Tugas ISD BAB 7-10
Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan
Masyarakat Pedesaan
Masyarakat adalah kelompok yang terorganisasi atau bisa juga
masyarakat itu suatu kelompok yang berpikir tentang dirinya sendiri yang
berbeda dengan kelompok yang lain. Oleh karena itu orang yang berjalan
bersama-sama atau duduk bersama-sama yang tidak terorganisasi bukanlah
masyarakat. Kelompok yang tidak berpikir tentang kelompoknya sebagai suatu
kelompok bukanlah masyarakat.
Syarat – syarat
Menjadi Masyarakat :
1. Berangotakan minimal dua
orang.
2. Anggotanya sadar
sebagai satu kesatuan.
3. Berhubungan dalam
waktu yang cukup lama yang menghasilkan manusia baru yang saling berkomunikasi
dan membuat aturan-aturan hubungan antar anggota masyarakat.
4. Menjadi sistem hidup
bersama yang menimbulkan kebudayaan serta keterkaitan satu sama lain sebagai
anggota masyarakat.
Menurut dirjen Bangdes (pembangunan desa) dalam Daljoeni
(2003), bahwa ciri – ciri wilayah desa antara lain:
1. Perbandingan lahan dengan manusia cukup besar (lahan desa
lebih luas dari jumlah penduduknya, kepadatan rendah).
2. Lapangan kerja yang dominan adalah agraris (pertanian)
3. Hubungan antar warga amat akrab
4. Tradisi lama masih berlaku.
Menurut Shahab (2007), secara umum ciri-ciri kehidupan
masyarakat pedesaan dapat diidentifikasi sebagai berikut ;
1. Mempunyai sifat homogen dalam mata pencaharian,
nilai-nilai dalam kebudayaan serta dalam sikap dan tingkah laku,
2. Kehidupan desa lebih menekankan anggota keluarga sebagai
unit ekonomi yang berarti semua anggota
keluarga turut bersama-sama memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga,
3. Faktor geografi sangat berpengaruh atas kehidupan yang
ada. Misalnya, keterikatan anggota keluarga dengan tanah atau desa kelahirannya,
4. Hubungan sesama anggota masyarakat lebih intim dan awet
dari pada kota.
Masyarakat
Perkotaan
Masyarakat perkotaan sering disebut urban community.
Pengertian masyarakat kota
lebih ditekankan pada sifat kehidupannya serta ciri-ciri kehidupannya yang
berbeda dengan masyarakat pedesaan. Ada beberap
ciri yang menonjol pada masyarakat kota
yaitu :
Kehidupan keagamaan berkurang bila dibandingkan dengan
kehidupan keagamaan di desa.
Orang kota
pada umumnya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa harus bergantung padaorang
lain. Yang penting disini adalah manusia perorangan atau individu.
Pembagian kerja di antara warga-warga kota juga lebih tegas dan mempunyai
batas-batas yang nyata.
Kemungkinan-kemungkinan untuk mendapatkan pekerjaan juga
lebih banyak diperoleh warga kota
dari pada warga desa.
Interaksi yang terjadi lebih banyak terjadi berdasarkan pada
faktor kepentingan dari pada faktor pribadi.
Pembagian waktu yang lebih teliti dan sangat penting, untuk
dapat mengejar kebutuhan individu.
Perubahan-perubahan sosial tampak dengan nyata di kota-kota,
sebab kota
biasanya terbuka dalam menerima pengaruh dari luar.
Perbedaan
Pedesaan dan perkotaan
Adapun perbedaan antara masyarakat pedesaan dan perkotaan
Dari segi mata pencaharian
Pada umumya masyarakat pedesaan bekerja sebagai
petani,berkebun,dan beternakCoba kita bandingkan dengan dikota yang semuanya
serba teknologi begitupun dengan mata pencaharian masyarakat perkotaan yang
hampir seluruhnya berada di sektor industri.
Dari segi Lingkungan
lihatlah betapa macetnya lingkungan di perkotaan dan udara
yang kurang sehat.Dan coba bandingkan dengan di daerah pedesaan indah sejuk dan
nyaman
Pertentangan Sosial dan Integrasi
Hidup bermasyarakat yaitu sebuah hubungan antar
individu-individu maupun antar kelompok dan golongan yang terjadi dalam proses
kehidupan. Hidup bermasyarakat juga berarti kehidupan dinamis, dimana setiap
anggota masyarakat salaing berinteraksi. Hubungan antar individu ini pun diikat
oleh ikatan yang berupa norma serta nilai-nilai yang telah dibuat bersama para
anggota.
Norma dan nilai-nilai inilah yang menjadi alat pengendali
agar para anggota masyarakat tidak terlepas dari rel ketentuan yang telah
disepakati itu. Solidaritas, toleransi dan tenggang rasa adalah bukti kuatnya
ikatan itu. Sakit salah satu anggota masyarakat akan dirasakan oleh anggota
masyarakat lainnya. Dari hubungan seperti itulah lahir keharmonisan dalam hidup
bermasyarakat.
Pada kenyataannya tidak semua masyarakat membentuk sebuah
harmonisasi. Pada
kondisi-kondisi tertentu hubungan antara masyarakat diwarnai
berbagai persamaan.
Namun sering juga didapati perbedaan-perbedaan, bahkan pertentangan
dalam masyarakat. Hal-hal seperti itulah yang menimbulkan perpecahan dalam
masyarakat. Salah satu contohnya adalah Pertentangan sosial dan integrita
masyarakat
pertentang sosial menurut saya adalah suatu konflik yang
terjadi didalam suatu lingkungan masyarakat. Dimana ada suatu kelompok yang
tidak menyukai kelompok lain, sehingga menimbulkan suatu perselisihan diantara
mereka. Banyak sekali pertentangan sosial yang terjadi di Dunia ini. Seperti
contohnya perak Irak yang kunjung selesai, dan kalau menusuri indonesia
contohnya GAM (Gerakan Aceh Merdeka), PT.freepot yang terjadi di Papua.
Adapun Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya
pertentangan sosial:
· Rasa
Iri antara individu,negara, dan masyarakat
· Adanya
rasa tidak puas masyarakat terhadap kepemerintahan
· Banyak
adu domba antara politik,agama,suku serta budaya
Integrasi Masyarakat
Integrasi berasal dari bahasa inggris “integration” yang
berarti kesempurnaan atau keseluruhan. integrasi sosial dimaknai sebagai proses
penyesuaian di antara unsur-unsur yang saling berbeda dalam kehidupan
masyarakat sehingga menghasilkan pola kehidupan masyarakat yang memilki
keserasian fungsi.
Definisi lain mengenai integrasi adalah suatu keadaan di
mana kelompok-kelompok etnik beradaptasi dan bersikap komformitas terhadap
kebudayaan mayoritas masyarakat, namun masih tetap mempertahankan kebudayaan
mereka masing-masing. Integrasi memiliki 2 pengertian, yaitu :
1.
Pengendalian terhadap konflik dan penyimpangan sosial dalam suatu sistem
sosial tertentu
2.
Membuat suatu keseluruhan dan menyatukan unsur-unsur tertentu.Sedangkan
yang disebut integrasi sosial adalah jika yang dikendalikan, disatukan, atau
dikaitkan satu sama lain itu adalah unsur-unsur sosial atau kemasyarakatan.
Suatu integrasi sosial di perlukan agar masyarakat tidak
bubar meskipun menghadapi berbagai tantangan, baik merupa tantangan fisik
maupun konflik yang terjadi secara sosial budaya..Menurut pandangan para
penganut fungsionalisme struktur sistem sosial senantiasa terintegrasi di atas
dua landasan berikut :
Suatu masyarakat senantiasa terintegrasi di atas tumbuhnya
konsensus (kesepakatan) di antara sebagian besar anggota masyarakat tentang
nilai-nilai kemasyarakatan yang bersifat fundamental (mendasar).Masyarakat
terintegrasi karena berbagai anggota masyarakat sekaligus menjadi anggota dari
berbagai kesatuan sosial (cross-cutting affiliation). Setiap konflik yang
terjadi di antara kesatuan sosial dengan kesatuan sosial lainnya akan segera
dinetralkan oleh adanya loyalitas ganda (cross-cutting loyalities) dari anggota
masyarakat terhadap berbagai kesatuan sosial.
Penganut konflik berpendapat
bahwa masyarakat terintegtrasi atas paksaan dan karena adanya saling
ketergantungan di antara berbagai kelompok.Integrasi sosial akan terbentuk
apabila sebagian besar masyarakat memiliki kesepakatan tentang batas-batas
teritorial, nilai-nilai, norma-norma, dan pranata-pranata sosial
A. Faktor Internal :
kesadaran diri sebagai
makhluk sosial
tuntutan kebutuhan
jiwa dan semangat gotong royong
tuntutan kebutuhan
jiwa dan semangat gotong royong
B. Faktor External :
Tuntutan perkembangan zaman
persamaan kebudayaan
terbukanya kesempatan berpartisipasi dalam kehidupan bersama
persaman visi, misi, dan tujuan
sikap toleransi
adanya kosensus nilai
adanya tantangan dari luar
persamaan kebudayaan
terbukanya kesempatan berpartisipasi dalam kehidupan bersama
persaman visi, misi, dan tujuan
sikap toleransi
adanya kosensus nilai
adanya tantangan dari luar
Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Ilmu menjawab pertanyaan “why” dan “how” sedangkan filsafat
menjawab pertanyaan “why, why, dan why” dan seterusnya sampai jawaban paling
akhir yang dapat diberikan oleh pikiran atau budi manusia (munkin juga
pertanyaan-pertanyaannya terus dilakukan sampai never ending)..n oleh
Heidegger, setiap telaahan filosofis terdapat unsur metafisik :
1. ilmu adalah pengetahuan yang bersifat umum dan sistematis, pengetahuan dari mana dapat disimpulkan dalil-dalil tertentu menurut kaidah-kaidah umum. (Nazir, 1988)
2. konsepsi ilmu pada dasarnya mencakup tiga hal, yaitu adanya rasionalitas, dapat digeneralisasi dan dapat disistematisasi (Shapere, 1974)
3. pengertian ilmu mencakup logika, adanya interpretasi subjektif dan konsistensi dengan realitas sosial (Schulz, 1962)
4. ilmu tidak hanya merupakan satu pengetahuan yang terhimpun secara sistematis, tetapi juga merupakan suatu metodologi
Empat pengertian di atas dapatlah disimpulkan bahwa ilmu
pada dasarnya adalah pengetahuan tentang sesuatu hal atau fenomena, baik yang
menyangkut alam atau sosial (kehidupan masyarakat), yang diperoleh manusia
melalui proses berfikir. Itu artinya bahwa setiap ilmu merupakan pengetahun
tentang sesuatu yang menjadi objek kajian dari ilmu terkait.
Ilmu Pengetahuan adalah suatu proses pemikiran dan analisis
yang rasional, sistimatik, logik dan konsisten. Hasilnya dari ilmu pengetahuan
dapat dibuktikan dengan percobaan yang transparan
dan objektif. Ilmu pengetahuan mempunyai spektrum analisis amat luas, mencakup persoalan yang sifatnya supermakro, makro dan mikro. Hal ini jelas terlihat, misalnya pada ilmu-ilmu: fisika, kimia, kedokteran, pertanian, rekayasa, bioteknologi, dan sebagainya.
dan objektif. Ilmu pengetahuan mempunyai spektrum analisis amat luas, mencakup persoalan yang sifatnya supermakro, makro dan mikro. Hal ini jelas terlihat, misalnya pada ilmu-ilmu: fisika, kimia, kedokteran, pertanian, rekayasa, bioteknologi, dan sebagainya.
Definisi Teknologi
Teknologi atau
pertukangan memiliki lebih dari satu definisi. Salah satunya adalah
pengembangan dan aplikasi dari alat, mesin, material dan proses yang menolong
manusia menyelesaikan masalahnya. Sebagai aktivitas manusia, teknologi mulai
dikenal sebelum sains dan teknik.
Teknologi dibuat atas dasar ilmu pengetahuan dengan tujuan
untuk mempermudah pekerjaan manusia, namun jika pada kenyataannya teknologi
malah mempersulit, layakkah disebut Ilmu Pengetahuan?
Kata teknologi sering menggambarkan penemuan dan alat yang menggunakan prinsip dan proses penemuan saintifik yang baru ditemukan. Meskipun demikian, penemuan yang sangat lama seperti roda juga disebut sebuah teknologi.
Kata teknologi sering menggambarkan penemuan dan alat yang menggunakan prinsip dan proses penemuan saintifik yang baru ditemukan. Meskipun demikian, penemuan yang sangat lama seperti roda juga disebut sebuah teknologi.
Teknologi adalah
satu ciri yang mendefinisikan hakikat manusia yaitu bagian dari sejarahnya
meliputi keseluruhan sejarah. Teknologi, menurut Djoyohadikusumo (1994, 222)
berkaitan erat dengan sains (science) dan perekayasaan (engineering). Dengan
kata lain, teknologi mengandung dua dimensi, yaitu science dan engineering yang
saling berkaitan satu sama lainnya. Sains mengacu pada pemahaman kita tentang
dunia nyata sekitar kita, artinya mengenai ciri-ciri dasar pada dimensi ruang,
tentang materi dan energi dalam interaksinya satu terhadap lainnya.
Pengertian Kemiskinan
Kemiskinan adalah
keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti
makanan , pakaian , tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Kemiskinan dapat
disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses
terhadap pendidikan dan pekerjaan. Kemiskinan merupakan masalah global.
Sebagian orang memahami istilah ini secara subyektif dan komparatif, sementara
yang lainnya melihatnya dari segi moral dan evaluatif, dan yang lainnya lagi
memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan.
Ciri-ciri manusia yg
berada di bawah kemiskinan :
1.
Tidak memiliki factor-faktor produksi sendiri seperti tanah, modal,
ketrampilan.
2.
DllTidak memiliki kemungkinan untuk memperoleh asset produksi dengan
kekuatan
3.
sendiri, seperti untuk memperoleh tanah garapan ataua modal usahaTingkat
pendidikan mereka rendah, tidak sampai taman SD.
4.
Kebanyakan tinggal di desa sebagai pekerja bebas
Banyak yang hidup di kota
berusia muda, dan tidak mempunyai ketrampilan
Agama Dan Masyarakat
Tentang Agama
Agama bukanlah suatu entitas independen yang berdiri
sendiri. Agama terdiri dari berbagai dimensi yang merupakan satu kesatuan.
Masing-masingnya tidak dapat berdiri tanpa yang lain. seorang ilmuwan barat
menguraikan agama ke dalam lima
dimensi komitmen. Seseorang kemudian dapat diklasifikasikan menjadi seorang
penganut agama tertentu dengan adanya perilaku dan keyakinan yang merupakan
wujud komitmennya. Ketidakutuhan seseorang dalam menjalankan lima dimensi komitmen ini menjadikannya
religiusitasnya tidak dapat diakui secara utuh. Kelimanya terdiri dari
perbuatan, perkataan, keyakinan, dan sikap yang melambangkan (lambang=simbol)
kepatuhan (=komitmen) pada ajaran agama. Agama mengajarkan tentang apa yang
benar dan yang salah, serta apa yang baik dan yang buruk.
Agama berasal dari Supra Ultimate Being, bukan dari
kebudayaan yang diciptakan oleh seorang atau sejumlah orang. Agama yang benar
tidak dirumuskan oleh manusia. Manusia hanya dapat merumuskan kebajikan atau
kebijakan, bukan kebenaran. Kebenaran hanyalah berasal dari yang benar yang
mengetahui segala sesuatu yang tercipta, yaitu Sang Pencipta itu sendiri. Dan
apa yang ada dalam agama selalu berujung pada tujuan yang ideal. Ajaran agama
berhulu pada kebenaran dan bermuara pada keselamatan. Ajaran yang ada dalam
agama memuat berbagai hal yang harus dilakukan oleh manusia dan tentang hal-hal
yang harus dihindarkan. Kepatuhan pada ajaran agama ini akan menghasilkan
kondisi ideal.
Tulisan ISD BAB 7-10
Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan
Contoh 1 :
Masyarakat
pedesaan biasanya memiliki sifat kekeluargaan, saling bantu membantu,
gotong-royong dan lain-lain. Mereka tidak suka menonjolkan diri dalam artian
merasa lebih baik dari yang lain. Dan mereka memiliki kekompakan yang sangat
solid dibandingkan dengan masyarakat perkotaan. Seperti yang bisa kita lhat,
masyarakat pedesaan pada umumnya masih terika tali persaudaraan di dalam
masyarakatnya. Mungkin seseorang mempunyai saudara di dekat rumahnya
(tetangga). Maka dari itu masyarakat desa biasanya lebih mementingkan hubungan
kekeluargaan daripada persaiangan antar anggota masyarakat terebut. Karna
menurut masyarakat pedesaan persaingan dapat merusak hubungan kekeluarhgaan
diantara mereka.
Masyarakat
perkotaan mereka biasanya tidak mencampurkan antara hal-hal yang bersifat
rasional dan emosional. Masyarakat perkotaan iasanya lebih individual, jadi
mereka lebih memilih mengurusi kepentingan pribadi daripada harus bergantung
dengan orang lain. Karna masyarakat perkotaan tidak seperti masyarakat pedesaan
yang menganggap bahwa mereka adalah masih satu keluarga jadi solidaritas
diantara masyarakat perkotaan itu kurang, karna banyak sekali persaingan di
dalamnya, mereka ingin di puji dan juga dihormati oleh orang lain maka mereka
bersaing agar mendapat hal itu semua. Jangankan yang seperti itu mereka dengan
tetangga saja bahkan ada yang sampai tidak saling mengenal khususnya perumahan
elit yang dihuni oleh orang-orang kaya yang sibuk dengan pekerjaan dan urusan
masing-masing sehingga tidak dapat bersosialisasi dan juga bergaul dengan
masyarakatnya.
Maka
dengan masalah seperti urbanisasi hubungan antara masyarakat perkotaan dan
masyarakat pedesaan harus saling menguntungkan (simbiosis mutualisme) sehingga
segala sesuatu yang di butuhkan oleh keduanya harus saling berkaitan agar
kehidupan masyarakat pedesaan atau perkotaan dapat seimbang seperti masyarakat
pedesaan memberikan bahan mentah atau barang yang akan diolah oleh masyarakat kota yang nantinya
masyarakat pedesaan yang akan menggunakannya.
Contoh 2 :
Kota Jakarta, dengan segudang aktifitas penduduknya, dengan
milyaran uang yang berputar setiap harinya, dengan banyaknya jumlah penduduk di
dalamnya, dengan kualitas pendidikan yang terjamin, banyak yang bilang bahwa
masyarakat di perkotaan lah yang merajai atau menempati tingkat kasta tertinggi
di suatu negara. Akan tetapi, pada era sekarang ini, masyarakat desa juga tidak
mau ketinggalan dengan masyarakat perkotaan hampir di setiap aspek
kehidupannya.
Sebagai contoh untuk masyarakat perkotaan, Jakarta, apa yang kita inginkan tersedia,
terkecuali lapangan pekerjaan yang sudah minim. Akan tetapi, di Jakarta, banyak
orang-orang yang larut akan pekerjaan, hingga melupakan kewajiban beragama.
Untuk yang beragama Islam, kesibukan-kesibukan yang dialami oleh masyarakat
perkotaan membuat orang lupa akan kewajiban beragamanya seperti sholat 5 waktu.
Untuk yang beragama non-Islam, ditengah-tengah kesibukan nya membuat orang lupa
untuk mengunjungi tempet-tempat ibadahnya masing-masing.
Disamping itu, masyarakat perkotaan, masyarakat yang
bertempat tinggal di kota
yang tak pernah mati, membuat hubungan antar lingkungan sekitarnya diabaikan,
atau dapat dibilang sudah hilang.
Sebagai makhluk social, manusia membutuhkan orang lain untuk
dapat hidup, dan berinteraksi. Sudah merupakan kodratnya atau takdirnya manusia
untuk berinteraksi dengan manusia lainnya. Jika tidak dapat menjalankan
takdirnya denga baik sebagai makhluk social, manusia tentu akan mengalami
kesulitan untuk bertahan hidup. Tidak adanya komunikasi antar tetangga di
lingkungan sekitar tempat tinggal kita, akan menimbulkan beberapa masalah
“misunderstanding” antara kita dengan para tetangga.
Sedangkan masyarakat pedesaan adalah masyarakat yang
bertempat tinggal di desa-desa, yang awalnya jauh dari kesan modern, jauh dari
listrik, jauh dari hiruk pikuknya perkotaan, dan damai akan kehidupan
sekitarnya, serta masih berpegang teguh dengan agama dan adat istiadat di
setiap daerahnya. Masyarakat pedesaan umumnya lebih mementingkan kepentingan
umum daripada kepentingan pribadinya.
Sebagai contoh, saya mengambil contoh masyarakat pedesaan di
pedalaman Papua. Dalam masyarakat ini, mereka masih berpegang teguh dengan
kepercayaannya, mereka masih berpegang teguh atas nenek moyangnya terdahulu.
Mereka masih setia, disiplin, dan tetap menjaga adat istiadat mereka. Mereka
tetap mengadakan berbagai upacara-upacara adat istiadat mereka di setiap
kepentingan-kepentingan kehidupan mereka. Selain itu, di dalam masyarakat
pedesaan juga memiliki kekerabatan yang sangat erat antara penduduk yang satu
denga penduduk yang lainnya. Sebagai contoh, jika di dalam masyarakat pedesaan
ada salah satu warganya yang mengadakan hajatan atau acara semisal perkawinan,
nah, masyarakat pedesaan itu atau tetangga-tetangganya akan bergotong royong
untuk membantu si empunya hajatan agar penyelenggaraan hajatan tersebut dapat
berjalan dengan baik, salah satu bentuk gotong royong tersebut diantarannya
mendirikan tenda, memasak makanan yang akan disajikan kepada para tamu, serta
membongkar tenda yang sudah terpakai, dll. Tentunnya kebiasaan atau adat ini,
sangatlah sulit ditemukan di dalam masyarakat perkotaan
Pertentangan Sosial dan Integrasi
Kondisi Sosial
Masyarakat Paska Konflik Di Aceh Timur
Penelitian YAPPIKA di sepuluh kabupaten di NAD, termasuk Aceh Timur (Kecamatan Peureulak dan Darul Aman) menunjukkan lemahnya pranata di tingkat komunitas desa. Kelemahan ini disebabkan karena penyeragaman struktur pemerintahan desa selama masa Orde Baru serta akibat konflik yang memunculkan perasaan saling curiga dan ketakutan di antara warga masyarakat desa. Dalam kondisi konflik, peran dan posisi Geuchik sebagai kepala pemerintahan di desa juga tidak maksimal karena unsur ketakutan, baik terhadap TNI atau GAM, sering lebih dominan daripada keberpihakan terhadap masyarakat desa. Bagi TNI dan GAM, desa menjadi ajang pertarungan politik berupa tuntutan loyalitas dan pengaruh politik serta kepentingan ideologi (budaya & struktur tradisional Aceh vs orientasi politik pemerintahan Orde Baru). Ketakutan serta strategi militer yang membatasi ruang gerak masyarakat sipil juga membatasi kebebasan bergerak serta berkumpul masyarakat desa, sehingga pertemuan-pertemuan di tingkat desa untuk membahas kesejahteraan desa juga sering tidak bisa terlaksana. Selain itu, di beberapa desa tingkat kepercayaan masyarakat terhadap aparat pemerintah desa sangat rendah terbukti dari tuduhan korupsi yang sering dilontarkan kepada perangkat desa, meskipun di desa-desa lain perangkat desa mendapat kepercayaan dari warganya.
Sering kita temui keadaan
dimasyarakat pada kondisi tertentu yang diwarnai oleh adanya
persamaan-persamaan dalam berbagai hal. Tetapi juga didapati
perbedaan-perbedaan dan bahkan sering kita temui pertentangan-pertentangan.
Perbedaan kepentingan sebenarnya merupakan sifat naluriah disamping adanya
persamaan kepentingan.
Dari perbedaan – perbedaan
timbul diskriminasi untuk memenangkan pentingan pribadi maupun golongan.
Contohnya seseorang yang melakukan korupsi untuk kepentingan dirinya maupun
kepentingan golongan yang merugikan masyarakat banyak.
Contohnya diskriminasi lainnya adalah diskriminasi ras yang berkembang di kawasan Afrika dan sekitarnya membuat kawasan ini selalu bergolak. Konflik-konflik antar suku, antar ras tak dapat dihindarkan. Lebih jauh antara kelompok minoritas kulit putih dengan kekuasaan dan kekuatan bersenjata yang lebih tangguh, saling baku hantam dengan kelompok mayoritas orangorang kulit hitam. Tindak kekerasan di Afrika jelas-jelas merupakan manifestasi dari pertentangan sosial yang berlarur – larut.
Contohnya diskriminasi lainnya adalah diskriminasi ras yang berkembang di kawasan Afrika dan sekitarnya membuat kawasan ini selalu bergolak. Konflik-konflik antar suku, antar ras tak dapat dihindarkan. Lebih jauh antara kelompok minoritas kulit putih dengan kekuasaan dan kekuatan bersenjata yang lebih tangguh, saling baku hantam dengan kelompok mayoritas orangorang kulit hitam. Tindak kekerasan di Afrika jelas-jelas merupakan manifestasi dari pertentangan sosial yang berlarur – larut.
Hal ini disebabkan oleh
Orang-orang kuli putih berprasangka negatif terhadap orang-orang Negro,
berlatar belakang pada sejarah masa lampau, bahwa orang-orang kulit putih
sebagai tuan dan orang-orang Negro berstatus sebagai budak. Walaupun reputasi
dan prestasi orang-orang Negro dewasa ini cukup dapat dibanggakan, terutama
dalam bidang olah raga, akan tetapi prasangka terhadap orang-orang Negro
sebagai biangkeladi kerusuhan dan keonaran belum sirna sampai dengan
generasi-generasi sekarang ini.
Oleh sebab itu seharusnya
pemerintah melakukan Pemerataan pembangunan dan usaha peningkatan pendapatan
bagi warganya agar tidak terjadi konflik lalu mengurangi adanya
kesenjangan-kesenjangan social yang memicu tindakan diskriminasi.
Selain itu kita juga harus menjauh kan diri dari sifat Etnosentrisme yang menganggap sesuatu itu lebih bagus dari yang lain agar tidak terjadi konflik. Contoh perang antar suku yang masing – masing suku mengagung – agungkan sesuatu yang dianggap bagus dari segalanya.
Selain itu kita juga harus menjauh kan diri dari sifat Etnosentrisme yang menganggap sesuatu itu lebih bagus dari yang lain agar tidak terjadi konflik. Contoh perang antar suku yang masing – masing suku mengagung – agungkan sesuatu yang dianggap bagus dari segalanya.
Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Contoh 1 :
Sebuah ilmu adalah bekal hidup kita
untuk mencapai kesuksesan. Ilmu tersebut akan dibawa dan terbawa dimanapun kita
berada. Ilmu tidak hanya pelajaran (akademik) saja, tetapi juga non-akademik
seperti pengetahuan umum yang tidak dipelajari di jenjang pendidikan seperti
sekolah, kuliah. Semakin banyak ilmu yang kita punya, semakin banyak
teman-teman kita yang belajar dengan kita. Olahraga pun juga disebut ilmu,
misalkan Sea Games yang diadakan di Indonesia saat ini.
Tentu saja untuk meraih sebuah ilmu
membutuhkan suatu kecanggihan atau teknologi. Dengan teknologi yang canggih,
akan mempermudah kita untuk semakin cepat meraih ilmu yang kita ingin dalami.
Saya beri contoh yang paling sering kita perhatikan: Handphone. Zaman dahulu
kala sangat susah untuk berkomunikasi dengan teman kita yang dekat maupun jauh.
Masih mengirim pesan dengan surat
melalui pos.
Sekarang zaman sudah berbeda.
Mengirim sms bisa melalui handphone, bahkan melalui computer dengan adanya
program dan standar koneksi internet saja sudah bisa mengirim sms. Dari cerita
disini terbukti bahwa kecanggihan teknologi sangat memudahkan kita. Untuk
memperdalam kecanggihan teknologi tentunya kita juga harus belajar untuk
memahaminya.
Sayangnya kemiskinan juga masih
banyak di sekitar kita. Tidak mampu untuk membeli kebutuhan utama seperti
makanan, pakaian, pendidikan dan kesehatan. Permasalahan dalam keuangan dan
pendidikan adalah faktor utama dari timbulnya kemiskinan. Uang adalah
segalanya. Dengan uang, kita bisa melakukan apapun yang kita inginkan. Begitu
juga dengan meraih ilmu. Hidup itu keras, zaman sekarang orang yang punya
segalanya, dialah yang berkuasa. Kecanggihan ilmu teknologi tidak / bahkan
jarang masuk ke ruang lingkup kemiskinan disebabkan karena keterbatasan
finansial dan pendidikan. Seharusnya pemerintah melakukan pergerakan untuk
mengurangi kemiskinan ini dan harus memikirkan dan mengutamakan kepentingan
kesejahteraan rakyat, jangan hanya ingin berkomunikasi atau berjabat tangan dengan
yang sederajat saja.
Contoh 2 :
Perkembangan
ilmu pengetahuan teknologi sangat pesat pada masa kini karena dari teknologi
banyak orang dapat melihat dunia, ini yang merupakan bagian dari teknologi
komputer yang di sambungkan dengan fasilitas yang dinamakan internet. Semua
orang yang menggunakannya dapat dengan mudah mecari apa yang dia inginkan
sesuai dengan kebutuhannya. Bicara kaitan antara ilmu
pengetahuan teknologi dan kemiskinan pasti banyak semua orang mengira bahwa dua
masalah di atas tidak ada kaitannya. Tapi yang sebenarnya terjadi antara ilmu
pengatahuan teknologi dan kemiskinan sangat banyak keterkaitannya. Ini semua
dapat kita lihat dari kehidupan yang terjadi di dunia teknologi negeri ini.
Hampir semua pengguna dan penikmat teknologi di negeri ini sebagian besar
menyukai produk-produk teknologi yang berasal dari luar Indonesia. Ya…
mungkin memang produk luar lebih baik dari produk dalam negeri dilihat dari
kwalitasnya. Akan tetapi ini semua lah yang menggambarkan betapa miskinnya anak
negeri akan kreatifitas teknologi. Entah benar atau tidak, miskinnya anak
negeri ini dengan kreatifitas teknologi. Semua itu dapat kita lihat lagi pada
sisi lainnya. Ketika anak negeri ini menciptakan karya teknologi banyak semua
pihak yang terkadang meragukan hasil dari kreatifitas anak negeri ini.
Disinilah terlihat begitu suramnya kemiskinan menyelimuti. Kmiskinan yang
terjadi diantaranya, miskin akan kepercayaan terhadap anak negeri sendiri yang
lebih parahnya lagi anak negeri ini menjadi miskin semangat untuk
berkreatifitas di bidang teknologi maupun yang lainnya. Dari semua penjelasan
yang ada di atas, timbul lah sebuah pertanyaan. Apakah benar kita semua ini
cinta INDONESIA?,
silahkan anda jawab dan lihat pada diri anda masing-masing. Ya… memang tidak
mudah untuk membuktikan bahwa kita cinta Indonesia. Semoga dengan tulisan
ini kita semua dapat merenung bahwa sesungguhnya kemiskinan memang sudah
benar-benar melekat pada negeri ini dan bagaimana caranya untuk kita sama-sama
bangkit membangun negeri ini menjadi negeri yang maju. Mulailah dari sekarang
memberi kepercayaan pada anak negeri ini untuk sesalu berkarya dan berilah
penghargaan dengan cara kita gunakan hasil karya yang anak negeri ini ciptakan.
Tulisan ISD tentang Agama dan
Masyarakat
Selama
satu decade di akhir abad 20, beberapa konflik meledak di banyak wilayah
dunia,terutama Indonesia.
Menurut pandangan banyak analis politik dan ilmuwan social, era perang dingin
dan konflik ideologis telah menghantarkan pada era perang etnik dan konflik
kebudayaan. Konflik etnik adalah gambaran yang tak dapat ditolak dalam panorama
sosio-politik kontemporer.
Mobilitas
penduduk dari satu daerah ke daerah lain, ditunjang oleh perkembangan
modernitas seperti : kemudahan
transportasi, tekhnologi informasi dan media cetak maupun elektronik, serta
program transmigrasi dari pemerintah menimbulkan pergeseran nilai-nilai budaya antar etnis
terasa sebagai “cultural shock,
mengingat adanya kesenjangan budaya yang demikian besar antar etnis di Indonesia.
Pergeseran dari interaksi nilah yang menimbulkan riak-riak kecil, yang dapat
merupakan ancaman budaya dan agama masyarakat, ketika kepentingan lain juga
memasuki wilayah itu, misalnya : kepentingan ekonomi dan bahkan kepentingan
politik.
Ditinjau
dari aspek budaya, adanya perbedaan budaya yang dimanifestasikan dalam bentuk
perilaku manusia, temperamen maupun emosi sangat kasat mata bentuknya. Budaya
dan tradisi yang sudah turun-temurun mengalami semacam ancaman dengan
pergeseran dan datangnya kultur-kultur yang baru. Kesenjangan sosial baik
karena faktor ekonomi maupun politik, tingkat pendidikan yang tidak seimbang,
heterogen agama dan pemahamannya serta kepentingan-kepentingan politik yang menyertainya,
menimbulkan ketegangan-ketegangan konflik dalam masyarakat, yang mana
nilai-nilai agama dan umat beragama dapat terlibat secara langsung.
Peristiwa-peristiwa
yang terjadi di Indonesia,
meskipun sering dibantah atau ditutup-tutupi, sesungguhnya membenarkan bahwa
memang ada aspek agama yang menyertai konflik, meskipun konflik itu berawal
dari masalah di luar agama.
Melihat
kehadiran agama yang merembes di berbagai daerah konflik etnik, bukan berarti
bahwa agama sebagai penjelasan terbaik tentang konflik-konflik tersebut. Hanya
karena suatu faktor (dalam kasus agama) hadir dalam kasus tertentu, tidak
berarti ia dominan atau utama,
faktor-faktor lain bisa jadi lebih dominan. Perbedaan sosio-ekonomi
antara kelompo kelompok etnik itu sendiri dapat memberikan penjelasan yang
tepat bagi hampir semua konflik etnik.
Hubungan
sebab-akibat antara agama dan konflik etnik adalah persoalan yang cukup
problematik. Dalam banyak kasus, agama adalah etnisitas, identitas agama
merupakan unsur utama pembentuk identitas etnik.
Identitas agama pada umumnya
ditransformasi menjadi identitas etnik dalam waktu yang panjang. Suatu agama
sering memulainya sebagai kredo/keyakinan abstrak dengan tampilan dan ruang
lingkup universal. Kemudian agama mengkristal menjadi seperangkat ritual dan
kebiasaan yang lebih kongkret yang membedakan komunits tertentu dari komunitas
lainnya. Kemudian komunitas agama menjadi komunitas etnik. Inilah yang
menyebabkan adanya pandangan bahwa agama adalah sebuah budaya, padahal agama
adalah wahyu Tuhan yang masuk membenahi budaya-budaya yang ada.
Dalam
konflik-konflik masyarakat, agama dikatakan Komarudin Hidayat, datang dengan
wajah ganda, sebagai kekuatan konstruktif sekaligus destruktif, sebagai
pendorong perdamaian sekaligus kerusuhan.Akan
tetapi pada saat konflik terjadi agama kurang begitu berperan dan dipandang
sebagai kekuatan destruktif, karena dituding sebagai akar dari gejolak konflik,
sedangkan peran konstruktif baru muncul saat setelah konflik berakhir. Disini
agama berperan sebagai pendamai melalui berbagai dialog antar umat beragama,
peran tokoh-tokoh agama dan lembaga-lembaga keagamaan.
Sedangkan
dalam buku Agama dan Keberagamaan,
berpendapat bahwa, konflik masyarakat ini masalahnya bukan karena agama datang
dengan menimbulkan konflik/sebagai akar masalah, dan tampil tanpa moral dan
nilai-nilai kesusilaan, tetapi karena para pemeluknya telah mengekspresikan
kebenaran agamanya secara monolitik dan ekslusif dalam artian bahwa
subjektivitas kebenaran yang diyakininya sering kali menafikan kebenaran yang
diyakini pihak lain, padahal hakekatnya esensi semua agama adalah mengajak pada
kebenaran yang mutlak yaitu tuhan YME.