UNIVERSITY GUNADARMA CAMPUS J

Tugas IBD Resensi Film


RESENSI NOVEL DAN FILM
TUGAS ILMU BUDAYA DASAR

Resensi: Madre 

Hidup Tansen (Vino G. Bastian) tiba-tiba berubah.
Tiba-tiba Tansen harus pergi ke Bandung. Tiba-tiba Tansen mengetahui jejak keluarganya. Tiba-tiba Tansen mendapat sebuah warisan adonan biang roti bernama Madre. Tiba-tiba Tansen memanggul tanggung jawab dari Pak Hadi (Didi Petet) yang mengharapkan dirinya untuk bisa menghidupkan Tan De Bakker -usaha toko roti milik kakeknya- lagi. Tiba-tiba Tansen bertemu Mei (Laura Basuki). Tiba-tiba Tansen jatuh cinta. Tiba-tiba semuanya tidak lagi sama.
Setelah Perahu Kertas dan RectoVerso, Madre menjadi karya ketiga Dewi Lestari yang diadaptasi menjadi film. Kali ini, Benni Setiawan dipercaya untuk menulis skenario dan menyutradarai filmnya. Bagaimana hasilnya?
Sebagai pembaca, penulis, dan seseorang yang pernah mengadaptasi buku menjadi skenario, gue tahu buku dan film adalah dua medium yang berbeda. Untuk itu, dalam review ini gue berupaya sebisa mungkin untuk tidak mengingat isi bukunya dan membandingkan film dengan buku.
Buat gue, film menjadi salah satu cara untuk mentransfer rasa. Sebagai sebuah film, gue bingung dengan rasa apa yang ingin Madre sampaikan ke penontonnya. Buat gue, adonan Madre kurang pas. Cerita Madre seolah bingung mau berjalan kemana. Ada dua konflik besar yang harus dihadapi Tansen. Pertama, Madre dan Tan De Bakker. Kedua, Mei.
Dua konflik tersebut sebetulnya bisa diolah menjadi sajian yang pas, asal takarannya tepat. Tapi dalam Madre, konflik tersebut terasa berdiri sendiri-sendiri dan membuat filmnya hambar. Madre seperti kurang rasa. Adonan dua konflik yang gue tulis di atas tidak menyatu dengan enak. Hal itu membuat gue tidak merasakan apapun ketika melihat pergulatan Tansen, yang sebetulnya sangat bisa membuat emosi penonton diaduk-aduk. Emosi gue tidak diikat.
Vino G. Bastian yang berperan sebagai Tansen berupaya cukup keras untuk bisa menghidupkan karakternya. Sayangnya, rambut gimbal dan kulit cokelat tidak cukup untuk bisa membuat Tansen terlihat hidup. Bukan berarti Vino tidak bagus, hanya saja terasa kurang pas. Laura Basuki yang aktingnya hampir mirip dengan film-film sebelumnya cukup bisa membawa penonton terhanyut dengan drama hidup karakter Mei. Didi Petet memberi warna komedi di film ini lewat peran Pak Hadi, momen-momen segar filmnya kerap datang dari akting naturalnya.
Ada satu hal yang menyenangkan di film ini: disulapnya sebuah bangunan di jalan Braga sebagai set Tan De Bakker. Tata artistiknya cantik. Gue yang jatuh cinta dengan Bandung mendadak ingin ke Bandung ketika selesai menyaksikan Madre. Gue pengin duduk di kursi yang ada di depan Tan De Bakker, kayaknya enak banget duduk di situ sambil ngopi dan makan roti #eaaa.
Sekali lagi, Andhika Triyadi membuktikan bahwa ia memang pemusik handal. Musik buatannya untuk Madre berhasil memberikan mood tersendiri untuk filmnya. Sayangnya, penempatan musik Andhika dan lagu pengiring filmnya terkadang terasa tidak pas. Entah mengapa, gue merasa pemilihan lagu Jodoh Pasti Bertemu yang dinyanyikan Afgan kurang klop dengan ceritanya.
Gue mengerti bahwa Benni Setiawan memiliki penafasiran tersendiri untuk Madre. Gue juga menghargai sekali usahanya dalam menghidupkan Madre, terlebih dengan upayanya membuat Tan De Bakker menjadi nyata. Sayangnya, lagi-lagi gue merasa adonan yang dibuat terasa kurang bumbu. Gue tidak merasa segembira Mei ketika mengigit roti buatan Tansen ketika menyaksikan film ini.
Madre
Produksi: Mizan Production
Produser: Putut Widjanarko, Avesina Soebli
Sutradara dan Penulis: Benni Setiawan
Pemain: Vino G. Bastian, Laura Basuki, Didi Petet, Titi Qadarsih, Framly Nainggolan

Read more