dan semakin membesar.




Bagan Struktur Organisasi Berbentuk Lingkaran

 D. Bagan Piramid
Bagan ini sangat mudah digunakan karna bentuknya seperti Piramid yang menempatkan bagian-bagian dalam perusahaan yang paling tertinggi di letakan pada bagian TOP dan untuk karyawan di letakan MID dan untuk Office Boy di letakan pada Bagian LOWER.


Bagan Piramid

(sumber : http://ariantocahyadi.blogspot.com/2011/10/bentuk-bagan-struktur-organisasi.html)

pada umumnya bagan yang paling sering di gunakan adalah bagan Horizontal dan bagan Vertikal karena bentuk dan pola yang cukup simple sehingga lebih mudah di mengerti oleh khalayak .

Read more

Tugas IBD Resensi Film


RESENSI NOVEL DAN FILM
TUGAS ILMU BUDAYA DASAR

Resensi: Madre 

Hidup Tansen (Vino G. Bastian) tiba-tiba berubah.
Tiba-tiba Tansen harus pergi ke Bandung. Tiba-tiba Tansen mengetahui jejak keluarganya. Tiba-tiba Tansen mendapat sebuah warisan adonan biang roti bernama Madre. Tiba-tiba Tansen memanggul tanggung jawab dari Pak Hadi (Didi Petet) yang mengharapkan dirinya untuk bisa menghidupkan Tan De Bakker -usaha toko roti milik kakeknya- lagi. Tiba-tiba Tansen bertemu Mei (Laura Basuki). Tiba-tiba Tansen jatuh cinta. Tiba-tiba semuanya tidak lagi sama.
Setelah Perahu Kertas dan RectoVerso, Madre menjadi karya ketiga Dewi Lestari yang diadaptasi menjadi film. Kali ini, Benni Setiawan dipercaya untuk menulis skenario dan menyutradarai filmnya. Bagaimana hasilnya?
Sebagai pembaca, penulis, dan seseorang yang pernah mengadaptasi buku menjadi skenario, gue tahu buku dan film adalah dua medium yang berbeda. Untuk itu, dalam review ini gue berupaya sebisa mungkin untuk tidak mengingat isi bukunya dan membandingkan film dengan buku.
Buat gue, film menjadi salah satu cara untuk mentransfer rasa. Sebagai sebuah film, gue bingung dengan rasa apa yang ingin Madre sampaikan ke penontonnya. Buat gue, adonan Madre kurang pas. Cerita Madre seolah bingung mau berjalan kemana. Ada dua konflik besar yang harus dihadapi Tansen. Pertama, Madre dan Tan De Bakker. Kedua, Mei.
Dua konflik tersebut sebetulnya bisa diolah menjadi sajian yang pas, asal takarannya tepat. Tapi dalam Madre, konflik tersebut terasa berdiri sendiri-sendiri dan membuat filmnya hambar. Madre seperti kurang rasa. Adonan dua konflik yang gue tulis di atas tidak menyatu dengan enak. Hal itu membuat gue tidak merasakan apapun ketika melihat pergulatan Tansen, yang sebetulnya sangat bisa membuat emosi penonton diaduk-aduk. Emosi gue tidak diikat.
Vino G. Bastian yang berperan sebagai Tansen berupaya cukup keras untuk bisa menghidupkan karakternya. Sayangnya, rambut gimbal dan kulit cokelat tidak cukup untuk bisa membuat Tansen terlihat hidup. Bukan berarti Vino tidak bagus, hanya saja terasa kurang pas. Laura Basuki yang aktingnya hampir mirip dengan film-film sebelumnya cukup bisa membawa penonton terhanyut dengan drama hidup karakter Mei. Didi Petet memberi warna komedi di film ini lewat peran Pak Hadi, momen-momen segar filmnya kerap datang dari akting naturalnya.
Ada satu hal yang menyenangkan di film ini: disulapnya sebuah bangunan di jalan Braga sebagai set Tan De Bakker. Tata artistiknya cantik. Gue yang jatuh cinta dengan Bandung mendadak ingin ke Bandung ketika selesai menyaksikan Madre. Gue pengin duduk di kursi yang ada di depan Tan De Bakker, kayaknya enak banget duduk di situ sambil ngopi dan makan roti #eaaa.
Sekali lagi, Andhika Triyadi membuktikan bahwa ia memang pemusik handal. Musik buatannya untuk Madre berhasil memberikan mood tersendiri untuk filmnya. Sayangnya, penempatan musik Andhika dan lagu pengiring filmnya terkadang terasa tidak pas. Entah mengapa, gue merasa pemilihan lagu Jodoh Pasti Bertemu yang dinyanyikan Afgan kurang klop dengan ceritanya.
Gue mengerti bahwa Benni Setiawan memiliki penafasiran tersendiri untuk Madre. Gue juga menghargai sekali usahanya dalam menghidupkan Madre, terlebih dengan upayanya membuat Tan De Bakker menjadi nyata. Sayangnya, lagi-lagi gue merasa adonan yang dibuat terasa kurang bumbu. Gue tidak merasa segembira Mei ketika mengigit roti buatan Tansen ketika menyaksikan film ini.
Madre
Produksi: Mizan Production
Produser: Putut Widjanarko, Avesina Soebli
Sutradara dan Penulis: Benni Setiawan
Pemain: Vino G. Bastian, Laura Basuki, Didi Petet, Titi Qadarsih, Framly Nainggolan

Read more

Tugas IBD



Upacara Bekakak
Sebagai pusat kerajaan-kerajaan besar terdahulu, pulau Jawa khususnya kota Yogyakarta / Jogja memiliki kesenian khas dan kebudayaan yang tinggi, bahkan merupakan pusat serta sumber kesenian di Indonesia. Salah satu budaya yang sekarang masih ada dan diperingati setian tahunnya adalah upacara Bekakak. Pada bulan Safar Masyarakat Desa Ambarketawang, Gamping, Sleman, Yogyakarta, melaksanakan berbagai ritual atau upacara adat. Ritual tersebut biasa dikenal dengan nama Saparan Bekakak. Nama Saparan diambil dari nama bulan Safar yang biasa dilafalkan oleh masyarakat Jawa menjadi bulan Sapar. Nama Bekakak sendiri karena dalam peelengkapan upacara ini terdapat sepasang pengantin bekakak.

            Upacara adat ini sudah berlangsung sejak masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono I, tepatnya antara tahun 1755 hingga 1792. Ritual ini digelar sebagai bentuk permohonan keselamatan warga Gamping. Tradisi yang sudah berumur hampir seusia Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ini bermula dari kisah sepasang pengantin yang meninggal di Gunung Gamping. Bekakak berati korban penyembelihan manusia atau hewan. hanya saja, bekakak yang disembelih zaman sekarang hanya tepung ketan yang dibentuk seperti pengantin laki-laki dan perempuan yang sedang duduk bersilah. Sebelum diarak untuk disembelih, pada malam sebelumnya diadakan upacara midodareni layaknya pengantin sejati. Menurut kepercayaan masyarakat, pada malam menjelang perkimpoian, para bidadari turun ke bumi untuk memberi restu. Orang-orang begadang suntuk demi menyambut kedatangan para bidadari tersebut. Upacara ini dilakukan untuk menghormati awah Kyai dan Nyai Wirasuta yang menjadi abdi dalem Penangsang HB I, bertugas membawa payung kebesaran Pakubuwono I. Oleh masyarakat sekitar, mereka dianggap sebagai cikal bakal penduduk Gamping. Upacara dimulai dengan kirab sepasang boneka pengantin Bekakak yang terbuat dari ketan dan cairan gula merah.

            Nantinya, pengantin bekakak akan diarak menuju Gunung Gamping dan Gunung Kiling. Sebelum arak-arakan dimulai, akan terlebih dahulu digelar pementasan fragmen "Prasetyaning Sang Abdi" yang menceritakan tentang kisah Ki Wirosuto. Setelah pementasan fragmen selesai, baru arak-arakan dimulai diikuti tiga buah joli yang berisi sesajen. Keunikan lain akan muncul saat upacara ini berlangsung. Di tengah-tengah ritual, biasanya akan muncul sekelompok anak yang berperan sebagai anak genderuwo. Anak-anak ini berjumlah 50-an anak dan didampingi sepasang genderuwo. Mereka bertugas mengawal pengantin bekakak.

http://budaya-indonesia.org/f/4633/sniffer_bekakak1.jpg

http://budaya-indonesia.org/f/4634/sniffer_bekakak2.jpg

http://budaya-indonesia.org/f/4635/sniffer_bekakak3.jpg





Upacara Gerebeg

Gerebeg atau grebeg mempunyai arti "suara angin". Garebeg merupakan salah satu adat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang untuk pertama kalinya diselenggarakan oleh Sultan Hamengku Buwana I. Upacara kerajaan ini melibatkan seluruh Kraton, segenap aparat kerajaan serta melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Secara formal, garebeg bersifat keagamaan yang dikaitkan dengan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW serta kedua hari raya Islam (Idul Fitri dan Idhul Adha).
Garebeg secara politik juga menjabarkan gelar Sultan yang bersifat kemuslimatan (Ngabdurrahman Sayidin Panotogomo Kalifatullah). Selama satu tahun terdapat tiga kali upacara garebeg yaitu Garebeg Mulud, Garebeg Besar, dan Garebeg Sawal yang diselenggarakan di kompleks Kraton dan lingkungan sekitarnya, seperti di Alun-alun Utara.
Garebeg Mulud diselenggarakan untuk memperingati hari kelahiran (maulid) Nabi Muhammad SAW yang jatuh tepat pada tanggal 12 Rabiulawal. Bulan Rabiulawal disebut juga bulan Mulud dalam kalender Jawa-Islam. Itulah sebabnya garebeg yang diselenggarakan untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, disebut Garebeg Mulud. Sebenarnya tanggal 12 Rabiulawal mempunyai dua arti penting dalam riwayat hidup Sang Nabi, karena diyakini oleh umat Islam bahwa Nabi Muhammad SAW lahir dan wafat pada tanggal dan bulan yang sama.
Tradisi memperingati hari lahir Sang Nabi ini baru tumbuh setelah agama Islam berkembang luas ke negara-negara lain di luar jazirah Arab. Hari lahir Nabi Muhammad SAW bukanlah hari raya resmi Islam, sebab Islam hanya mengenal dua hari raya, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Perayaan hari lahir Nabi Muhammad SAW sebagai upacara kerajaan ini dipelopori oleh Kesultanan Demak, dari zaman ke zaman dilestarikan oleh para raja Jawa yang kemudian dikenal sangat populer sebagai Garebeg Mulud.
Sebelum Garebeg Mulud diselenggarakan, terdapat beberapa kegiatan adat yang dilaksanakan dalam lingkungan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, yaitu:
- Upacara Gladi Resik untuk kesiapan prajurit Kraton oleh Bupati Nayoko Kawedanan Ageng Prajurit,
- Upacara Numplak Wajik sebagai tanda permulaan pembuatan gunungan,
- Upacara Miyosipun Hajad Dalem sebagai puncak upacara dengan mengiring keluarnya Hajad Dalem yang berujud gunungan dari dalam Kraton ke Masjid Besar oleh Kyai Pengulu Kraton.
Selain Garebeg Mulud, Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat juga menyelenggarakan Garebeg Mulud Dal yang terjadi setiap satu windu sekali, dan dilaksanakan secara istimewa dengan penuh kemegahan, serta lebih banyak mengungkapkan unsur-unsur kebudayaan lama identitas raja, kerajaan Jawa.
Dalam Garebeg Mulud Dal, Sultan hadir di Masjid Besar di tengah publik dengan memperlihatkan tradisi Kejawen yang penuh dengan unsur-unsur kebudayaan Jawa Kuno, berbagai macam pusaka Kraton yang sangat keramat sebagai pernyataan tradisional bahwa sultan dan Kasultanan Yogyakarta adalah ahli waris sah dari para raja dan kerajaan Jawa terdahulu. Juga menyatakan sikap tradisional sultan sebagai wakil dari suku bangsanya dalam memuliakan para leluhur.
Kehadiran Sultan di Masjid Besar ditujukan juga untuk melakukan kegiatan religius Islam yakni menendang tumpukan batu-bata yang ditempatkan di pintu terbuka di pagar tembok bagian selatan Masjid Besar. Hal ini merupakan tindakan simbolik yang melambangkan rakyat pada zaman Kasultanan Demak secara resmi telah meninggalkan agama HinduĂŻ¿½Budha untuk memeluk agama Islam. Upacara ini dilakukan hanya setiap delapan tahun sekali atau sekali dalam sewindu.
Gunungan Mulud Dal disebut sebagai Gunungan Kutug atau Gunungan Bromo. Di bagian puncak, diberi lubang untuk menampakkan sebuah anglo berisi bara yang membakar segumpal besar kemenyan, sehingga secara terus menerus mengepulkan asap tebal jika dihembus angin. Pajangannya berupa beraneka macam kue berwarna-warni hampir sama dengan pajangan Gunungan Lanang, bervariasi dengan Gunungan Wadon. Di bagian bawah, beralaskan kain banung tulak dan diletakkan tegak di atas sebuah nampan raksasa berkerangka kayu berukuran 2 x 1,5 m.



http://gudeg.net/images/upload/grebeg_maulud.jpg


















Upacara Cembengan

Cembengan sendiri berasal dari kata Ching Bing (Cheng Beng) yaitu ritual khas tionghoa untuk mendoakan roh nenek moyang. Istilah ini dikenalkan oleh para kuli yang bekerja pada pabrik gula milik pemerintah Hindia Belanda. Kuli adalah kata yang berasal dari bahasa mandarin yang mempunyai arti pekerja kasar, dimana waktu itu banyak didatangkan pekerja-pekerja kasar dari Negeri Cina untuk bekerja di berbagai perkebunan milik Belanda. Para pekerja itulah yang pertama kali mebawa tradisi Ching Bing, sebagai ritual diawal musim giling tebu. Perayaan Cembengan dengan nuansa jawa mulai dikenal ketika kaum ningrat masuk ke bisnis gula, salah satunya adalah  Mangkunegara ke IV yang banyak mempunyai Pabrik Gula di sekitar Jawa Tengah di era tahun 1800an.
Wayangan_di_dalam_Stasiun_Giling_Pabrik_Gula.jpg   
Wayangan di dalam stasiun giling pabrik gula 

Pada perayaan Cembengan di Pabrik Gula Mojo, juga di awali dengan ziarah dan mendoakan para leluhur yaitu Mbah Paleh dan mbah Krandah yang merupakanpengikut Kyai Adipati Djayengrana dari daerah Jawa Timur. Ritual doa yang menggunakan simbolisasi aneka sesaji dan prosesi mantenan tebu dilanjutkan dengan kemeriahan pesta rakyat di halaman Pabrik Gula Mojo.
   
Aneka wahana permainan anak khas pasar malam digelar diantara pipa-pipa yang menyuplai air ke dalam pabrik. Permainan seperti "Ombak Banyu, Kereta Kelinci, Tong Setan, Rumah Hantu dan Kereta Mini, ramai dikunjungi oleh anak-anak kecil. Ruas jalan di depan pabrik dipenuhi oleh stand pedagang yang menjual aneka barang seperti mainan anak, baju, barang kerajinan, serta berbagai macam makanan dan minuman. Di depan kantor pabrik gula, digelar seremoni pembukaan yang dibuka dengan Tari Gambyong, hiburan Campursari dan Dagelan Kethoprak. Sementara itu di area dalam pabrik gula yang dipakai sebagai stasiun giling tebu, digelar wayang kulit dengan Lakon Sri Mulih. Lakon Sri Mulih adalah cerita diluar pakem asli Mahabarata yang dipentaskan khusus untuk upacara mohon keselamatan atau syukuran. Kisah ini menceritakan tentang kedatangan Dewi Sri, sebagai icon simbol kesuburan dan hasil panen yang melimpah yang mengalah ancaman dari berbagai malapetaka.

Aneka_Permainan_di_Pasar_Malam_Perayaan_Cembengan.jpg   
Aneka permainan di pasar malam perayaan Cembengan 

Perayaan Cembengan mempunyai makna dasar sebagai bentuk permohonan akan kelancaraan saat dimulainya proses penggilingan tebu dan ucapan syukur atas melimpahnya panen tebu yang membawa dampak pada kesejahteraan masyarakat. Pesta rakyat yang digelar di sekitar pabrik Gula selama perayaan Cembengan, adalah upaya untuk lebih mempererat hubungan antara Pabrik Gula dengan Masyarakat yang tinggal disekitarnya. Walaupun tidak semua warga sekitar mencari nafkah di pabrik gula atau perkebunannya, dengan pesta rakyat tersebut diharapkan bahwa berkah dari adanya pabrik gula bisa dirasakan oleh masyarakat secara lebih luas. Bisa dikatakan bahwa pesta rakyat cembengan sebagai program kehumasan yang sangat cerdas, yang lahir dari leluhur-leluhur terdahulu. Tidak cuma hiburan, ada aktivitas ekonomi yang berdampak signifikan dalam perayaan Cembengan ini. Para pengusaha gula dari masa-masa terdahulu, telah memberikan warisan sebuah pelajaran penting dimana kehadiran sebuah pabrik gula haruslah tidak hanya berbuah manis bagi pemilik dan karyawannya, tetapi manisnya bisa dirasakan oleh masyarakat umum disekitarnya. Salam Kratonpedia.




Upacara adat Cing Cing Goling
Di Indonesia banyak ritual budaya yang ditujukan untuk wujud rasa syukur terhadap apa yang sudah diberikan Tuhan pada hamba-Nya dan ritual budaya itu pun lahir dari nilai-nilai, tradisi, dan maupun norma dari masyaratnya sendiri. Salah satu ritual budaya ini yang sampai kini masih di laksanakan dan di perhatakan adalah ritual upacara Cing-Cing Goling yang ada di Dusun Gedangan, Desa Gedangrejo, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul atau 8 km di sebelah timur dari Kota Wonosari.
           
 Konon awal mula upacara Cing-cing Goling yang merupakan ungkapan rasa syukur atas hasil panen dari masyarakat setempat dan para pelarian dari Kerajaan Majapahit, ketika Kerajaan Majapahit berada di ambang keruntuhan pada abad ke-15. Kala itu Kerajaan Majapahit diperintah oleh Raja Brawijaya V. Para pelarian yang dipimpin oleh Wisang Sanjaya dan Yudopati ini, menempuh perjalanan dari Jawa Timur hingga tiba di daerah yang kini dikenal dengan nama Dusun Gedangan, Desa Gedangrejo, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul.
 
Di daerah inilah Wisang Sanjaya, Yudopati, dan pelarian lainnya mencoba membaur dengan penduduk sekitar yang tinggal lebih dulu. Warga setempat pun menerima mereka karena sikap mereka yang dikenal ringan tangan dan mudah bergaul. Apalagi masyarakat setempat menganggap para pelarian ini telah berjasa besar dalam membantu mengamankan daerah Gedangan dari serbuan para penjahat yang kala itu sering datang dan mengincar hasil panen para penduduk.Disisi lain, para pelarian dari Kerajaan Majapahit ini pun berusaha memajukan pertanian dengan cara membuat bendungan di Kali Dawe. Bergotong royong bersama masyarakat setempat, para pelarian ini membuat bendungan dan diberi nama bendungan Kali Dawe atau Bendungan Kedung Dawang agar sawah di sekitar daerah Gedangan tidak kekurangan pasokan air.Usaha ini pun membuahkan hasil, sawah-sawah milik para penduduk Gedangan tidak pernah mengalami kekeringan.Setelah Bendungan Dawe selesai dibuat dan berfungsi untuk mengairi sawah serta tiba masa panen, para pelarian dan masyarakat setempat pun menggelar upacara selamatan sebagai perwujudan rasa syukur atas panen yang mereka peroleh sekaligus memohon berkah untuk panen di masa yang akan datang. Upacara selamatan inilah yang kini dikenal dengan nama Upacara Cing-cing Goling.
 
Upacara Cing-cing Goling sejatinya sebuah upacara adat sebagai ritual penghormatan terhadap roh leluhur ataupun roh pelindung masyarakat di Dusun Gedangan, Desa Gedangrejo, Kecamatan Karangmojo. Ritual ini selalu dilaksanakan di saat setelah panen ke-2, yakni sekitar bulan Mei, Juni, dan Juli serta dilaksanakan berdasar hari dalam pasaran Jawa, yaitu hari Senin Wage atau Kamis Kliwon.

Ritual ini berlangsung di Bendungan Dawe. Di tengah-tengah upacara tersebut selalu disajikan pertunjukan tari yang bernama Tari Cing-cing Goling.Tradisi budaya ini pada dasarnya perpaduan antara unsur Hindu yang dibawa oleh pelarian Kerajaan Majapahit dan unsur kejawen dari masyarakat lokal yang mendiami wilayah yang kini dikenal dengan nama Dusun Gedangan.
 


Dengan perpaduan  antar dua kebudayaan ini terjalin harmonisasi kebudayaan yang sarat dengan filosofi perwujudan rasa syukur dengan wujud perayaan selamatan bersama lewat Upacara Cing-cing Goling.
 
Prosesi ritual budaya ini hampir sama dengan prosesi ritual budaya perwujudan rasa syukur di beberapa daerah di Jawa, seperti terdapat berbagai sesaji, dan yang unik adalah adanya pementasan berbagai kesenian adat berupa cerita rakyat dalam bentuk fragmen yang berkisah tentang cerita pelarian orang-orang dari Kerajaan Majapahit yang salah satu alur ceritanya adalah menginjak-injak tanaman pertanian yang terdapat di sekitar bendungan. Hal ini dipercaya oleh masyarakat setempat, bahwa tanaman yang diinjak-injak saat berlangsung Upacara Cing-cing Goling itu akan bertambah subur, serta pementasan Tari Cing-cing Goling. Dan ditutup dengan pembacaan doa oleh pemangku adat untuk keselamatan seluruh penduduk dan kesejahteraan para petani, ratusan ayam, lauk pauk, dan nasi dibagikan kepada para pengunjung dan masyarakat sekitar yang tinggal di dekat Bendungan Dawe.Satu hal yang unik adalah dalam hal sesaji ayam, yakni kemasannya berbentuk œtas yang terbuat dari janur untuk wadah ayamnya. Kemasan dari janur sebenarnya sudah langka untuk kita temukan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat di Gunungkidul


Ucap Syukur Terhadap Sang Khaliq Melalui Ritual Cing Cing Goling



Upacara Nyadran Agung

Nyadran berasal dari kata sodrun yang artinya dada atau hati yang mengandung makna bahwa masyarakat membersihkan hati mereka menjelang datangnya bulan Ramadhan. Makna lain dari yadran, yaitu sadran yang berasal dari kata sudra. Sehingga nyadran berarti menjadi sudra atau berkumpul dengan orang-orang awam. Ini mencerminkan nilai-nilai bahwa pada hakekatnya manusia adalah sama.

Nyadran Agung merupakan salah satu tradisi masyarakat Kulon Progo untuk menyambut datangnya bulan Ramdhan. Ritual ini dilaksanakan pada bulan sya`ban menurut penanggalan Islam bertepatan dengan bulan rowan dalam penanggalan Jawa. Masyarakat berkumpul di alun-alun sebagai ruang publik dengan membawa makanan, hal ini bertujuan untuk mempererat relasi mereka serta sebagai bentuk kearifan lokal dalam melawan budaya individualis yang berkembang di masyarakat yang cenderung mengikuti perkembangan modernitas. Kemudian dilanjutkan dengan membaca tahlil dan doa bersama sebelum menikmati makanan yang mereka bawa dan masing-masing keluarga akan berziarah ke makam leluhur mereka.

Nyadran adalah kesempatan untuk melakukan refleksi asal-usul kehidupan manusia ; untuk apa manusia diciptakan, apa yang telah dilakukan dalam kehidupannya, dan kemana mereka akan kembali. Makna yang terakhir ini terasa lebih mengena ketika mereka pergi ke makam leluhur. Di makam tersebut diharapkan manusia menyadari bahwa kehidupannya tidak bakal abadi di dunia.

Tradisi ini merupakan perpaduan antara nilai-nilai Islam dengan kepercayaan lokal masyarakat Jawa. Jika menilik sejarah perkembangan Islam di tanah Jawa, Islam tidak serta-merta menghapus kepercayaan masyarakat yang telah berkembang. Namun, justru memasukkan nilai-nilai keislaman pada tradisi lokal masyarakat Jawa. Jadilah perpaduan yang unik antara kepercayaan lokal dengan nilai-nilai yang dibawa oleh Islam sebagai keyakinan baru dalam masyarakat Jawa..

Nyadran Agung dilaksanakan setahun sekali di Rumah Dinas Bupati Kulon Progo dan Alun-Alun Wates. Para peserta Nyadran Agung berdoa sambil mengelilingi gunungan dengan berbagai ubo rampe sebagai pelengkap. Gunungan diarak menuju rumah dinas Bupati Kulon Progo. Para pejabat pemerintah dari tingkat kabupaten hingga desa menunggu di rumah dinas bupati. Selajutnya, mereka akan membaca tahlil bersama yang diawali oleh sambutan dari pihak Pemerintah Kabupaten Kulon Progo dan diakhiri pembagian gunungan ke masyarakat yang berada di alun-alun.





IMG_1985
IMG_1993
IMG_2079
 

Read more