0
komentar
Arif Hendra Gunawan
-
JENIS-JENIS ORGANISASI BERDASARKAN KOMERSIAL DAN SOSIAL 2
JENIS-JENIS ORGANISASI
BERDASARKAN KOMERSIAL DAN SOSIAL
JENIS ORGANISASI BERDASARKAN TUJUANNYA
A.
ORGANISASI KOMERSIAL
Organisasi Komersial :Organisasi yang
berkembang di dunia ini sudah sangat berkembang pesat, dari tahun ketahun
banyak terlahir organisasi-organisasi baru dan tidak pandang usia dari remaja
sampai usia lanjut dari organisasi itu sendiri pun bnyak sekali tujuan-tujuan
dari pembuatan organisai itu entah untuk mencari keuntungan (komersil) ataupun
untuk social. Tetapi banyak diantara mereka yang merupakan pendiri dari
organisasi itu hanya mengetahui tujuan nya saja tanpa mengerahui ciri-ciri
organisasi itu dan teori dari organisasi.Terhubung dengan itu makalah ini
dibuat untuk pembaca agar dapat mengenal lebih dari pengertian organisasi serta
masyarakat juga dapat membuat organisasi itu sendiri dan dapat mengelola nya
dengan baik. Inti organisasi belajar adalah kemampuan organisasi untuk memanfaatkan
kapasitas mental dari semua anggotanya guna menciptakan sejenis proses yang
akan menyempurnakan organisasi
Organisasi Niaga (Komersial)
Organisasi dibentuk dengan tujuan untuk
menghasilkan keuntungan. organisasi
niaga dibentuk untuk mendapatkan profit dan meningkatkan kemakmuran organisasi
tersebut beserta orang-orang yang terlibat di dalamnya. Pemilik dan operator
dari sebuah organisasi niagamendapatkan imbalan sesuai dengan waktu, usaha,
atau kapital yang mereka berikan. Namun tidak semua organisasi niaga mengejar
keuntungan seperti ini, misalnya organisasi niaga koperatif yang bertujuan
meningkatkan kesejahteraan semua anggotanya atau institusi pemerintah yang
bertujuan meningkatkan kesejahteraan rakyat.
B.
ORGANISASI SOSIAL
Pengertian organisasi sosial menurut
Amitai Etzioni[1]organisasi adalah unit sosial (pengelompokan manusia) yang
sengaja dibentuk dan dibentuk kembali dengan penuh pertimbangan dalam rangka
mencapai tujuan tertentu. Etzioni menjelaskan umumnya organisasi ditandai ciri
sebagai berikut : (1) pembagian kerja, kekuasaan, dan tanggung jawab
komunikasil; (2) ada satu atau beberapa pusat kekuasaan yang berfungsi
mengawasi usaha-usaha organisasi serta mengarahkan organisasi dalam mencapai
tujuan; (3) ada pergantian tenaga (kaderisasi) bila ada individu yang tak mampu
menjalankan tugas-tugas organisasi.
Pengertian lainnya : organisasi adalah
suatu sistem sosial yang bersifat langgeng, formal, memiliki identitas kolektif
yang tegas, daftar anggotanya terinci, dan mempunyai sifat hirarkis.
Gagasan penting kedua dalam organisasi
adalah adanya tujuan atau maksud melakukan koordinasi. Selanjutnya, proses
pelaksanaan tugas dapat berjalan efektif bila dilakukan terpadu/ terintegrasi
yang dilaksa-nakan oleh anggota-anggotanya.
Jenis –
jenis Organisasi Sosial
a.Organisasi Normatif
Adalah pihak elite menjalankan
organisasi/ mengawasi anggota lebih dominan menggunakan kekuasaan normatif
(persuasif). Bentuk partisipasi anggota adalah dengan komitmen moral.
b. Organisasi Utilitarian
Adalah pihak elite mengawasi anggota
dominan menggunakan kekuasaan utilitarian. Partisipasi anggota berdasarkan
komitmen perhitungan yaitu pemikiran hubungan bisnis, sangat perhitungkan
untung rugi.
c. Organisasi Koersi
Adalah pihak elite menggunakan kekuasaan
koersi dalam mengawasi anggotanya. Koersi adalah segala jenis paksaan, ancaman,
dan intimidasi yang digunakan untuk mempengaruhi perilaku orang lain.
Organisasi sosial adalah perkumpulan
sosial yang dibentuk olehmasyarakat, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak
berbadanhukum, yang berfungsi sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam
pembangunan bangsa dan negara. Sebagai makhluk yang selalu hidup bersama-sama,
manusia membentuk organisasi sosial untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu
yang tidak dapat mereka capai sendiri.
Ada dua istilah yang digunakan, yaitu
”social institution” dan ”lembaga
kemasyarakatan”. Antropolog
mengislahkan “social intitution” (penekanan
sistem nilainya) Sosiolog mengistilahkan lembaga kemasyarakatan atau lembaga sosial (menekankan sistem norma yang
memiliki bentuk dan yang abstrak). Awalnya lembaga sosial terbentuk dari
norma-norma yang dianggap penting dalam hidup bermasyarakatan. Terbentuknya
lembaga sosial berawal dari individu yang saling membutuhkan , kemudian timbul aturan-aturan yang disebut
dengan norma kemasyarakatan. Lembaga sosial sering juga dikatakan sebagai
sebagai Pranata sosial. Lembaga sosial merupakan tata cara yg telah diciptakan
untuk mengatur hubungan antar manusia dalam sebuah wadah yang disebut dengan
Asosiasi. Asosiasi memiliki seperangkat aturan, tata tertib, anggota dan tujuan
yang jelas, sehingga berwujud kongkrit.
Bentuk Bentuk Kerjasama
Joint Venture :
Adalah bergabungnya suatu perusahaan
dengan perusahaan lain untuk menjalankan aktivasi ekonomi bersama. Pihak pihak
itu setuju untuk berkelompok dengan menyumbang keadilan pemilikan dan kemudian
saham dalam penerimaan biaya dan control perusahaan.
Holding :
Perusahaan induk atau Holding Company adalah
perusahaan utama yang membawahi beberapa perusahaan yang tergabung ke dalam
satu grup perusahaan. Melalui pengelompokan perusahaan kedalam induk perusahaan
yang bertujuan untuk meningkatkan atau menciptakan nilai pasar perusahaan
(market value creation).
Kartel :
Sering terbentuk oleh para peserta tender
yang bertujuan untuk memanipulasi pemenang tender, yang menguntungkan salah
satu anggota kartel tersebut. Praktik yang juga digolongkan sebagai korupsi ini
dapat dilakukan dengan atau tanpa adanya keterlibatan pejabat Negara
didalamnya. Sementara kolusi biasanya merupakan bentuk kesepakatan dari peserta
tender untuk menetapkan giliran pemenang tender atau kesepakatan pembayaran
kompensasi kepada pihak yang kalah tender karena memasukkan penawaran yang lebih
tinggi.
Trust :
Trust atau kepercayaan adalah suatu
kepercayaan dari atasan untuk bawahan atau sebaliknya. Hubungan tersebut
merupakan hal yang sangat penting agar kerjasama dapat tercipta dengan efektif.
Bentuk trust yang muncul sangat jelas terjasi ketika atasan dan bawahan saling
mengenal Knowledge Based Trust atau pengetahuan berdasarkan kepercayaan, namun
baik di awal hubungan mereka ketika mereka masih menjadi stranger atau orang
asing.
Konflik dalam Organisasi
Konflik berasal dari kata kerja Latin
configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan
sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok)
dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan
menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya.
Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan
ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatuinteraksi. perbedaan-perbedaan
tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan,
adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Dengan dibawasertanya ciri-ciri
individual dalam interaksi sosial, konflik merupakan situasi yang wajar dalam
setiap masyarakat dan tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami
konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya
akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.
Konflik bertentangan dengan integrasi.
Konflik dan Integrasi berjalan sebagai sebuah siklus di masyarakat. Konflik
yang terkontrol akan menghasilkan integrasi. sebaliknya, integrasi yang tidak
sempurna dapat menciptakan konflik.
Penanganan Konflik :
Metode yang sering digunakan untuk
menangani konflik adalah pertama dengan mengurangi konflik; kedua dengan
menyelesaikan konflik. Untuk metode pengurangan konflik salah satu cara yang
sering efektif adalah dengan mendinginkan persoalan terlebih dahulu (cooling
thing down). Meskipun demikian cara semacam ini sebenarnya belum menyentuh
persoalan yang sebenarnya. Cara lain adalah dengan membuat “musuh bersama”,
sehingga para anggota di dalam kelompok tersebut bersatu untuk menghadapi
“musuh” tersebut. Cara semacam ini sebenarnya juga hanya mengalihkan perhatian
para anggota kelompok yang sedang mengalami konflik.
Cara kedua dengan metode penyelesaian
konflik. Cara yang ditempuh adalah dengan mendominasi atau menekan, berkompromi
dan penyelesaian masalah secara integratif.
A. Dominasi (Penekanan)
Dominasi dan penekanan mempunyai
persamaan makna, yaitu keduanya menekan konflik, dan bukan memecahkannya,
dengan memaksanya “tenggelam” ke bawah permukaan dan mereka menciptakan situasi
yang menang dan yang kalah. Pihak yang kalah biasanya terpaksa memberikan jalan
kepada yang lebih tinggi kekuasaannya, menjadi kecewa dan dendam. Penekanan dan
dominasi bisa dinyatakan dalam bentuk pemaksaan sampai dengan pengambilan
keputusan dengan suara terbanyak (voting).
B. Kompromi
Melalui kompromi mencoba menyelesaikan
konflik dengan menemukan dasar yang di tengah dari dua pihak yang berkonflik (
win-win solution ). Cara ini lebih memperkecil kemungkinan untuk munculnya
permusuhan yang terpendam dari dua belah pihak yang berkonflik, karena tidak
ada yang merasa menang maupun kalah. Meskipun demikian, dipandang dari
pertimbangan organisasi pemecahan ini bukanlah cara yang terbaik, karena tidak
membuat penyelesaian yang terbaik pula bagi organisasi, hanya untuk
menyenangkan kedua belah pihak yang saling bertentangan atau berkonflik.
C. Penyelesaian Secara Integratife
Dengan menyelesaikan konflik secara
integratif, konflik antar kelompok diubah menjadi situasi pemecahan persoalan
bersama yang bisa dipecahkan dengan bantuan tehnik-tehnik pemecahan masalah
(problem solving). Pihak-pihak yang bertentangan bersama-sama mencoba
memecahkan masalahnya,dan bukan hanya mencoba menekan konflik atau berkompromi.
Meskipun hal ini merupakan cara yang terbaik bagi organisasi, dalam prakteknya
sering sulit tercapai secara memuaskan karena kurang adanya kemauan yang
sunguh-sungguh dan jujur untuk memecahkan persoalan yang menimbulkan persoalan.
Tugas Softskill Teori Organisasi Umum
ORGANISASI
Organisasi secara etimologi berasal
dari bahasa latin organizare, kemudian (inggris) organize yang berarti
membentuk suatu kebulatan dari bagian-bagian yang berkaitan satu sama lainnya.
Pengertian organisasi menurut :
-Dimok
“organisasi adalah perpaduan secara sistematika dari bagian-bagian yang saling bergantung atau berkaitan untuk membentuk satu kesatuan yang bulat melalui kewenangan, koordinasi dan pengawasan dalam rangka usaha untuk mencapai tjuan yang telah ditentukan”.
“organisasi adalah perpaduan secara sistematika dari bagian-bagian yang saling bergantung atau berkaitan untuk membentuk satu kesatuan yang bulat melalui kewenangan, koordinasi dan pengawasan dalam rangka usaha untuk mencapai tjuan yang telah ditentukan”.
-Steven P. Robbin
Pengertian dari organisasi adalah
salah satu unit sosial yang dikoordinasikan secara sengaja terdiri daridua
orang atau lebih yan berfungsi dan berwenang untuk mengerjakan usaha mancapai
tujuan yang yang telah ditentukan. organisasi juga diartikan sebagai kolektivitas
orang-orang yang bekerja sama secara sadar dan sengaja untuk mencapai tujuan
tertentu (1985:7)
-Gibson
Mendefinisikan organisasi sebagai
kesatuan yang memungkinkan masyarakat untuk mencapai tujuan tertentu yang tida
dapat dicapai individu secara perorangan.sementara drucker dalam nugroho
(2002:241) mengungkapkan bahwa akan terbentuk masyarakat modern yaitu
masyarakat organisasi.
-Sondang siagian
-Sondang siagian
Cenderung menelaah orgnisasi dari
sudut pandang yang berbeda yaitu organisasi ditelaah dengan pendekatan
structural dan organisasi ditelaah dari sudut pandang keprilakuan. pendekatan
yang sifatnya struktural menyoroti organisasi sebagai tempat atau wadah, hal
ini berarti:
- organisasi dipandang merupakan penggambaran jaringan hubungan kerja yang bersifat formal serta tergambar pad “kotak-kotak”, kedudukan dan jabatan yang diduduki oleh orang-orang.
- organisasi dipandang sebagai rangkaian hierarki kedudukan yang menggambarkan secara jelas garis kewenangan dan tanggung jawab.
- organisasi dipandang sebagai alat pencapaian tujuan yang telah ditentukan sebelumnya dan strukturnya bersifat permanen tanpa menutup kemungkinan terjadinya reorganisasi apabila hal itu dipandang perlu baik demi percepatan laju usah pencapaian tujuan maupun dalam usaha peningkatan efisiensi, efektivitas dan produktivitas kerja.
Ciri-Ciri Organisasi
Organisasi harus memiliki tiga unsur
dasar, yaitu :
a. Orang-orang atau sekumpulan orang
b. Kerjasama
c. Tujuan yang ingin dicapai
Dengan demikian organisasi merupakan sarana untuk melakukan kerjasama antara orang-orang dalam rangka mencapai tujuan bersama, dengan mendayagunakan sumber daya yang dimiliki.
Seperti telah diuraikan di atas bahwa organisasi memiliki tiga unsur dasar, dan secara lebih rinci organisasi memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a. Adanya suatu kelompok orang yang dapat dikenal dan saling mengenal,
b. Adanya kegiatan yang berbeda-beda, tetapi satu sama lain saling berkaitan (interdependent part) yang merupakan kesatuan kegiatan,
c. Tiap-tiap orang memberikan sumbangan atau kontribusinya berupa; pemikiran, tenaga, dan lain-lain,
d. Adanya kewenangan, koordinasi dan pengawasan,
e. Adanya tujuan yang ingin dicapai.
a. Orang-orang atau sekumpulan orang
b. Kerjasama
c. Tujuan yang ingin dicapai
Dengan demikian organisasi merupakan sarana untuk melakukan kerjasama antara orang-orang dalam rangka mencapai tujuan bersama, dengan mendayagunakan sumber daya yang dimiliki.
Seperti telah diuraikan di atas bahwa organisasi memiliki tiga unsur dasar, dan secara lebih rinci organisasi memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a. Adanya suatu kelompok orang yang dapat dikenal dan saling mengenal,
b. Adanya kegiatan yang berbeda-beda, tetapi satu sama lain saling berkaitan (interdependent part) yang merupakan kesatuan kegiatan,
c. Tiap-tiap orang memberikan sumbangan atau kontribusinya berupa; pemikiran, tenaga, dan lain-lain,
d. Adanya kewenangan, koordinasi dan pengawasan,
e. Adanya tujuan yang ingin dicapai.
Ilmu organisasi merupakan ilmu yang
penting dimiliki, karena dalam kehidupan kita tidak lepas dari organisasi. Di
mulai dari lingkungan yang sederhana dari keluarga, hingga struktur yang rumit
seperti organisasi pemerintahan.
a.
ciri-ciri organisasi, yaitu :
1. Adanya komponen
( atasan dan bawahan) .
2. Adanya kerja
sama (cooperative yang berstruktur dari sekelompok orang).
3. Adanya tujuan .
4. Adanya sasaran
.
5. Adanya
keterikatan format dan tata tertib yang harus ditaati .
6. Adanya
pendelegasian wewenang dan koordinasi tugas-tugas.
b.
Ciri-ciri Organisasi Modern
1. Organisasi bertambah besar
2. Pengolahan data semakin cepat
3. Penggunaan staf lebih intensif
4. Kecendrungan spesialisasi
5. Adanya prinsip-prinsip atau
azas-azas organisasi
6. Unsur-unsur organisasi lebih
lengkap
UNSUR-UNSUR
ORGANISASI
1. Manusia
(Man).
2.
Kerjasama.
3. Tujuan
Bersama.
4.
Peralatan (Equipment).
5.
Lingkungan.
6.
Kekayaan alam.
7.
Kerangka/Konstruksi mental
Secara
garis besar organisasi mempunyai tiga unsur yaitu :
1.
Manusia.
2.
Kerjasama.
3. Tujuan bersama-sama.
Dari ketiga unsur tersebut saling
terkait dan mempunyai satu kesatuan. dari berbagai macam teori organisasi yang
di kemukakan oleh para ahli tidak ada satu pun yang memiliki kebenaran mutlak.
dan antara teori organisasi yang satu dengan yang lain saling melengkapi.
Setiap bentuk organisasi akan
mempunyai unsur-unsur tertentu, yang antara lain sebagai berikut:
1. Sebagai wadah atau tempat untuk
bekerja sama.
2. Proses kerja sama sedikitnya
antara dua orang
3. Jelas tugas dan kedudukannya
masing-masing
4. Ada tujuan tertentu
Secara ringkas unsur-unsur
organisasi yang paling dasar adalah
1. Harus ada wadah atau tempatnya
untuk bekerja sama.
2. Harus ada orang-orang yang
bekerja sama.
3. Kedudukan dan tugas masing-masing
orang harus jelas.
4. Harus ada tujuan bersama yang mau
dicapai.
Unsur dasar yang membentuk suatu
organisasi terdiri dari :
-Anggota organisasi
Yaitu, Orang-orang yang melaksanakan
pekerjaan organisasi, membentuk organisasi serta terlibat dalam beberapa
kegiatan primer. Orang-orang ini terlibat juga dalam kegiatan
pemikiran-pemikiran yang meliputi konsep-konsep, penggunaan bahasa, pemecahan
masalah, dan pembentukan gagasan. Mereka juga terlibat dalam kegiatan-kegiatan
perasaan yang mencakup emosi, keinginan, dan aspek-aspek perilaku manusia
lainnya yang bukan aspek intelektual. Mereka juga terlibat dalam kegiatan
self-moving (mencakup kegiatan fisik). Dan mereka terlibat juga dalam kegiatan
elektrokimia yang mencakup brain synaps (daerah kontak otak tempat impuls saraf
ditransmisikan hanya ke satu arah).
-Pekerjaan dalam organisasi
Pekerjaan ini terdiri dari
tugas-tugas formal dan tugas-tugas informal. Tugas-tuguas ini menghasilkan
produk dan memberikan pelyanan organisasi. Pekerjaan ini ditandai oleh tiga
dimensi universl :
1. Isi
2. Keperluan
3. Konteks
-Praktik-praktik pengelolaan
Tujuan primer pegawai manejerial
adalah menyelesaikan pekerjaan melalui usaha orang lainnya. Manejer membuat
keputusan mengenai bagaimana orang-orang lainnya, biasanya bawahan mereka,
menggunakan sumber daya yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan mereka.
Sebagian manejer membawahi para pekerja yang beroperasi dan sebagian lainnya
membawahi manejer-manejer lainnya.
-Stuktur Organisasi
Merujuk kepada hubungan-hubungan
antara tugas-tugas yang dilaksanakan oleh anggota-anggota organisasi. Struktur
organisasi di entukan oleh tiga variable kunci :
1. Kompleksitas
2. Formalisasi
3. Sentralisasi
-Pedoman Organisasi
Adalah serangkaian pernyataan yang
mempengaruhi, mengendalikan dan memberi arahan bagi anggota organisasi dalam
mengambil keputusan dan tindakan. Pedoman organisasi tersiri atas :
pernyataan-pernyataan seperti cita-cita, misi, tujuan, strategi, kebijakan,
prosedur dan aturan.
Merujuk kepada hubungan-hubungan
antara tugas-tugas yang dilaksanakan oleh anggota-anggota organisasi. Struktur
organisasi di entukan oleh tiga variable kunci :
-Macam- Macam Bentuk Bagan Dalam
Struktur Organisasi
Dalam suatu Organisasi pasti lah ada
juga sebuh Stuktur nya jika dalam organisasi tidak ada strukturnya maka suatu
perusahaan itu pasti akan bobrok dan hancur dalam penyusunan jabatannya
masing-masing dan berikut adalah contoh dari gambar Bagan yang biasa
perusahaan-perusahaan pakai pada umumnya yaitu:
A. Bagan Horizontal
mengapa bagan tersebut di katakan horizontal
karena pada bagan tersebut jika semakin banyak jabatan-jabatan yang di buat
dalam perusahaan tersebut maka bagan ini akan semakin luas menyamping
Bagan
Struktur Organisasi Berbentuk Horizontal
B. Bagan Vertikal
Bagan vertikal adalah kebalikan dari bagan Horizontal. Bagan Vertikal
pada umumnya bagan ini jika dalam perusahaan banyak sekali jabatan atau
kepala-kepala bagian dari masing-masing divisi maka bagan ini akan semakin
panjang ke bawah.
Bagan
Struktur Organisasi Berbentuk Vertikal
C. Bagan Lingkaran
Kenapa bagan ini berbentuk lingkaran
karna mungkin dalam suatu perusahaan memang sangat memiliki perbedaan
tersendiri dalam menyusun bagian-bagian dari perusahaan itu tersebut oleh
karena itu banyak sekali model bagan yang terbentuk. pada model bagan ini jika
setiap penambahan anggota maka bagan ini akan bertambah diameternya dan semakin
membesar.
Bagan
Struktur Organisasi Berbentuk Lingkaran
D. Bagan Piramid
Bagan ini sangat mudah digunakan
karna bentuknya seperti Piramid yang menempatkan bagian-bagian dalam perusahaan
yang paling tertinggi di letakan pada bagian TOP dan untuk karyawan di letakan
MID dan untuk Office Boy di letakan pada Bagian LOWER.
Bagan
Piramid
(sumber :
http://ariantocahyadi.blogspot.com/2011/10/bentuk-bagan-struktur-organisasi.html)
pada umumnya bagan yang paling
sering di gunakan adalah bagan Horizontal dan bagan Vertikal karena bentuk dan
pola yang cukup simple sehingga lebih mudah di mengerti oleh khalayak .
Sumber : http://darkzone7.blogspot.com/2012/10/teori-organisasi-umum-1-macam-macam.html#ixzz2hVQ3GLRn
Tugas IBD Resensi Film
RESENSI NOVEL DAN FILM
TUGAS ILMU BUDAYA DASAR
Resensi: Madre

Hidup Tansen (Vino G. Bastian) tiba-tiba berubah.
Tiba-tiba Tansen harus pergi ke Bandung. Tiba-tiba Tansen mengetahui jejak keluarganya. Tiba-tiba Tansen mendapat sebuah warisan adonan biang roti bernama Madre. Tiba-tiba Tansen memanggul tanggung jawab dari Pak Hadi (Didi Petet) yang mengharapkan dirinya untuk bisa menghidupkan Tan De Bakker -usaha toko roti milik kakeknya- lagi. Tiba-tiba Tansen bertemu Mei (Laura Basuki). Tiba-tiba Tansen jatuh cinta. Tiba-tiba semuanya tidak lagi sama.
Tiba-tiba Tansen harus pergi ke Bandung. Tiba-tiba Tansen mengetahui jejak keluarganya. Tiba-tiba Tansen mendapat sebuah warisan adonan biang roti bernama Madre. Tiba-tiba Tansen memanggul tanggung jawab dari Pak Hadi (Didi Petet) yang mengharapkan dirinya untuk bisa menghidupkan Tan De Bakker -usaha toko roti milik kakeknya- lagi. Tiba-tiba Tansen bertemu Mei (Laura Basuki). Tiba-tiba Tansen jatuh cinta. Tiba-tiba semuanya tidak lagi sama.
Setelah Perahu Kertas dan RectoVerso, Madre
menjadi karya ketiga Dewi Lestari yang diadaptasi menjadi film. Kali ini, Benni
Setiawan dipercaya untuk menulis skenario dan menyutradarai filmnya. Bagaimana
hasilnya?
Sebagai pembaca, penulis, dan seseorang yang
pernah mengadaptasi buku menjadi skenario, gue tahu buku dan film adalah dua
medium yang berbeda. Untuk itu, dalam review ini gue berupaya sebisa mungkin
untuk tidak mengingat isi bukunya dan membandingkan film dengan buku.
Buat gue, film menjadi salah satu cara untuk
mentransfer rasa. Sebagai sebuah film, gue bingung dengan rasa apa yang ingin
Madre sampaikan ke penontonnya. Buat gue, adonan Madre kurang pas. Cerita Madre
seolah bingung mau berjalan kemana. Ada
dua konflik besar yang harus dihadapi Tansen. Pertama, Madre dan Tan De Bakker.
Kedua, Mei.
Dua konflik tersebut sebetulnya bisa diolah
menjadi sajian yang pas, asal takarannya tepat. Tapi dalam Madre, konflik
tersebut terasa berdiri sendiri-sendiri dan membuat filmnya hambar. Madre
seperti kurang rasa. Adonan dua konflik yang gue tulis di atas tidak menyatu
dengan enak. Hal itu membuat gue tidak merasakan apapun ketika melihat
pergulatan Tansen, yang sebetulnya sangat bisa membuat emosi penonton
diaduk-aduk. Emosi gue tidak diikat.
Vino G. Bastian yang berperan sebagai Tansen
berupaya cukup keras untuk bisa menghidupkan karakternya. Sayangnya, rambut
gimbal dan kulit cokelat tidak cukup untuk bisa membuat Tansen terlihat hidup.
Bukan berarti Vino tidak bagus, hanya saja terasa kurang pas. Laura Basuki yang
aktingnya hampir mirip dengan film-film sebelumnya cukup bisa membawa penonton
terhanyut dengan drama hidup karakter Mei. Didi Petet memberi warna komedi di
film ini lewat peran Pak Hadi, momen-momen segar filmnya kerap datang dari
akting naturalnya.
Ada satu hal yang
menyenangkan di film ini: disulapnya sebuah bangunan di jalan Braga sebagai set Tan De Bakker. Tata
artistiknya cantik. Gue yang jatuh cinta dengan Bandung
mendadak ingin ke Bandung
ketika selesai menyaksikan Madre. Gue pengin duduk di kursi yang ada di depan
Tan De Bakker, kayaknya enak banget duduk di situ sambil ngopi dan makan roti
#eaaa.
Sekali lagi, Andhika Triyadi membuktikan bahwa ia
memang pemusik handal. Musik buatannya untuk Madre berhasil memberikan mood
tersendiri untuk filmnya. Sayangnya, penempatan musik Andhika dan lagu
pengiring filmnya terkadang terasa tidak pas. Entah mengapa, gue merasa
pemilihan lagu Jodoh Pasti Bertemu yang dinyanyikan Afgan kurang klop dengan
ceritanya.
Gue mengerti bahwa Benni Setiawan memiliki
penafasiran tersendiri untuk Madre. Gue juga menghargai sekali usahanya dalam
menghidupkan Madre, terlebih dengan upayanya membuat Tan De Bakker menjadi
nyata. Sayangnya, lagi-lagi gue merasa adonan yang dibuat terasa kurang bumbu.
Gue tidak merasa segembira Mei ketika mengigit roti buatan Tansen ketika
menyaksikan film ini.
Madre
Produksi: Mizan Production
Produser: Putut Widjanarko, Avesina Soebli
Sutradara dan Penulis: Benni Setiawan
Pemain: Vino G. Bastian, Laura Basuki, Didi Petet, Titi Qadarsih, Framly Nainggolan
Produksi: Mizan Production
Produser: Putut Widjanarko, Avesina Soebli
Sutradara dan Penulis: Benni Setiawan
Pemain: Vino G. Bastian, Laura Basuki, Didi Petet, Titi Qadarsih, Framly Nainggolan
Tugas IBD
Upacara Bekakak
Sebagai pusat kerajaan-kerajaan
besar terdahulu, pulau Jawa khususnya kota Yogyakarta / Jogja memiliki kesenian
khas dan kebudayaan yang tinggi, bahkan merupakan pusat serta sumber kesenian
di Indonesia. Salah satu budaya yang sekarang masih ada dan diperingati setian
tahunnya adalah upacara Bekakak. Pada bulan Safar Masyarakat Desa
Ambarketawang, Gamping, Sleman, Yogyakarta, melaksanakan berbagai ritual atau
upacara adat. Ritual tersebut biasa dikenal dengan nama Saparan Bekakak. Nama
Saparan diambil dari nama bulan Safar yang biasa dilafalkan oleh masyarakat
Jawa menjadi bulan Sapar. Nama Bekakak sendiri karena dalam peelengkapan
upacara ini terdapat sepasang pengantin bekakak.
Upacara adat ini sudah berlangsung sejak masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono I, tepatnya antara tahun 1755 hingga 1792. Ritual ini digelar sebagai bentuk permohonan keselamatan warga Gamping. Tradisi yang sudah berumur hampir seusia Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ini bermula dari kisah sepasang pengantin yang meninggal di Gunung Gamping. Bekakak berati korban penyembelihan manusia atau hewan. hanya saja, bekakak yang disembelih zaman sekarang hanya tepung ketan yang dibentuk seperti pengantin laki-laki dan perempuan yang sedang duduk bersilah. Sebelum diarak untuk disembelih, pada malam sebelumnya diadakan upacara midodareni layaknya pengantin sejati. Menurut kepercayaan masyarakat, pada malam menjelang perkimpoian, para bidadari turun ke bumi untuk memberi restu. Orang-orang begadang suntuk demi menyambut kedatangan para bidadari tersebut. Upacara ini dilakukan untuk menghormati awah Kyai dan Nyai Wirasuta yang menjadi abdi dalem Penangsang HB I, bertugas membawa payung kebesaran Pakubuwono I. Oleh masyarakat sekitar, mereka dianggap sebagai cikal bakal penduduk Gamping. Upacara dimulai dengan kirab sepasang boneka pengantin Bekakak yang terbuat dari ketan dan cairan gula merah.
Nantinya, pengantin bekakak akan diarak menuju Gunung Gamping dan Gunung Kiling. Sebelum arak-arakan dimulai, akan terlebih dahulu digelar pementasan fragmen "Prasetyaning Sang Abdi" yang menceritakan tentang kisah Ki Wirosuto. Setelah pementasan fragmen selesai, baru arak-arakan dimulai diikuti tiga buah joli yang berisi sesajen. Keunikan lain akan muncul saat upacara ini berlangsung. Di tengah-tengah ritual, biasanya akan muncul sekelompok anak yang berperan sebagai anak genderuwo. Anak-anak ini berjumlah 50-an anak dan didampingi sepasang genderuwo. Mereka bertugas mengawal pengantin bekakak.
Upacara adat ini sudah berlangsung sejak masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono I, tepatnya antara tahun 1755 hingga 1792. Ritual ini digelar sebagai bentuk permohonan keselamatan warga Gamping. Tradisi yang sudah berumur hampir seusia Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ini bermula dari kisah sepasang pengantin yang meninggal di Gunung Gamping. Bekakak berati korban penyembelihan manusia atau hewan. hanya saja, bekakak yang disembelih zaman sekarang hanya tepung ketan yang dibentuk seperti pengantin laki-laki dan perempuan yang sedang duduk bersilah. Sebelum diarak untuk disembelih, pada malam sebelumnya diadakan upacara midodareni layaknya pengantin sejati. Menurut kepercayaan masyarakat, pada malam menjelang perkimpoian, para bidadari turun ke bumi untuk memberi restu. Orang-orang begadang suntuk demi menyambut kedatangan para bidadari tersebut. Upacara ini dilakukan untuk menghormati awah Kyai dan Nyai Wirasuta yang menjadi abdi dalem Penangsang HB I, bertugas membawa payung kebesaran Pakubuwono I. Oleh masyarakat sekitar, mereka dianggap sebagai cikal bakal penduduk Gamping. Upacara dimulai dengan kirab sepasang boneka pengantin Bekakak yang terbuat dari ketan dan cairan gula merah.
Nantinya, pengantin bekakak akan diarak menuju Gunung Gamping dan Gunung Kiling. Sebelum arak-arakan dimulai, akan terlebih dahulu digelar pementasan fragmen "Prasetyaning Sang Abdi" yang menceritakan tentang kisah Ki Wirosuto. Setelah pementasan fragmen selesai, baru arak-arakan dimulai diikuti tiga buah joli yang berisi sesajen. Keunikan lain akan muncul saat upacara ini berlangsung. Di tengah-tengah ritual, biasanya akan muncul sekelompok anak yang berperan sebagai anak genderuwo. Anak-anak ini berjumlah 50-an anak dan didampingi sepasang genderuwo. Mereka bertugas mengawal pengantin bekakak.



Upacara
Gerebeg
Gerebeg atau grebeg mempunyai arti "suara angin".
Garebeg merupakan salah satu adat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang untuk
pertama kalinya diselenggarakan oleh Sultan Hamengku Buwana I. Upacara kerajaan
ini melibatkan seluruh Kraton, segenap aparat kerajaan serta melibatkan seluruh
lapisan masyarakat. Secara formal, garebeg bersifat keagamaan yang dikaitkan
dengan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW serta kedua hari raya Islam (Idul Fitri
dan Idhul Adha).
Garebeg secara politik juga
menjabarkan gelar Sultan yang bersifat kemuslimatan (Ngabdurrahman Sayidin
Panotogomo Kalifatullah). Selama satu tahun terdapat tiga kali upacara
garebeg yaitu Garebeg Mulud, Garebeg Besar, dan Garebeg Sawal yang
diselenggarakan di kompleks Kraton dan lingkungan sekitarnya, seperti di
Alun-alun Utara.
Garebeg Mulud diselenggarakan untuk
memperingati hari kelahiran (maulid) Nabi Muhammad SAW yang jatuh tepat
pada tanggal 12 Rabiulawal. Bulan Rabiulawal disebut juga bulan Mulud dalam
kalender Jawa-Islam. Itulah sebabnya garebeg yang diselenggarakan untuk
memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, disebut Garebeg Mulud.
Sebenarnya tanggal 12 Rabiulawal mempunyai dua arti penting dalam riwayat hidup
Sang Nabi, karena diyakini oleh umat Islam bahwa Nabi Muhammad SAW lahir dan
wafat pada tanggal dan bulan yang sama.
Tradisi memperingati hari lahir Sang
Nabi ini baru tumbuh setelah agama Islam berkembang luas ke negara-negara lain
di luar jazirah Arab. Hari lahir Nabi Muhammad SAW bukanlah hari raya resmi
Islam, sebab Islam hanya mengenal dua hari raya, yaitu Idul Fitri dan Idul
Adha. Perayaan hari lahir Nabi Muhammad SAW sebagai upacara kerajaan ini
dipelopori oleh Kesultanan Demak, dari zaman ke zaman dilestarikan oleh para
raja Jawa yang kemudian dikenal sangat populer sebagai Garebeg Mulud.
Sebelum Garebeg Mulud
diselenggarakan, terdapat beberapa kegiatan adat yang dilaksanakan dalam
lingkungan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, yaitu:
- Upacara Gladi Resik untuk kesiapan prajurit Kraton oleh Bupati Nayoko Kawedanan Ageng Prajurit,
- Upacara Numplak Wajik sebagai tanda permulaan pembuatan gunungan,
- Upacara Miyosipun Hajad Dalem sebagai puncak upacara dengan mengiring keluarnya Hajad Dalem yang berujud gunungan dari dalam Kraton ke Masjid Besar oleh Kyai Pengulu Kraton.
- Upacara Gladi Resik untuk kesiapan prajurit Kraton oleh Bupati Nayoko Kawedanan Ageng Prajurit,
- Upacara Numplak Wajik sebagai tanda permulaan pembuatan gunungan,
- Upacara Miyosipun Hajad Dalem sebagai puncak upacara dengan mengiring keluarnya Hajad Dalem yang berujud gunungan dari dalam Kraton ke Masjid Besar oleh Kyai Pengulu Kraton.
Selain Garebeg Mulud, Kraton
Ngayogyakarta Hadiningrat juga menyelenggarakan Garebeg Mulud Dal yang terjadi
setiap satu windu sekali, dan dilaksanakan secara istimewa dengan penuh
kemegahan, serta lebih banyak mengungkapkan unsur-unsur kebudayaan lama
identitas raja, kerajaan Jawa.
Dalam Garebeg Mulud Dal, Sultan
hadir di Masjid Besar di tengah publik dengan memperlihatkan tradisi Kejawen
yang penuh dengan unsur-unsur kebudayaan Jawa Kuno, berbagai macam pusaka
Kraton yang sangat keramat sebagai pernyataan tradisional bahwa sultan dan
Kasultanan Yogyakarta adalah ahli waris sah dari para raja dan kerajaan Jawa
terdahulu. Juga menyatakan sikap tradisional sultan sebagai wakil dari suku
bangsanya dalam memuliakan para leluhur.
Kehadiran Sultan di Masjid Besar
ditujukan juga untuk melakukan kegiatan religius Islam yakni menendang tumpukan
batu-bata yang ditempatkan di pintu terbuka di pagar tembok bagian selatan
Masjid Besar. Hal ini merupakan tindakan simbolik yang melambangkan rakyat pada
zaman Kasultanan Demak secara resmi telah meninggalkan agama HinduĂŻ¿½Budha
untuk memeluk agama Islam. Upacara ini dilakukan hanya setiap delapan tahun
sekali atau sekali dalam sewindu.
Gunungan Mulud Dal disebut sebagai
Gunungan Kutug atau Gunungan Bromo. Di bagian puncak, diberi lubang untuk
menampakkan sebuah anglo berisi bara yang membakar segumpal besar kemenyan,
sehingga secara terus menerus mengepulkan asap tebal jika dihembus angin.
Pajangannya berupa beraneka macam kue berwarna-warni hampir sama dengan
pajangan Gunungan Lanang, bervariasi dengan Gunungan Wadon. Di bagian bawah,
beralaskan kain banung tulak dan diletakkan tegak di atas sebuah nampan
raksasa berkerangka kayu berukuran 2 x 1,5 m.

Upacara Cembengan
Cembengan sendiri berasal
dari kata Ching Bing (Cheng Beng) yaitu ritual khas tionghoa untuk mendoakan
roh nenek moyang. Istilah ini dikenalkan oleh para kuli yang bekerja pada
pabrik gula milik pemerintah Hindia Belanda. Kuli adalah kata yang berasal dari
bahasa mandarin yang mempunyai arti pekerja kasar, dimana waktu itu banyak
didatangkan pekerja-pekerja kasar dari Negeri Cina untuk bekerja di berbagai
perkebunan milik Belanda. Para pekerja itulah yang pertama kali mebawa tradisi
Ching Bing, sebagai ritual diawal musim giling tebu. Perayaan Cembengan dengan
nuansa jawa mulai dikenal ketika kaum ningrat masuk ke bisnis gula, salah
satunya adalah Mangkunegara ke IV yang banyak mempunyai Pabrik Gula di
sekitar Jawa Tengah di era tahun 1800an.
Wayangan di dalam
stasiun giling pabrik gula
Pada perayaan Cembengan
di Pabrik Gula Mojo, juga di awali dengan ziarah dan mendoakan para leluhur
yaitu Mbah Paleh dan mbah
Krandah yang
merupakanpengikut Kyai Adipati
Djayengrana dari daerah Jawa Timur. Ritual
doa yang menggunakan simbolisasi aneka sesaji dan prosesi mantenan tebu
dilanjutkan dengan kemeriahan pesta rakyat di halaman Pabrik Gula Mojo.
Aneka wahana permainan
anak khas pasar malam digelar diantara pipa-pipa yang menyuplai air ke dalam
pabrik. Permainan seperti "Ombak Banyu, Kereta Kelinci, Tong Setan, Rumah
Hantu dan Kereta Mini, ramai dikunjungi oleh anak-anak kecil. Ruas jalan di
depan pabrik dipenuhi oleh stand pedagang yang menjual aneka barang seperti
mainan anak, baju, barang kerajinan, serta berbagai macam makanan dan minuman.
Di depan kantor pabrik gula, digelar seremoni pembukaan yang dibuka dengan Tari
Gambyong, hiburan Campursari dan Dagelan Kethoprak. Sementara itu di area dalam
pabrik gula yang dipakai sebagai stasiun giling tebu, digelar wayang kulit
dengan Lakon Sri Mulih. Lakon Sri Mulih adalah cerita diluar pakem asli
Mahabarata yang dipentaskan khusus untuk upacara mohon keselamatan atau
syukuran. Kisah ini menceritakan tentang kedatangan Dewi Sri, sebagai icon
simbol kesuburan dan hasil panen yang melimpah yang mengalah ancaman dari berbagai
malapetaka.
Aneka permainan di
pasar malam perayaan Cembengan
Perayaan Cembengan
mempunyai makna dasar sebagai bentuk permohonan akan kelancaraan saat
dimulainya proses penggilingan tebu dan ucapan syukur atas melimpahnya panen
tebu yang membawa dampak pada kesejahteraan masyarakat. Pesta rakyat yang
digelar di sekitar pabrik Gula selama perayaan Cembengan, adalah upaya untuk
lebih mempererat hubungan antara Pabrik Gula dengan Masyarakat yang tinggal
disekitarnya. Walaupun tidak semua warga sekitar mencari nafkah di pabrik gula
atau perkebunannya, dengan pesta rakyat tersebut diharapkan bahwa berkah dari
adanya pabrik gula bisa dirasakan oleh masyarakat secara lebih luas. Bisa
dikatakan bahwa pesta rakyat cembengan sebagai program kehumasan yang sangat
cerdas, yang lahir dari leluhur-leluhur terdahulu. Tidak cuma hiburan, ada
aktivitas ekonomi yang berdampak signifikan dalam perayaan Cembengan ini. Para
pengusaha gula dari masa-masa terdahulu, telah memberikan warisan sebuah
pelajaran penting dimana kehadiran sebuah pabrik gula haruslah tidak hanya
berbuah manis bagi pemilik dan karyawannya, tetapi manisnya bisa dirasakan oleh
masyarakat umum disekitarnya. Salam
Kratonpedia.
Upacara adat Cing Cing Goling
Di Indonesia banyak ritual budaya yang
ditujukan untuk wujud rasa syukur terhadap apa yang sudah diberikan Tuhan pada
hamba-Nya dan ritual budaya itu pun lahir dari nilai-nilai, tradisi, dan maupun
norma dari masyaratnya sendiri. Salah satu ritual budaya ini yang sampai kini
masih di laksanakan dan di perhatakan adalah ritual upacara Cing-Cing Goling
yang ada di Dusun Gedangan, Desa Gedangrejo, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten
Gunungkidul atau 8 km di sebelah timur dari Kota Wonosari.
Konon awal mula upacara Cing-cing Goling yang
merupakan ungkapan rasa syukur atas hasil panen dari masyarakat setempat dan
para pelarian dari Kerajaan Majapahit, ketika Kerajaan Majapahit berada di
ambang keruntuhan pada abad ke-15. Kala itu Kerajaan Majapahit diperintah oleh
Raja Brawijaya V. Para pelarian yang dipimpin oleh Wisang Sanjaya dan Yudopati
ini, menempuh perjalanan dari Jawa Timur hingga tiba di daerah yang kini
dikenal dengan nama Dusun Gedangan, Desa Gedangrejo, Kecamatan Karangmojo,
Kabupaten Gunungkidul.
Di daerah inilah Wisang Sanjaya, Yudopati,
dan pelarian lainnya mencoba membaur dengan penduduk sekitar yang tinggal lebih
dulu. Warga setempat pun menerima mereka karena sikap mereka yang dikenal
ringan tangan dan mudah bergaul. Apalagi masyarakat setempat menganggap para
pelarian ini telah berjasa besar dalam membantu mengamankan daerah Gedangan
dari serbuan para penjahat yang kala itu sering datang dan mengincar hasil
panen para penduduk.Disisi lain, para pelarian dari Kerajaan Majapahit ini pun
berusaha memajukan pertanian dengan cara membuat bendungan di Kali Dawe.
Bergotong royong bersama masyarakat setempat, para pelarian ini membuat
bendungan dan diberi nama bendungan Kali Dawe atau Bendungan Kedung Dawang agar
sawah di sekitar daerah Gedangan tidak kekurangan pasokan air.Usaha ini pun
membuahkan hasil, sawah-sawah milik para penduduk Gedangan tidak pernah
mengalami kekeringan.Setelah Bendungan Dawe selesai dibuat dan berfungsi untuk
mengairi sawah serta tiba masa panen, para pelarian dan masyarakat setempat pun
menggelar upacara selamatan sebagai perwujudan rasa syukur atas panen yang
mereka peroleh sekaligus memohon berkah untuk panen di masa yang akan datang.
Upacara selamatan inilah yang kini dikenal dengan nama Upacara Cing-cing
Goling.
Upacara Cing-cing Goling sejatinya
sebuah upacara adat sebagai ritual penghormatan terhadap roh leluhur ataupun
roh pelindung masyarakat di Dusun Gedangan, Desa Gedangrejo, Kecamatan
Karangmojo. Ritual ini selalu dilaksanakan di saat setelah panen ke-2, yakni
sekitar bulan Mei, Juni, dan Juli serta dilaksanakan berdasar hari dalam
pasaran Jawa, yaitu hari Senin Wage atau Kamis Kliwon.
Ritual ini berlangsung di Bendungan
Dawe. Di tengah-tengah upacara tersebut selalu disajikan pertunjukan tari yang
bernama Tari Cing-cing Goling.Tradisi budaya ini pada dasarnya perpaduan antara
unsur Hindu yang dibawa oleh pelarian Kerajaan Majapahit dan unsur kejawen dari
masyarakat lokal yang mendiami wilayah yang kini dikenal dengan nama Dusun
Gedangan.
Dengan perpaduan antar dua
kebudayaan ini terjalin harmonisasi kebudayaan yang sarat dengan filosofi
perwujudan rasa syukur dengan wujud perayaan selamatan bersama lewat Upacara
Cing-cing Goling.
Prosesi ritual budaya ini hampir
sama dengan prosesi ritual budaya perwujudan rasa syukur di beberapa daerah di
Jawa, seperti terdapat berbagai sesaji, dan yang unik adalah adanya pementasan
berbagai kesenian adat berupa cerita rakyat dalam bentuk fragmen yang berkisah
tentang cerita pelarian orang-orang dari Kerajaan Majapahit yang salah satu
alur ceritanya adalah menginjak-injak tanaman pertanian yang terdapat di
sekitar bendungan. Hal ini dipercaya oleh masyarakat setempat, bahwa tanaman
yang diinjak-injak saat berlangsung Upacara Cing-cing Goling itu akan bertambah
subur, serta pementasan Tari Cing-cing Goling. Dan ditutup dengan pembacaan doa
oleh pemangku adat untuk keselamatan seluruh penduduk dan kesejahteraan para
petani, ratusan ayam, lauk pauk, dan nasi dibagikan kepada para pengunjung dan
masyarakat sekitar yang tinggal di dekat Bendungan Dawe.Satu hal yang unik
adalah dalam hal sesaji ayam, yakni kemasannya berbentuk œtas yang terbuat dari
janur untuk wadah ayamnya. Kemasan dari janur sebenarnya sudah langka untuk
kita temukan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat di Gunungkidul

Upacara Nyadran Agung
Nyadran berasal dari kata sodrun
yang artinya dada atau hati yang mengandung makna bahwa masyarakat membersihkan
hati mereka menjelang datangnya bulan Ramadhan. Makna lain dari yadran, yaitu sadran
yang berasal dari kata sudra. Sehingga nyadran berarti menjadi sudra atau
berkumpul dengan orang-orang awam. Ini mencerminkan nilai-nilai bahwa pada
hakekatnya manusia adalah sama.
Nyadran Agung merupakan salah satu
tradisi masyarakat Kulon Progo untuk menyambut datangnya bulan Ramdhan. Ritual
ini dilaksanakan pada bulan sya`ban menurut penanggalan Islam bertepatan dengan
bulan rowan dalam penanggalan Jawa. Masyarakat berkumpul di alun-alun sebagai
ruang publik dengan membawa makanan, hal ini bertujuan untuk mempererat relasi
mereka serta sebagai bentuk kearifan lokal dalam melawan budaya individualis
yang berkembang di masyarakat yang cenderung mengikuti perkembangan modernitas.
Kemudian dilanjutkan dengan membaca tahlil dan doa bersama sebelum menikmati
makanan yang mereka bawa dan masing-masing keluarga akan berziarah ke makam
leluhur mereka.
Nyadran adalah kesempatan untuk
melakukan refleksi asal-usul kehidupan manusia ; untuk apa manusia diciptakan,
apa yang telah dilakukan dalam kehidupannya, dan kemana mereka akan kembali.
Makna yang terakhir ini terasa lebih mengena ketika mereka pergi ke makam
leluhur. Di makam tersebut diharapkan manusia menyadari bahwa kehidupannya
tidak bakal abadi di dunia.
Tradisi ini merupakan perpaduan
antara nilai-nilai Islam dengan kepercayaan lokal masyarakat Jawa. Jika menilik
sejarah perkembangan Islam di tanah Jawa, Islam tidak serta-merta menghapus
kepercayaan masyarakat yang telah berkembang. Namun, justru memasukkan
nilai-nilai keislaman pada tradisi lokal masyarakat Jawa. Jadilah perpaduan
yang unik antara kepercayaan lokal dengan nilai-nilai yang dibawa oleh Islam
sebagai keyakinan baru dalam masyarakat Jawa..
Nyadran Agung dilaksanakan setahun
sekali di Rumah Dinas Bupati Kulon Progo dan Alun-Alun Wates. Para peserta
Nyadran Agung berdoa sambil mengelilingi gunungan dengan berbagai ubo rampe
sebagai pelengkap. Gunungan diarak menuju rumah dinas Bupati Kulon Progo. Para
pejabat pemerintah dari tingkat kabupaten hingga desa menunggu di rumah dinas
bupati. Selajutnya, mereka akan membaca tahlil bersama yang diawali oleh
sambutan dari pihak Pemerintah Kabupaten Kulon Progo dan diakhiri pembagian
gunungan ke masyarakat yang berada di alun-alun.
Sponsor
About Me
- Arif Hendra Gunawan
Blog Archive
Popular Posts
-
Upacara Bekakak Sebagai pusat kerajaan-kerajaan besar terdahulu, pulau Jawa khususnya kota Yogyakarta / Jogja memiliki kesenian khas ...
-
1.) Pengertian Motivasi Menurut Para Ahli Motivasi adalah suatu dorongan kehendak yang menyebabkan seseorang melakukan suatu perbuata...
-
Sebutkan dan jelaskan macam-macam sistem ekonomi ! Sistem ekonomi sebagai solusi dari permasalahan ekonomi yang terjadi dapat dibedakan m...
-
Sebutkan dan jelaskan macam-macam sistem ekonomi ! Sistem ekonomi sebagai solusi dari permasalahan ekonomi yang terjadi dapat dibedakan m...
-
Sebutkan dan jelaskan macam-macam sistem ekonomi ! Sistem ekonomi sebagai solusi dari permasalahan ekonomi yang terjadi dapat dibedakan m...
-
1.) Pengertian Motivasi Menurut Para Ahli Motivasi adalah suatu dorongan kehendak yang menyebabkan seseorang melakukan suatu perbuata...
-
RESENSI NOVEL DAN FILM TUGAS ILMU BUDAYA DASAR Resensi: Madre Hidup Tansen (Vino G. Bastian) tiba-tiba berubah. Tiba-tiba Tans...
-
PENGERTIAN BANK A. Pengertian dan klasifikasi bank . Bank adalah sebuah lembaga perantara keuangan yang memiliki wewenang dan fun...
-
Etika Dan Profesionalisme TSI Etika (Etimologi) , etika itu berasal dari bahasa Yunani yakni “Ethos”, yang berarti watak kesusilaan at...
-
1. Pendapat Tentang Peranan Bahasa Indonesia dalam Konsep Ilmiah Sebagai Alat Untuk Menyerap dan Mengungkapkan Hasil Pemikiran Sebe...
Followers
Sponsors
Search Article Here
Popular Posts
-
Upacara Bekakak Sebagai pusat kerajaan-kerajaan besar terdahulu, pulau Jawa khususnya kota Yogyakarta / Jogja memiliki kesenian khas ...
-
1.) Pengertian Motivasi Menurut Para Ahli Motivasi adalah suatu dorongan kehendak yang menyebabkan seseorang melakukan suatu perbuata...
-
Sebutkan dan jelaskan macam-macam sistem ekonomi ! Sistem ekonomi sebagai solusi dari permasalahan ekonomi yang terjadi dapat dibedakan m...
-
Sebutkan dan jelaskan macam-macam sistem ekonomi ! Sistem ekonomi sebagai solusi dari permasalahan ekonomi yang terjadi dapat dibedakan m...
-
Sebutkan dan jelaskan macam-macam sistem ekonomi ! Sistem ekonomi sebagai solusi dari permasalahan ekonomi yang terjadi dapat dibedakan m...
-
1.) Pengertian Motivasi Menurut Para Ahli Motivasi adalah suatu dorongan kehendak yang menyebabkan seseorang melakukan suatu perbuata...
-
RESENSI NOVEL DAN FILM TUGAS ILMU BUDAYA DASAR Resensi: Madre Hidup Tansen (Vino G. Bastian) tiba-tiba berubah. Tiba-tiba Tans...
-
PENGERTIAN BANK A. Pengertian dan klasifikasi bank . Bank adalah sebuah lembaga perantara keuangan yang memiliki wewenang dan fun...
-
Etika Dan Profesionalisme TSI Etika (Etimologi) , etika itu berasal dari bahasa Yunani yakni “Ethos”, yang berarti watak kesusilaan at...
-
1. Pendapat Tentang Peranan Bahasa Indonesia dalam Konsep Ilmiah Sebagai Alat Untuk Menyerap dan Mengungkapkan Hasil Pemikiran Sebe...
Popular Posts
-
Upacara Bekakak Sebagai pusat kerajaan-kerajaan besar terdahulu, pulau Jawa khususnya kota Yogyakarta / Jogja memiliki kesenian khas ...
-
1.) Pengertian Motivasi Menurut Para Ahli Motivasi adalah suatu dorongan kehendak yang menyebabkan seseorang melakukan suatu perbuata...
-
Sebutkan dan jelaskan macam-macam sistem ekonomi ! Sistem ekonomi sebagai solusi dari permasalahan ekonomi yang terjadi dapat dibedakan m...
-
Sebutkan dan jelaskan macam-macam sistem ekonomi ! Sistem ekonomi sebagai solusi dari permasalahan ekonomi yang terjadi dapat dibedakan m...
-
Sebutkan dan jelaskan macam-macam sistem ekonomi ! Sistem ekonomi sebagai solusi dari permasalahan ekonomi yang terjadi dapat dibedakan m...
-
1.) Pengertian Motivasi Menurut Para Ahli Motivasi adalah suatu dorongan kehendak yang menyebabkan seseorang melakukan suatu perbuata...
-
RESENSI NOVEL DAN FILM TUGAS ILMU BUDAYA DASAR Resensi: Madre Hidup Tansen (Vino G. Bastian) tiba-tiba berubah. Tiba-tiba Tans...
-
PENGERTIAN BANK A. Pengertian dan klasifikasi bank . Bank adalah sebuah lembaga perantara keuangan yang memiliki wewenang dan fun...
-
Etika Dan Profesionalisme TSI Etika (Etimologi) , etika itu berasal dari bahasa Yunani yakni “Ethos”, yang berarti watak kesusilaan at...
-
1. Pendapat Tentang Peranan Bahasa Indonesia dalam Konsep Ilmiah Sebagai Alat Untuk Menyerap dan Mengungkapkan Hasil Pemikiran Sebe...
Popular Posts
-
Upacara Bekakak Sebagai pusat kerajaan-kerajaan besar terdahulu, pulau Jawa khususnya kota Yogyakarta / Jogja memiliki kesenian khas ...
-
1.) Pengertian Motivasi Menurut Para Ahli Motivasi adalah suatu dorongan kehendak yang menyebabkan seseorang melakukan suatu perbuata...
-
Sebutkan dan jelaskan macam-macam sistem ekonomi ! Sistem ekonomi sebagai solusi dari permasalahan ekonomi yang terjadi dapat dibedakan m...
-
Sebutkan dan jelaskan macam-macam sistem ekonomi ! Sistem ekonomi sebagai solusi dari permasalahan ekonomi yang terjadi dapat dibedakan m...
-
Sebutkan dan jelaskan macam-macam sistem ekonomi ! Sistem ekonomi sebagai solusi dari permasalahan ekonomi yang terjadi dapat dibedakan m...
-
1.) Pengertian Motivasi Menurut Para Ahli Motivasi adalah suatu dorongan kehendak yang menyebabkan seseorang melakukan suatu perbuata...
-
RESENSI NOVEL DAN FILM TUGAS ILMU BUDAYA DASAR Resensi: Madre Hidup Tansen (Vino G. Bastian) tiba-tiba berubah. Tiba-tiba Tans...
-
PENGERTIAN BANK A. Pengertian dan klasifikasi bank . Bank adalah sebuah lembaga perantara keuangan yang memiliki wewenang dan fun...
-
Etika Dan Profesionalisme TSI Etika (Etimologi) , etika itu berasal dari bahasa Yunani yakni “Ethos”, yang berarti watak kesusilaan at...
-
1. Pendapat Tentang Peranan Bahasa Indonesia dalam Konsep Ilmiah Sebagai Alat Untuk Menyerap dan Mengungkapkan Hasil Pemikiran Sebe...





