UNIVERSITY GUNADARMA CAMPUS J

Tugas dan Tulisan ISD 7-10

Tugas ISD BAB 7-10



Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan
Masyarakat Pedesaan
Masyarakat adalah kelompok yang terorganisasi atau bisa juga masyarakat itu suatu kelompok yang berpikir tentang dirinya sendiri yang berbeda dengan kelompok yang lain. Oleh karena itu orang yang berjalan bersama-sama atau duduk bersama-sama yang tidak terorganisasi bukanlah masyarakat. Kelompok yang tidak berpikir tentang kelompoknya sebagai suatu kelompok bukanlah masyarakat.
Syarat – syarat Menjadi Masyarakat :
1.      Berangotakan minimal dua orang.
2.      Anggotanya sadar sebagai satu kesatuan.
3.      Berhubungan dalam waktu yang cukup lama yang menghasilkan manusia baru yang saling berkomunikasi dan membuat aturan-aturan hubungan antar anggota masyarakat.
4.      Menjadi sistem hidup bersama yang menimbulkan kebudayaan serta keterkaitan satu sama lain sebagai anggota masyarakat.
Menurut dirjen Bangdes (pembangunan desa) dalam Daljoeni (2003),  bahwa ciri – ciri wilayah desa antara lain:
1. Perbandingan lahan dengan manusia cukup besar (lahan desa lebih luas dari jumlah penduduknya, kepadatan rendah).
2. Lapangan kerja yang dominan adalah agraris (pertanian)
3. Hubungan antar warga amat akrab
4. Tradisi lama masih berlaku.
Menurut Shahab (2007),  secara umum ciri-ciri kehidupan masyarakat pedesaan dapat diidentifikasi sebagai berikut ;
1. Mempunyai sifat homogen dalam mata pencaharian, nilai-nilai dalam kebudayaan serta dalam sikap dan tingkah laku,
2. Kehidupan desa lebih menekankan anggota keluarga sebagai unit ekonomi yang berarti  semua anggota keluarga turut bersama-sama memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga,
3. Faktor geografi sangat berpengaruh atas kehidupan yang ada. Misalnya, keterikatan anggota keluarga dengan tanah atau desa kelahirannya,
4. Hubungan sesama anggota masyarakat lebih intim dan awet dari pada kota.
Masyarakat Perkotaan
Masyarakat perkotaan sering disebut urban community. Pengertian masyarakat kota lebih ditekankan pada sifat kehidupannya serta ciri-ciri kehidupannya yang berbeda dengan masyarakat pedesaan. Ada beberap ciri yang menonjol pada masyarakat kota yaitu :
Kehidupan keagamaan berkurang bila dibandingkan dengan kehidupan keagamaan di desa.
Orang kota pada umumnya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa harus bergantung padaorang lain. Yang penting disini adalah manusia perorangan atau individu.
Pembagian kerja di antara warga-warga kota juga lebih tegas dan mempunyai batas-batas yang nyata.
Kemungkinan-kemungkinan untuk mendapatkan pekerjaan juga lebih banyak diperoleh warga kota dari pada warga desa.
Interaksi yang terjadi lebih banyak terjadi berdasarkan pada faktor kepentingan dari pada faktor pribadi.
Pembagian waktu yang lebih teliti dan sangat penting, untuk dapat mengejar kebutuhan individu.
Perubahan-perubahan sosial tampak dengan nyata di kota-kota, sebab kota biasanya terbuka dalam menerima pengaruh dari luar.
Perbedaan Pedesaan dan perkotaan
Adapun perbedaan antara masyarakat pedesaan dan perkotaan
Dari segi mata pencaharian
Pada umumya masyarakat pedesaan bekerja sebagai petani,berkebun,dan beternakCoba kita bandingkan dengan dikota yang semuanya serba teknologi begitupun dengan mata pencaharian masyarakat perkotaan yang hampir seluruhnya berada di sektor industri. 
Dari segi Lingkungan
lihatlah betapa macetnya lingkungan di perkotaan dan udara yang kurang sehat.Dan coba bandingkan dengan di daerah pedesaan indah sejuk dan nyaman
Pertentangan Sosial dan Integrasi
Hidup bermasyarakat yaitu sebuah hubungan antar individu-individu maupun antar kelompok dan golongan yang terjadi dalam proses kehidupan. Hidup bermasyarakat juga berarti kehidupan dinamis, dimana setiap anggota masyarakat salaing berinteraksi. Hubungan antar individu ini pun diikat oleh ikatan yang berupa norma serta nilai-nilai yang telah dibuat bersama para anggota.
Norma dan nilai-nilai inilah yang menjadi alat pengendali agar para anggota masyarakat tidak terlepas dari rel ketentuan yang telah disepakati itu. Solidaritas, toleransi dan tenggang rasa adalah bukti kuatnya ikatan itu. Sakit salah satu anggota masyarakat akan dirasakan oleh anggota masyarakat lainnya. Dari hubungan seperti itulah lahir keharmonisan dalam hidup bermasyarakat.
Pada kenyataannya tidak semua masyarakat membentuk sebuah harmonisasi. Pada 
kondisi-kondisi tertentu hubungan antara masyarakat diwarnai berbagai persamaan.
Namun sering juga didapati perbedaan-perbedaan, bahkan pertentangan dalam masyarakat. Hal-hal seperti itulah yang menimbulkan perpecahan dalam masyarakat. Salah satu contohnya adalah Pertentangan sosial dan integrita masyarakat
pertentang sosial menurut saya adalah suatu konflik yang terjadi didalam suatu lingkungan masyarakat. Dimana ada suatu kelompok yang tidak menyukai kelompok lain, sehingga menimbulkan suatu perselisihan diantara mereka. Banyak sekali pertentangan sosial yang terjadi di Dunia ini. Seperti contohnya perak Irak yang kunjung selesai, dan kalau menusuri indonesia contohnya GAM (Gerakan Aceh Merdeka), PT.freepot yang terjadi di Papua.
Adapun Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya pertentangan sosial:
·         Rasa Iri antara individu,negara, dan masyarakat
·         Adanya rasa tidak puas masyarakat terhadap kepemerintahan
·         Banyak adu domba antara politik,agama,suku serta budaya
Integrasi Masyarakat
Integrasi berasal dari bahasa inggris “integration” yang berarti kesempurnaan atau keseluruhan. integrasi sosial dimaknai sebagai proses penyesuaian di antara unsur-unsur yang saling berbeda dalam kehidupan masyarakat sehingga menghasilkan pola kehidupan masyarakat yang memilki keserasian fungsi.
Definisi lain mengenai integrasi adalah suatu keadaan di mana kelompok-kelompok etnik beradaptasi dan bersikap komformitas terhadap kebudayaan mayoritas masyarakat, namun masih tetap mempertahankan kebudayaan mereka masing-masing. Integrasi memiliki 2 pengertian, yaitu :
1.      Pengendalian terhadap konflik dan penyimpangan sosial dalam suatu sistem sosial tertentu

2.      Membuat suatu keseluruhan dan menyatukan unsur-unsur tertentu.Sedangkan yang disebut integrasi sosial adalah jika yang dikendalikan, disatukan, atau dikaitkan satu sama lain itu adalah unsur-unsur sosial atau kemasyarakatan.
Suatu integrasi sosial di perlukan agar masyarakat tidak bubar meskipun menghadapi berbagai tantangan, baik merupa tantangan fisik maupun konflik yang terjadi secara sosial budaya..Menurut pandangan para penganut fungsionalisme struktur sistem sosial senantiasa terintegrasi di atas dua landasan berikut :
Suatu masyarakat senantiasa terintegrasi di atas tumbuhnya konsensus (kesepakatan) di antara sebagian besar anggota masyarakat tentang nilai-nilai kemasyarakatan yang bersifat fundamental (mendasar).Masyarakat terintegrasi karena berbagai anggota masyarakat sekaligus menjadi anggota dari berbagai kesatuan sosial (cross-cutting affiliation). Setiap konflik yang terjadi di antara kesatuan sosial dengan kesatuan sosial lainnya akan segera dinetralkan oleh adanya loyalitas ganda (cross-cutting loyalities) dari anggota masyarakat terhadap berbagai kesatuan sosial.
Penganut konflik berpendapat bahwa masyarakat terintegtrasi atas paksaan dan karena adanya saling ketergantungan di antara berbagai kelompok.Integrasi sosial akan terbentuk apabila sebagian besar masyarakat memiliki kesepakatan tentang batas-batas teritorial, nilai-nilai, norma-norma, dan pranata-pranata sosial
A. Faktor Internal :
kesadaran diri sebagai makhluk sosial
tuntutan kebutuhan
jiwa dan semangat gotong royong
B. Faktor External :
Tuntutan perkembangan zaman
persamaan kebudayaan
terbukanya kesempatan berpartisipasi dalam kehidupan bersama
persaman visi, misi, dan tujuan
sikap toleransi
adanya kosensus nilai
adanya tantangan dari luar
Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Ilmu menjawab pertanyaan “why” dan “how” sedangkan filsafat menjawab pertanyaan “why, why, dan why” dan seterusnya sampai jawaban paling akhir yang dapat diberikan oleh pikiran atau budi manusia (munkin juga pertanyaan-pertanyaannya terus dilakukan sampai never ending)..n oleh Heidegger, setiap telaahan filosofis terdapat unsur metafisik :

1. ilmu adalah pengetahuan yang bersifat umum dan sistematis, pengetahuan dari mana dapat disimpulkan dalil-dalil tertentu menurut kaidah-kaidah umum. (Nazir, 1988)
2. konsepsi ilmu pada dasarnya mencakup tiga hal, yaitu adanya rasionalitas, dapat digeneralisasi dan dapat disistematisasi (Shapere, 1974)
3. pengertian ilmu mencakup logika, adanya interpretasi subjektif dan konsistensi dengan realitas sosial (Schulz, 1962)
4. ilmu tidak hanya merupakan satu pengetahuan yang terhimpun secara sistematis, tetapi juga merupakan suatu metodologi

Empat pengertian di atas dapatlah disimpulkan bahwa ilmu pada dasarnya adalah pengetahuan tentang sesuatu hal atau fenomena, baik yang menyangkut alam atau sosial (kehidupan masyarakat), yang diperoleh manusia melalui proses berfikir. Itu artinya bahwa setiap ilmu merupakan pengetahun tentang sesuatu yang menjadi objek kajian dari ilmu terkait.
Ilmu Pengetahuan adalah suatu proses pemikiran dan analisis yang rasional, sistimatik, logik dan konsisten. Hasilnya dari ilmu pengetahuan dapat dibuktikan dengan percobaan yang transparan
dan objektif. Ilmu pengetahuan mempunyai spektrum analisis amat luas, mencakup persoalan yang sifatnya supermakro, makro dan mikro. Hal ini jelas terlihat, misalnya pada ilmu-ilmu: fisika, kimia, kedokteran, pertanian, rekayasa, bioteknologi, dan sebagainya.
Definisi Teknologi


Teknologi atau pertukangan memiliki lebih dari satu definisi. Salah satunya adalah pengembangan dan aplikasi dari alat, mesin, material dan proses yang menolong manusia menyelesaikan masalahnya. Sebagai aktivitas manusia, teknologi mulai dikenal sebelum sains dan teknik.

Teknologi dibuat atas dasar ilmu pengetahuan dengan tujuan untuk mempermudah pekerjaan manusia, namun jika pada kenyataannya teknologi malah mempersulit, layakkah disebut Ilmu Pengetahuan?
Kata teknologi sering menggambarkan penemuan dan alat yang menggunakan prinsip dan proses penemuan saintifik yang baru ditemukan. Meskipun demikian, penemuan yang sangat lama seperti roda juga disebut sebuah teknologi.
Teknologi adalah satu ciri yang mendefinisikan hakikat manusia yaitu bagian dari sejarahnya meliputi keseluruhan sejarah. Teknologi, menurut Djoyohadikusumo (1994, 222) berkaitan erat dengan sains (science) dan perekayasaan (engineering). Dengan kata lain, teknologi mengandung dua dimensi, yaitu science dan engineering yang saling berkaitan satu sama lainnya. Sains mengacu pada pemahaman kita tentang dunia nyata sekitar kita, artinya mengenai ciri-ciri dasar pada dimensi ruang, tentang materi dan energi dalam interaksinya satu terhadap lainnya.

Pengertian Kemiskinan


Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan , pakaian , tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan. Kemiskinan merupakan masalah global. Sebagian orang memahami istilah ini secara subyektif dan komparatif, sementara yang lainnya melihatnya dari segi moral dan evaluatif, dan yang lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan.

Ciri-ciri manusia yg berada di bawah kemiskinan :
1.                  Tidak memiliki factor-faktor produksi sendiri seperti tanah, modal, ketrampilan.
2.                  DllTidak memiliki kemungkinan untuk memperoleh asset produksi dengan kekuatan
3.                  sendiri, seperti untuk memperoleh tanah garapan ataua modal usahaTingkat pendidikan mereka rendah, tidak sampai taman SD.
4.                  Kebanyakan tinggal di desa sebagai pekerja bebas
Banyak yang hidup di kota berusia muda, dan tidak mempunyai ketrampilan
Agama Dan Masyarakat
Tentang Agama
Agama bukanlah suatu entitas independen yang berdiri sendiri. Agama terdiri dari berbagai dimensi yang merupakan satu kesatuan. Masing-masingnya tidak dapat berdiri tanpa yang lain. seorang ilmuwan barat menguraikan agama ke dalam lima dimensi komitmen. Seseorang kemudian dapat diklasifikasikan menjadi seorang penganut agama tertentu dengan adanya perilaku dan keyakinan yang merupakan wujud komitmennya. Ketidakutuhan seseorang dalam menjalankan lima dimensi komitmen ini menjadikannya religiusitasnya tidak dapat diakui secara utuh. Kelimanya terdiri dari perbuatan, perkataan, keyakinan, dan sikap yang melambangkan (lambang=simbol) kepatuhan (=komitmen) pada ajaran agama. Agama mengajarkan tentang apa yang benar dan yang salah, serta apa yang baik dan yang buruk.
Agama berasal dari Supra Ultimate Being, bukan dari kebudayaan yang diciptakan oleh seorang atau sejumlah orang. Agama yang benar tidak dirumuskan oleh manusia. Manusia hanya dapat merumuskan kebajikan atau kebijakan, bukan kebenaran. Kebenaran hanyalah berasal dari yang benar yang mengetahui segala sesuatu yang tercipta, yaitu Sang Pencipta itu sendiri. Dan apa yang ada dalam agama selalu berujung pada tujuan yang ideal. Ajaran agama berhulu pada kebenaran dan bermuara pada keselamatan. Ajaran yang ada dalam agama memuat berbagai hal yang harus dilakukan oleh manusia dan tentang hal-hal yang harus dihindarkan. Kepatuhan pada ajaran agama ini akan menghasilkan kondisi ideal.

Tulisan ISD BAB 7-10


Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan
Contoh 1 :
Masyarakat pedesaan biasanya memiliki sifat kekeluargaan, saling bantu membantu, gotong-royong dan lain-lain. Mereka tidak suka menonjolkan diri dalam artian merasa lebih baik dari yang lain. Dan mereka memiliki kekompakan yang sangat solid dibandingkan dengan masyarakat perkotaan. Seperti yang bisa kita lhat, masyarakat pedesaan pada umumnya masih terika tali persaudaraan di dalam masyarakatnya. Mungkin seseorang mempunyai saudara di dekat rumahnya (tetangga). Maka dari itu masyarakat desa biasanya lebih mementingkan hubungan kekeluargaan daripada persaiangan antar anggota masyarakat terebut. Karna menurut masyarakat pedesaan persaingan dapat merusak hubungan kekeluarhgaan diantara mereka.
           
Masyarakat perkotaan mereka biasanya tidak mencampurkan antara hal-hal yang bersifat rasional dan emosional. Masyarakat perkotaan iasanya lebih individual, jadi mereka lebih memilih mengurusi kepentingan pribadi daripada harus bergantung dengan orang lain. Karna masyarakat perkotaan tidak seperti masyarakat pedesaan yang menganggap bahwa mereka adalah masih satu keluarga jadi solidaritas diantara masyarakat perkotaan itu kurang, karna banyak sekali persaingan di dalamnya, mereka ingin di puji dan juga dihormati oleh orang lain maka mereka bersaing agar mendapat hal itu semua. Jangankan yang seperti itu mereka dengan tetangga saja bahkan ada yang sampai tidak saling mengenal khususnya perumahan elit yang dihuni oleh orang-orang kaya yang sibuk dengan pekerjaan dan urusan masing-masing sehingga tidak dapat bersosialisasi dan juga bergaul dengan masyarakatnya.
Maka dengan masalah seperti urbanisasi hubungan antara masyarakat perkotaan dan masyarakat pedesaan harus saling menguntungkan (simbiosis mutualisme) sehingga segala sesuatu yang di butuhkan oleh keduanya harus saling berkaitan agar kehidupan masyarakat pedesaan atau perkotaan dapat seimbang seperti masyarakat pedesaan memberikan bahan mentah atau barang yang akan diolah oleh masyarakat kota yang nantinya masyarakat pedesaan yang akan menggunakannya.
Contoh 2 :
Kota Jakarta, dengan segudang aktifitas penduduknya, dengan milyaran uang yang berputar setiap harinya, dengan banyaknya jumlah penduduk di dalamnya, dengan kualitas pendidikan yang terjamin, banyak yang bilang bahwa masyarakat di perkotaan lah yang merajai atau menempati tingkat kasta tertinggi di suatu negara. Akan tetapi, pada era sekarang ini, masyarakat desa juga tidak mau ketinggalan dengan masyarakat perkotaan hampir di setiap aspek kehidupannya.
Sebagai contoh untuk masyarakat perkotaan, Jakarta, apa yang kita inginkan tersedia, terkecuali lapangan pekerjaan yang sudah minim. Akan tetapi, di Jakarta, banyak orang-orang yang larut akan pekerjaan, hingga melupakan kewajiban beragama. Untuk yang beragama Islam, kesibukan-kesibukan yang dialami oleh masyarakat perkotaan membuat orang lupa akan kewajiban beragamanya seperti sholat 5 waktu. Untuk yang beragama non-Islam, ditengah-tengah kesibukan nya membuat orang lupa untuk mengunjungi tempet-tempat ibadahnya masing-masing.
Disamping itu, masyarakat perkotaan,  masyarakat yang bertempat tinggal di kota yang tak pernah mati, membuat hubungan antar lingkungan sekitarnya diabaikan, atau dapat dibilang sudah hilang.
Sebagai makhluk social, manusia membutuhkan orang lain untuk dapat hidup, dan berinteraksi. Sudah merupakan kodratnya atau takdirnya manusia untuk berinteraksi dengan manusia lainnya. Jika tidak dapat menjalankan takdirnya denga baik sebagai makhluk social, manusia tentu akan mengalami kesulitan untuk bertahan hidup. Tidak adanya komunikasi antar tetangga di lingkungan sekitar tempat tinggal kita, akan menimbulkan beberapa masalah “misunderstanding” antara kita dengan para tetangga.
Sedangkan masyarakat pedesaan adalah masyarakat yang bertempat tinggal di desa-desa, yang awalnya jauh dari kesan modern, jauh dari listrik, jauh dari hiruk pikuknya perkotaan, dan damai akan kehidupan sekitarnya, serta masih berpegang teguh dengan agama dan adat istiadat di setiap daerahnya. Masyarakat pedesaan umumnya lebih mementingkan kepentingan umum daripada kepentingan pribadinya.
Sebagai contoh, saya mengambil contoh masyarakat pedesaan di pedalaman Papua. Dalam masyarakat ini, mereka masih berpegang teguh dengan kepercayaannya, mereka masih berpegang teguh atas nenek moyangnya terdahulu. Mereka masih setia, disiplin, dan tetap menjaga adat istiadat mereka. Mereka tetap mengadakan berbagai upacara-upacara adat istiadat mereka di setiap kepentingan-kepentingan kehidupan mereka. Selain itu, di dalam masyarakat pedesaan juga memiliki kekerabatan yang sangat erat antara penduduk yang satu denga penduduk yang lainnya. Sebagai contoh, jika di dalam masyarakat pedesaan ada salah satu warganya yang mengadakan hajatan atau acara semisal perkawinan, nah, masyarakat pedesaan itu atau tetangga-tetangganya akan bergotong royong untuk membantu si empunya hajatan agar penyelenggaraan hajatan tersebut dapat berjalan dengan baik, salah satu bentuk gotong royong tersebut diantarannya mendirikan tenda, memasak makanan yang akan disajikan kepada para tamu, serta membongkar tenda yang sudah terpakai, dll. Tentunnya kebiasaan atau adat ini, sangatlah sulit ditemukan di dalam masyarakat perkotaan
Pertentangan Sosial dan Integrasi
Kondisi Sosial Masyarakat Paska Konflik Di Aceh Timur

Penelitian YAPPIKA di sepuluh kabupaten di NAD, termasuk Aceh Timur (Kecamatan Peureulak dan Darul Aman) menunjukkan lemahnya pranata di tingkat komunitas desa. Kelemahan ini disebabkan karena penyeragaman struktur pemerintahan desa selama masa Orde Baru serta akibat konflik yang memunculkan perasaan saling curiga dan ketakutan di antara warga masyarakat desa. Dalam kondisi konflik, peran dan posisi Geuchik sebagai kepala pemerintahan di desa juga tidak maksimal karena unsur ketakutan, baik terhadap TNI atau GAM, sering lebih dominan daripada keberpihakan terhadap masyarakat desa. Bagi TNI dan GAM, desa menjadi ajang pertarungan politik berupa tuntutan loyalitas dan pengaruh politik serta kepentingan ideologi (budaya & struktur tradisional Aceh vs orientasi politik pemerintahan Orde Baru). Ketakutan serta strategi militer yang membatasi ruang gerak masyarakat sipil juga membatasi kebebasan bergerak serta berkumpul masyarakat desa, sehingga pertemuan-pertemuan di tingkat desa untuk membahas kesejahteraan desa juga sering tidak bisa terlaksana. Selain itu, di beberapa desa tingkat kepercayaan masyarakat terhadap aparat pemerintah desa sangat rendah terbukti dari tuduhan korupsi yang sering dilontarkan kepada perangkat desa, meskipun di desa-desa lain perangkat desa mendapat kepercayaan dari warganya.
Sering kita temui keadaan dimasyarakat pada kondisi tertentu yang diwarnai oleh adanya persamaan-persamaan dalam berbagai hal. Tetapi juga didapati perbedaan-perbedaan dan bahkan sering kita temui pertentangan-pertentangan. Perbedaan kepentingan sebenarnya merupakan sifat naluriah disamping adanya persamaan kepentingan.
Dari perbedaan – perbedaan timbul diskriminasi untuk memenangkan pentingan pribadi maupun golongan. Contohnya seseorang yang melakukan korupsi untuk kepentingan dirinya maupun kepentingan golongan yang merugikan masyarakat banyak.
Contohnya diskriminasi lainnya adalah diskriminasi ras yang berkembang di kawasan Afrika dan sekitarnya membuat kawasan ini selalu bergolak. Konflik-konflik antar suku, antar ras tak dapat dihindarkan. Lebih jauh antara kelompok minoritas kulit putih dengan kekuasaan dan kekuatan bersenjata yang lebih tangguh, saling baku hantam dengan kelompok mayoritas orangorang kulit hitam. Tindak kekerasan di Afrika jelas-jelas merupakan manifestasi dari pertentangan sosial yang berlarur – larut.
Hal ini disebabkan oleh Orang-orang kuli putih berprasangka negatif terhadap orang-orang Negro, berlatar belakang pada sejarah masa lampau, bahwa orang-orang kulit putih sebagai tuan dan orang-orang Negro berstatus sebagai budak. Walaupun reputasi dan prestasi orang-orang Negro dewasa ini cukup dapat dibanggakan, terutama dalam bidang olah raga, akan tetapi prasangka terhadap orang-orang Negro sebagai biangkeladi kerusuhan dan keonaran belum sirna sampai dengan generasi-generasi sekarang ini.

Oleh sebab itu seharusnya pemerintah melakukan Pemerataan pembangunan dan usaha peningkatan pendapatan bagi warganya agar tidak terjadi konflik lalu mengurangi adanya kesenjangan-kesenjangan social yang memicu tindakan diskriminasi.
Selain itu kita juga harus menjauh kan diri dari sifat Etnosentrisme yang menganggap sesuatu itu lebih bagus dari yang lain agar tidak terjadi konflik. Contoh perang antar suku yang masing – masing suku mengagung – agungkan sesuatu yang dianggap bagus dari segalanya.
Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Contoh 1 :
Sebuah ilmu adalah bekal hidup kita untuk mencapai kesuksesan. Ilmu tersebut akan dibawa dan terbawa dimanapun kita berada. Ilmu tidak hanya pelajaran (akademik) saja, tetapi juga non-akademik seperti pengetahuan umum yang tidak dipelajari di jenjang pendidikan seperti sekolah, kuliah. Semakin banyak ilmu yang kita punya, semakin banyak teman-teman kita yang belajar dengan kita. Olahraga pun juga disebut ilmu, misalkan Sea Games yang diadakan di Indonesia saat ini.
Tentu saja untuk meraih sebuah ilmu membutuhkan suatu kecanggihan atau teknologi. Dengan teknologi yang canggih, akan mempermudah kita untuk semakin cepat meraih ilmu yang kita ingin dalami. Saya beri contoh yang paling sering kita perhatikan: Handphone. Zaman dahulu kala sangat susah untuk berkomunikasi dengan teman kita yang dekat maupun jauh. Masih mengirim pesan dengan surat melalui pos.
Sekarang zaman sudah berbeda. Mengirim sms bisa melalui handphone, bahkan melalui computer dengan adanya program dan standar koneksi internet saja sudah bisa mengirim sms. Dari cerita disini terbukti bahwa kecanggihan teknologi sangat memudahkan kita. Untuk memperdalam kecanggihan teknologi tentunya kita juga harus belajar untuk memahaminya.
Sayangnya kemiskinan juga masih banyak di sekitar kita. Tidak mampu untuk membeli kebutuhan utama seperti makanan, pakaian, pendidikan dan kesehatan. Permasalahan dalam keuangan dan pendidikan adalah faktor utama dari timbulnya kemiskinan. Uang adalah segalanya. Dengan uang, kita bisa melakukan apapun yang kita inginkan. Begitu juga dengan meraih ilmu. Hidup itu keras, zaman sekarang orang yang punya segalanya, dialah yang berkuasa. Kecanggihan ilmu teknologi tidak / bahkan jarang masuk ke ruang lingkup kemiskinan disebabkan karena keterbatasan finansial dan pendidikan. Seharusnya pemerintah melakukan pergerakan untuk mengurangi kemiskinan ini dan harus memikirkan dan mengutamakan kepentingan kesejahteraan rakyat, jangan hanya ingin berkomunikasi atau berjabat tangan dengan yang sederajat saja.
Contoh 2 :
Perkembangan ilmu pengetahuan teknologi sangat pesat pada masa kini karena dari teknologi banyak orang dapat melihat dunia, ini yang merupakan bagian dari teknologi komputer yang di sambungkan dengan fasilitas yang dinamakan internet. Semua orang yang menggunakannya dapat dengan mudah mecari apa yang dia inginkan sesuai dengan kebutuhannya. Bicara kaitan antara ilmu pengetahuan teknologi dan kemiskinan pasti banyak semua orang mengira bahwa dua masalah di atas tidak ada kaitannya. Tapi yang sebenarnya terjadi antara ilmu pengatahuan teknologi dan kemiskinan sangat banyak keterkaitannya. Ini semua dapat kita lihat dari kehidupan yang terjadi di dunia teknologi negeri ini. Hampir semua pengguna dan penikmat teknologi di negeri ini sebagian besar menyukai produk-produk teknologi yang berasal dari luar Indonesia. Ya… mungkin memang produk luar lebih baik dari produk dalam negeri dilihat dari kwalitasnya. Akan tetapi ini semua lah yang menggambarkan betapa miskinnya anak negeri akan kreatifitas teknologi. Entah benar atau tidak, miskinnya anak negeri ini dengan kreatifitas teknologi. Semua itu dapat kita lihat lagi pada sisi lainnya. Ketika anak negeri ini menciptakan karya teknologi banyak semua pihak yang terkadang meragukan hasil dari kreatifitas anak negeri ini. Disinilah terlihat begitu suramnya kemiskinan menyelimuti. Kmiskinan yang terjadi diantaranya, miskin akan kepercayaan terhadap anak negeri sendiri yang lebih parahnya lagi anak negeri ini menjadi miskin semangat untuk berkreatifitas di bidang teknologi maupun yang lainnya. Dari semua penjelasan yang ada di atas, timbul lah sebuah pertanyaan. Apakah benar kita semua ini cinta INDONESIA?, silahkan anda jawab dan lihat pada diri anda masing-masing. Ya… memang tidak mudah untuk membuktikan bahwa kita cinta Indonesia. Semoga dengan tulisan ini kita semua dapat merenung bahwa sesungguhnya kemiskinan memang sudah benar-benar melekat pada negeri ini dan bagaimana caranya untuk kita sama-sama bangkit membangun negeri ini menjadi negeri yang maju. Mulailah dari sekarang memberi kepercayaan pada anak negeri ini untuk sesalu berkarya dan berilah penghargaan dengan cara kita gunakan hasil karya yang anak negeri ini ciptakan.
Tulisan ISD tentang Agama dan Masyarakat
Selama satu decade di akhir abad 20, beberapa konflik meledak di banyak wilayah dunia,terutama Indonesia. Menurut pandangan banyak analis politik dan ilmuwan social, era perang dingin dan konflik ideologis telah menghantarkan pada era perang etnik dan konflik kebudayaan. Konflik etnik adalah gambaran yang tak dapat ditolak dalam panorama sosio-politik kontemporer.
Mobilitas penduduk dari satu daerah ke daerah lain, ditunjang oleh perkembangan modernitas seperti  : kemudahan transportasi, tekhnologi informasi dan media cetak maupun elektronik, serta program transmigrasi dari pemerintah menimbulkan  pergeseran nilai-nilai budaya antar etnis terasa sebagai “cultural shock, mengingat adanya kesenjangan budaya yang demikian besar antar etnis di Indonesia. Pergeseran dari interaksi nilah yang menimbulkan riak-riak kecil, yang dapat merupakan ancaman budaya dan agama masyarakat, ketika kepentingan lain juga memasuki wilayah itu, misalnya : kepentingan ekonomi dan bahkan kepentingan politik.
Ditinjau dari aspek budaya, adanya perbedaan budaya yang dimanifestasikan dalam bentuk perilaku manusia, temperamen maupun emosi sangat kasat mata bentuknya. Budaya dan tradisi yang sudah turun-temurun mengalami semacam ancaman dengan pergeseran dan datangnya kultur-kultur yang baru. Kesenjangan sosial baik karena faktor ekonomi maupun politik, tingkat pendidikan yang tidak seimbang, heterogen agama dan pemahamannya serta kepentingan-kepentingan politik yang menyertainya, menimbulkan ketegangan-ketegangan konflik dalam masyarakat, yang mana nilai-nilai agama dan umat beragama dapat terlibat secara langsung.
Peristiwa-peristiwa yang terjadi di Indonesia, meskipun sering dibantah atau ditutup-tutupi, sesungguhnya membenarkan bahwa memang ada aspek agama yang menyertai konflik, meskipun konflik itu berawal dari masalah di luar agama.
Melihat kehadiran agama yang merembes di berbagai daerah konflik etnik, bukan berarti bahwa agama sebagai penjelasan terbaik tentang konflik-konflik tersebut. Hanya karena suatu faktor (dalam kasus agama) hadir dalam kasus tertentu, tidak berarti ia dominan atau utama,  faktor-faktor lain bisa jadi lebih dominan. Perbedaan sosio-ekonomi antara kelompo kelompok etnik itu sendiri dapat memberikan penjelasan yang tepat bagi hampir semua konflik etnik.
Hubungan sebab-akibat antara agama dan konflik etnik adalah persoalan yang cukup problematik. Dalam banyak kasus, agama adalah etnisitas, identitas agama merupakan unsur utama pembentuk identitas etnik. Identitas  agama pada umumnya ditransformasi menjadi identitas etnik dalam waktu yang panjang. Suatu agama sering memulainya sebagai kredo/keyakinan abstrak dengan tampilan dan ruang lingkup universal. Kemudian agama mengkristal menjadi seperangkat ritual dan kebiasaan yang lebih kongkret yang membedakan komunits tertentu dari komunitas lainnya. Kemudian komunitas agama menjadi komunitas etnik. Inilah yang menyebabkan adanya pandangan bahwa agama adalah sebuah budaya, padahal agama adalah wahyu Tuhan yang masuk membenahi budaya-budaya yang ada.
Dalam konflik-konflik masyarakat, agama dikatakan Komarudin Hidayat, datang dengan wajah ganda, sebagai kekuatan konstruktif sekaligus destruktif, sebagai pendorong perdamaian sekaligus kerusuhan.Akan tetapi pada saat konflik terjadi agama kurang begitu berperan dan dipandang sebagai kekuatan destruktif, karena dituding sebagai akar dari gejolak konflik, sedangkan peran konstruktif baru muncul saat setelah konflik berakhir. Disini agama berperan sebagai pendamai melalui berbagai dialog antar umat beragama, peran tokoh-tokoh agama dan lembaga-lembaga keagamaan.
Sedangkan dalam buku Agama dan Keberagamaan, berpendapat bahwa, konflik masyarakat ini masalahnya bukan karena agama datang dengan menimbulkan konflik/sebagai akar masalah, dan tampil tanpa moral dan nilai-nilai kesusilaan, tetapi karena para pemeluknya telah mengekspresikan kebenaran agamanya secara monolitik dan ekslusif dalam artian bahwa subjektivitas kebenaran yang diyakininya sering kali menafikan kebenaran yang diyakini pihak lain, padahal hakekatnya esensi semua agama adalah mengajak pada kebenaran yang mutlak yaitu tuhan YME.
 

Leave a Reply